Teman Lansia: Pemuda Masa Kini Peduli Lansia di Panti

Teman Lansia: Pemuda Masa Kini Peduli Lansia di Panti
info gambar utama

Jakarta, 23 Juni 2018

Pada era globalisasi, generasi muda yang hidup di kota besar mulai berfokus dan sibuk dengan kegiatan sehari-hari, hal ini memicu adanya perubahan sikap anak muda terhadap kaum lanjut usia dengan kurangnya memberikan perhatian dan kehadiran dari keluarga. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2004, lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahun ke atas.

Di Indonesia, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 tercatat populasi lansia berjumlah 23,4 juta jiwa atau 8,97% dari total penduduk. Diharapkan dari data tersebut lansia di Indonesia dapat sehat, aktif dan tetap produktif. Hal tersebut di atas menunjukkan pentingnya kegiatan yang dilakukan untuk membuat lansia tetap menjadi sehat dan produktif, salah satu komunitas di Jakarta yaitu Teman Lansia bergerak untuk mengajak kaum muda peduli akan lansia dengan memberikan perhatian, kebahagiaan, kepedulian serta menghormati orang yang lebih tua.

Teman Lansia, melakukan kegiatan Teman Lansia Goes To Panti Werdha Santa Anna. Panti Werdha Santa Anna yang berada di Jalan Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta Utara, memiliki 74 lansia yang terdiri dari opa 30 orang dan oma 44 orang. Saat acara kemarin, Teman Lansia tidak hanya sendiri namun ada 40 relawan yang hadir untuk menemani oma dan opa di panti jompo tersebut. Lanjut usia yang mengikuti acara kemarin berjumlah 50 orang, sisa lansia yang tidak ikut dikarenakan kondisi fisik yang tidak memungkinkan seperti stroke.

Acara tersebut berjalan dengan baik. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain Sharing Session with Expert. Kegiatan ini dilakukan bersama dokter Ruby Aurora. Sharing Session ini mengenai “Lupa dan Pikun’, relawan bersama oma dan opa menjadi belajar mengenai perbedaan antara lupa dan pikun, lupa yang wajar dan tidak wajar, bagaimana mengatasi lanjut usia yang mengalami demensia. Setelah itu, relawan bersama oma dan opa sebagai pasangannya melakukan Mini-Mental State Exam untuk mengetahui oma dan opa sudah mencapai tahap demensia atau belum. Setelah melakukan Mini-Mental State Exam, para relawan Teman Lansia yang masing-masing berpasangan dengan satu lansia melakukan sesi 1 on 1 Story Hearing. Sesi ini merupakan sesi di mana relawan dan lansia saling berbagi cerita, dengan tujuan agar para lansia tidak merasa kesepian karena ada yang mau mendengarkan cerita-cerita mereka. Banyak dari relawan yang menjadi langsung akrab dengan lansia pasangannya sampai berbagi resep kue, bernyanyi bersama, bertukar nomor telepon, sampai diajarkan bahasa Mandarin. Para lansia sangat mengapresiasi kehadiran Teman Lansia yang menemani mereka.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan membuat pohon harapan. Pohon harapan tersebut dikreasikan dari gulungan kertas bekas yang ditempel beberapa helai kertas bertuliskan harapan-harapan para lansia dan harapan relawan Teman Lansia terhadap oma dan opa di Panti Werdha Santa Anna. Dari seluruh harapan yang ditulis ada satu harapan yang paling menyentuh yang berasal dari salah satu penghuni panti, Oma Iing. Oma Iing ingin bertemu anaknya dan berharap sang anak mengunjunginya. "Mami kangen, udah lama nggak ketemu", tulis Oma Iing.

Teman Lansia juga memberikan sumbangan kepada Panti Werdha Santa Anna yang berupa sembako. Sumbangan tersebut berasal dari hasil penjualan merchandise dan donasi. Setelah kegiatan ini, Teman Lansia ingin berkunjung dan berbagi kebahagiaan di panti-panti jompo lainnya. Komunitas pemuda satu ini ingin terus berkontribusi dalam meningkatkan kepedulian dan kesadaran generasi muda Indonesia terhadap para lansia. Pemuda harus bisa menjadi teman dan berbagi kebahagiaan dengan lansia karena nantinya mereka akan menjadi lansia juga.

“Saya banyak belajar melalui Teman Lansia. Memberikan kebahagiaan kepada lansia sama saja seperti mengobati hati kita. Rasanya luar biasa. Para lansia memberikan banyak pelajaran melalui cerita mereka yang sudah banyak mengecap asam garam kehidupan. Para lansia di panti jompo misalnya, walaupun terkesan mereka sendirian tanpa keluarga, kedatangan kami disambut dengan tangan terbuka dan senyuman manis yang merekah. Sudah sepatutnya pemuda lebih menaruh perhatian pada mereka, karena menjadi tua itu adalah sesuatu yang inevitable. Kita mungkin akan sampai kesana, apa kah kita akan berakhir sama seperti mereka? kita tidak pernah tahu. Bagaimana rasanya menjadi tua dan sendirian? Inilah yang Teman Lansia suguhkan kepada para pemuda untuk merasakannya langsung melalui cerita dari para lansia di panti jompo, hingga kita semakin sadar dan cinta kepada orang tua". Rendy Pranata Koesmadiredja, Project Officer Teman Lansia.

Relawan Teman Lansia
info gambar
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Video kegiatan dapat dilihat disini.
Sumber: Teman Lansia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini