Mahasiswa ITS Olah Limbah Beracun Menjadi Ramah Lingkungan Menggunakan Bakteri

Mahasiswa ITS Olah Limbah Beracun Menjadi Ramah Lingkungan Menggunakan Bakteri

© Fancycrave / unsplash.com

Industri logam tanpa karat yang terus berkembang di era modern saat ini membutuhkan banyak sekali mineral kromium. Sebut saja mesin otomotif yang membutuhkan teknik metalurgi menyebabkan limbah kromium VI terus meningkat. Padahal, limbah ini sangat berbahaya bagi lingkungan. Menyadari hal ini sejumlah mahasiswa dari Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berusaha mengolah limbah tersebut agar lebih ramah lingkungan.

Wulan Aulia, Rahadian Abdul Rachman dan Ulva Tri Ita Martia adalah para mahasiswa ITS yang menyadari bahwa industri penyepuhan yang berkembang seiring dengan industri logam tanpa karat menghasilkan limbah logam berat seperti Kromium VI. Mereka pun kemudian berinisiatif untuk mencari solusi agar logam berat Kromium VI menjadi lebih ramah lingkungan agar tidak berdampak buruk pada kesehatan makhluk hidup.

"Dampaknya seperti menyebabkan mutagen pada manusia serta proses pertumbuhan tanaman di sekitar pembuangan limbah akan terhambat," ujar Wulan seperti dikutip dari detikcom.

Cara untuk membuat logam berat Kromium VI menjadi lebih ramah lingkungan adalah dengan mereduksi tingkatan logam beratnya menggunakan senyawa mikroba MFC (Microbial Fuel Cell). Mikroba ini mampu mengubah logam Kromium VI menjadi Kromium III yang tidak berbahaya bagi lingkungan.

Menurunkan Kromium VI menjadi logam Kromium III, dinilai akan menurunkan tingkat toksisitas limbah. Sehingga memiliki ukuran molekul yang lebih kecil yang akan mudah diserap oleh lingkungan.

"Ukuran molekul yang kecil ini akan membantu pada proses penyerapan saat limbah kromium 6 tidak dapat tereduksi," ujarnya.

MFC sendiri merupakan sebuah sistem kimia elektrik biologis yang mampu menghasilkan listrik menggunakan bakteri. Bakteri yang digunakan adalah Saccharomyces cerevisiae yang diletakkan dalam sistem reaktor. Sistem ini kemudian membutuhkan listrik yang bergerak dalam kutub katoda dalalm reaktor untuk kemudian mampu mereduksi limbah. Teknologi ini telah banyak digunakan dalam sistem pengolahan air limbah di abad 21.

Itu sebabnya, Wulan juga menjelaskan bahwa teknik ini dapat digunakan unguk logam berat lain yang banyak ditemukan di lingkungan pertambangan seperti Timbal (Pb) dan Merkuri (Hg).

Lewat penelitian yang Wulan dkk. lakukan mereka berharap untuk bisa mendapatkan prestasi pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional yang akan digelar di Universitas Negeri Yogyakarta bulan Agustus mendatang.

Pilih BanggaBangga78%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi11%
Pilih TerpukauTerpukau11%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Ternyata Ada Perwakilan Indonesia di Piala Dunia 2018. Siapa Mereka? Sebelummnya

Ternyata Ada Perwakilan Indonesia di Piala Dunia 2018. Siapa Mereka?

Bukber Minim Sampah dan Puasa Plastik Isi Ramadhan di Bali Selanjutnya

Bukber Minim Sampah dan Puasa Plastik Isi Ramadhan di Bali

0 Komentar

Beri Komentar