Lebaran Ketupat : Tradisi Sepekan Setelah Lebaran

Lebaran Ketupat : Tradisi Sepekan Setelah Lebaran

sumber : viva

Biasanya Hari Raya Idul Fitri akan diikuti beberapa tradisi yang sampai saat ini dipertahankan oleh masyarakat di Indonesia. Salah satunya adalah Lebaran Ketupat. Pemberian nama Lebaran Ketupat ini sangat cocok karena hidangan yang dimasak di rumah-rumah berupa menu ketupat. Hingga kini, tradisi ini masih dipertahankan dan dirayakan di beberapa daerah.

Di Gresik, tradisi Lebaran Ketupat dilaksanakan oleh warga di sekitar alun-alun Gresik, khususnya di Kampung Kauman. Tradisi yang juga dikenal dengan nama Lebaran Kauman ini dilaksanakan setelah melakukan puasa Syawal selama enam hari berturut-turut. Tradisi puasa Syawal diperkenalkan oleh ulama bernama Kiai Baka yang masih keturunan Sunan Giri. Beliau meminta santrinya untuk mengikuti sunnah yang diajarkan Rasul dengan berpuasa Syawal selama enam hari. Masyarakat akan bersukacita merayakan Lebaran seminggu setelah Idul Fitri. Uniknya, Lebaran Kauman hanya dirayakan dalam semalam. Setelah shalat Magrib, warga akan saling mengunjungi dan menikmati hidangan ketupat dan lepet. Tradisi ini menjadi puncak silaturahmi warga yang sudah berlangsung turun-temurun. Pada malam kupatan, banyak warga kampung lain yang juga berdatangan.

Jika di Madura, tradisi Lebaran Ketupat ini disebut juga dengan Terater. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setiap tanggal 7 Syawal sesudah umat Muslim selesai melaksanakan ibadah puasa sunnah selama enam hari di bulan Syawal. Sama dengan daerah di Gresik, masyarakat Madura juga akan menyantap ketupat dengan opor atau ayam goreng. Bedanya, hidangan Lebaran Ketupat tidak langsung dinikmati, namun diserahkan kepada imam masjid atau dibawa ke mushala setempat. Setelah makanan terkumpul, para warga biasanya akan langsung berkumpul dan menggelar doa bersama.

Sedangkan di Magelang, Rangkaian acara Hari Raya Idul Fitri di Dusun Kauman, Desa Payaman, Magelang diisi dengan Festival Balon Syawalan. Tradisi ini sudah berlangsung lama, sejak tahun 1980-an . Tradisi ini diadakan untuk memperingati Lebaran Ketupat. Sekitar 150 balon udara tradisional yang akan diterbangkan sebagai tanda Syawalan. Ada dua lokasi pelepasan balon udara. Pertama, di halaman depan Masjid Agung Kauman dan juga di lapangan dusun setempat. Tema tiap tahun berganti-ganti, ada panitia membuat tema sesuai dengan momentum yang sedang hangat saat itu.

Sumber : Kompas, Media Madura

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Jembatan Kaca Setinggi 27 Meter Hadir di Banyumas! Sebelummnya

Jembatan Kaca Setinggi 27 Meter Hadir di Banyumas!

Lepas Dari Gadget, Bank Indonesia Kenalkan Literasi Pada Anak Selanjutnya

Lepas Dari Gadget, Bank Indonesia Kenalkan Literasi Pada Anak

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.