Kue Merah Putih Ini Khas Dari Kota Islam Pertama di Indonesia

Kue Merah Putih Ini Khas Dari Kota Islam Pertama di Indonesia
info gambar utama

Kawan GNFI ada yang tahu Kota Islam pertama di Indonesia?

Tugu Titik 0 Islam Nusantara | Foto: lidahtinta.wordpress.com
info gambar

Adalah Barus, kota yang menjadi pintu masuk Islam ke tanah air. Di kota tersebut terdapat makam Syekh Rukunuddin yang wafat pada 672 Masehi atau 48 Hijriah, tepatnya di kompleks Makam Mahligai di Barus. Bahkan, Presiden Jokowi meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara di Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara pada Maret 2017 lalu.

Presiden Joko Widodo didampingi Gubsu Tengku Erry Nuradi meresmikan Tugu Titik Nol Islam Nusantara di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Jumat (24/03/2017) | Foto: Istimewa/Sumutpos
info gambar

Kota ini berada di tepian Pantai Barat, Pulau Sumatera dan menghadap langsung ke laut lepas Samudera Hindia. Dari Kota Medan, jarak Barus sekitar 290 kilometer. Jika ditempuh melalui jalur darat dengan angkutan pribadi bisa memakan waktu sekitar 8 – 10 jam.

Kota ini menjadi kota wisata sejarah dan religi yang memiliki kekayaan dan informasi menarik. Di antaranya adalah benda-benda kuno, mata uang, prasasti dan fragmen arca, makam para aulia dan ulama seperti Makam Papan Tinggi, Makam Mahligai, Makam Syekh Mahdun, Makam Syekh Ibrahim Syah, Makam Tuan Ambar, hingga Makam Tuan Syekh Badan Batu.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Di Kota Barus ini jugalah terdapat kue unik yang warnanya serupa dengan Sang Saka Merah Putih, yaitu Putu Bendera. Kue ini merupakan makanan khas yang hanya ada saat lebaran dan pergantian tahun saja serta sudah ada sejak Kota Barus berdiri.

Putu Bendera menjadi penganan legendaris yang masih bertahan, walaupun sudah tak sebanyak dulu, sejak berabad-abad tahun lamanya. Lidah-lidah para sepuh, perantau, dan mereka yang mencintai kuliner bersejarah Nusantara akan berebut mencarinya, terutama saat dua hari besar itu tiba.

“Ini kue sejak masa nenek moyang orang Barus. Ibu saya bilang, sudah dari moyangnya dulu Putu Bendera ada, jadi sudah tujuh turunanlah, mungkin,” kata Asmiati Tanjung, warga Barus.

Asmiati Tanjung, generasi ketujuh pembuat Putu Bendera | Foto: Kompas/Mei Leandha
info gambar

Asmiati merupakan salah satu penjual Putu Bendera yang masih bertahan. Jumlah Putu Bendera sudah tak banyak sebab pembuatnya pun kian sedikit. Namun di pasaran, kue tersebut laku keras.

“Dulu banyak yang membuat kue ini, sekarang tinggal keluarga kami saja. Tiap mau lebaran dan tahun baru, ramai yang pesan. Bukan cuma orang sini, luar kota pun banyak,” jelas Asmiati.

Soal warna, tak ada yang bisa memberikan keterangan jelas tentang hal tersebut. Kemunculannya saat perayaan agama Islam dan pergantian tahun juga belum diketahui alasannya.

“Mungkin karena bendera kita merah putih makanya dipilih warna itu. Kami pernah buat warna lain, tak laku. Tiap bulan bikin 100 kilogram, ludes,” ungkapnya.

Kue Putu Bendera | Foto: Akurat.co
info gambar

Asmiati juga tak segan membagi cara pembuatan Putu Bendera. Bahan dasar kue ini adalah beras Pulut (ketan), gula, dan pewarna makanan dan vanili. Bahan-bahan tersebut dicampur kemudian direbus. Begitu matang, adonan dibentuk persegi empat dan dijemur hingga kering di bawah matahari. Biasanya memakan waktu beberapa hari, tergantung kondisi cuaca.

Hasil akhirnya adalah kua yang berwarna merah putih mirip bendera Indonesia. Teksturnya sedikit keras tapi renyah saat dikunyah dan rasanya manis.

Asmiati juga menjelaskan bahwa gula di kue ini tidak mendominasi sehingga masih aman untuk penderita diabetes. Tak hanya itu, kue ini juga bebas bahan pengawet.


Sumber: Kompas

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini