Ilmu pengetahuan tentang alam tidak melulu terbatas pada letak geografis dan ilmu tersebut dapat dicari di manapun bahkan di negara lain. Seperti halnya yang dilakukan oleh Tim Universitas Gadjah Mada (UGM) Speleogical Research Expedition yang berusaha melakukan penelitian di sebuah gua di Pegunungan Tien-Shan Tengah Kawasan Karst Moldo-Too Kirgiztan. Expedisi ini merupakan misi ilmu pengetahuan untuk mengetahui segala hal tentang gua karst purba yang dinilai memiliki umur 300 sampai 350 juta tahun yang lalu.

Berdasarkan rilis yang diterima GNFI, tim ekspedisi UGM terdiri dari dua dosen dan delapan mahasiswa dari berbagai fakultas. Tidak hanya itu, para anggota ekspedisi merupakan bagian dari lima organisasi mahasiswa pecinta alam (mapala) yang ada di UGM. Mereka adalah Aan Saputra dari Teknik Geologi 2014, Angga Wahyu dari Teknik Geologi 2015, Dimas Irham dari Pembangunan Wilayah 2015, Dita Marfuah dari Psikologi 2014, Hilary Reinhart dari Pascasarjana 2014 dan Rakhmat Dwi dari Kartografi dan Penginderaan Jauh 2016. Sementara dua mahasiswa menjadi manajer tim adalah Farah Aida dari Pariwisata 2016 dan hajar Lutviah dari Kehutanan 2015. Sedangkan dua dosen yang membimbing adalah Dr. Eko Haryono dan Dr. Didit Hadi Barianto. 

Ekspedisi penelitian speleologi ini dilakukan pada 2 Juli hingga 18 Juli mendatang dengan tujuan untuk melakukan kajian speleogenesis di kawasan Moldo-Too. Hasil penelitiannya sendiri akan membuat para peneliti mampu merekonstruksi proses pembentukan gua yang terjadi di Pegunungan Tien-Shan Tengah berdasarkan data yang diperoleh. Rencananya, hasil ekspedisi juga akan diterbitkan dalam bentuk publikasi penelitian ilmiah internasional, video dokumenter, cerita perjalanan dan juga esai penelitian geologi. 

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Tim UGM akan menjadi tim ekspedisi pertama kali dari Indonesia yang melakukan misi ekspedisi speleologi di Asia Tengah. Tantangan yang dihadapi akan cukup berat karena wilayah penelitian berada di ketinggian 3000 hingga 4000 mdpl dengan suhu rata-rata mencapai 14,4 derajat celsius. Penelitian pun akan dilakukan selama sembilan hari mulai 6 Juli hingga 14 Juli 2018. 

Berbagai persiapan untuk ekspedisi ini telah dilakukan sejak jauh hari. Seperti latihan fisik, keterampilan hingga materi keilmuwan speleologi. Sejak bulan Februari para anggota tim melakukan latihan rutin untuk mengantisipasi alam Kirgiztan yang memang memiliki karakter berbeda dengan Indonesia. Sementara para anggota tim juga dilatih untuk mengatasi situasi gua dengan latihan memahami pemetaan gua, fotografi gua, biospeleologi, hidrologi karst, geologi dan interpretasi citra di kawasan gua karst yang tidak jauh dari Yogyakarta yakni Kawasan Karst Gunungkidul dan Purworejo. 

Persiapan juga dilakukan dengan menggalang dana agar ekspedisi berjalan lancar melalui situs penggalangan dana patungan, Kitabisa.com. Tim ekspedisi menargetkan agar dapat mengumpulkan dana sebesar Rp 30 juta. Sementara total dana yang dibutuhkan mencapai Rp 220 juta. 

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Ilmu Speleologi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari tentang gua dan anatomi-anatomi gua karst. Lewat ilmu ini akan diketahui bagaimana proses-proses alamiah yang terjadi pada sebuah gua. Ilmu ini melibatkan banyak cabang ilmu lainnya seperti kimia, biologi, geologi, fisika, meteorologi, dan kartografi. Sementara penjelajahan guanya sendiri membutuhkan kemampuan yang sama seperti dalam olahraga jelajah gua atau caving

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu