Setelah sebelumnya citra Bali sempat terpuruk karena adanya teror bom di tahun 2003, namun siapa sangka dengan hal tersebut justru memberikan ruang bagi para pecinta sastra di Indonesia untuk menggelar Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) yang kemudian dikenal sebagai acara berskala internasional.

Pertama digelar, jumlah penulis yang hadir kurang lebih mencapai 120 orang. Seiring berjalannya waktu hingga memasuki tahun ke-15 acara tersebut pun terus bergulir. Jumlah penulis yang datang juga selalu bertambah dan selalu di atas 100 orang lebih.

Berbagai macam karya anak bangsa hadir di sana. Peluncuran buku dan pemutaran film sering didominasi oleh buah cipta terbaik dari anak-anak negeri ini. Bahkan salah seorang penggagas seperti yang tertulis melalui CNN Indonesia menyampaikan bahwa anak-anak muda khususnya pecinta sastra dan film Indonesia mengaku sangat antusias dengan kegiatan tersebut.

Salah Satu Dokumentasi Kegiatan UWRF
Salah Satu Dokumentasi Kegiatan UWRF

UWRF pun lambat laun tak hanya dikenal sebagai sekedar ajang pertemuan dan unjuk karya. UWRF telah menjelma menjadi sebuah gebrakan baru bagi generasi muda Indonesia untuk cinta dan bangga terhadap budaya literasi di Indonesia.

Lebih lagi, tak bisa dipungkiri bahwa penulis di Indonesia dari tahun ke tahun semakin mengalami kemajuan. Berbagai anak bangsa tumbuh dengan budaya membaca juga menulis yang kian meningkat, dibarengi dengan munculnya sastrawan Indonesia masa kini yang menulis banyak hal menarik juga apik. Oleh sebab itu, UWRF pun hadir menjadi sebuah ruang untuk anak bangsa, agar mampu melihat dunia melalui sisi yang berbeda yakni melalui budaya baca dan tulis.

Ubud Writers and Readers Festival
Ubud Writers and Readers Festival

Di sisi lain tak dapat ditampik, bahwa sastra Indonesia memiliki peran penting terhadap bagaimana Indonesia mampu dikenal dunia. Hal ini tidak terlepas dari usaha gigih penulis Indonesia yang menghasilkan karya-karya epiknya.  

Seperti halnya penulis Indonesia yang kini karyanya telah tenar di berbagai kalangan, Eka Kurniawan. Mengaku muncul pertama di UWRF sembilan tahun lalu, Eka bukanlah siapa-siapa. Usianya bahkan masih 20 tahun-an dan tidak banyak orang yang mengenalnya sebagai Eka yang saat ini. Namun, siapa sangka di tahun keduanya mengikuti UWRF, ia pun mulai dikenal publik. Banyak orang menyanjung juga memuji karyanya.

Nampak Antusias dari Peserta UWRF
Nampak Antusias dari Peserta UWRF

Bahkan kini Eka Kurniawan juga ditunjuk menjadi salah satu kurator yang menyeleksi tulisan dari para penulis muda Indonesia untuk dimasukkan ke antologi UWRF. Seperti halnya yang pernah ia lalui di masa lampau.

Disampaikan pula oleh Eka Kurniawan, bahwa UWRF layaknya ajang bergengsi yang menjadi tonggak pembuka ‘kotak pandora’ bagi sastra Indonesia. Kini orang bisa mengenal berbagai macam nama penulis juga karya-karya anak bangsa yang melegenda.

Lebih lagi, uniknya kegiatan UWRF yang berlangsung di Bali tersebut juga selalu dibanjiri oleh berbagai kalangan. Salah satunya ialah para pecinta sastra dan seni dari berbagai belahan dunia yang memang haus akan pengetahuan serta ingin mengetahui sastra lebih dalam khususnya di Indonesia. Otomatis kondisi demikian dapat menjadi ‘jembatan’ bagi UWRF untuk terus memperkenalkan sastra Indonesia pada khalayak.

Bangga sekali ya terhadap berbagai macam inovasi yang dilakukan, khususnya terhadap sastra dan seni di Indonesia. Bangga anak bangsa!


Sumber: CNN Indonesia

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu