Spesies Baru! Katak Tanduk Tak Bertulang Ditemukan di Sumatera Selatan

Spesies Baru! Katak Tanduk Tak Bertulang Ditemukan di Sumatera Selatan

https://sains.kompas.com/read/2018/07/06/200000623/di-sumatera-selatan-ditemukan-katak-dengan-tanduk-tak-bertulang

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Lagi dan lagi, ilmuwan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan spesies katak baru yang ada di daerah Sumatera Selatan. Katak tersebut pun kemudian dinamai Megophrys Lancip, yang pertama kali ditemukan awalnya di tahun 2013. Namun, kala itu spesies katak baru tersebut diidentifikasi sebagai jenis lain.

Melalui penelitian morfologi dan molekuler diketahui bahwa katak bertanduk lancip tersebut memiliki karakter yang unik. Dituturkan dalam Kompas, salah seorang peneliti reptil dan amfibi LIPI menyampaikan bahwa di atas mata dan di bagian moncong katak tersebut terdapat tanduk yang meruncing. Tanduk tersebut berupa lipatan kulit dan bukan layaknya tanduk dari tulang. Warna kulitnya pun juga menyerupai daun kering di lantai hutan.

Hutan di Sumatera Selatan Disebut Sebagai Tempat Ditemukannya Spesies Baru Katak Tersebut
Hutan di Sumatera Selatan Disebut Sebagai Tempat Ditemukannya Spesies Baru Katak Tersebut

Diketahui bahwa habitat katak tanduk lancip tersebut berada di daerah hutan primer atau sekunder, tepatnya di lantai hutan yang tidak jauh dari aliran jernih sungai. Disebutkan pula bahwa di daerah Indonesia, katak tanduk rupanya tersebar di beberapa wilayah yakni Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Karakter katak tersebut merupakan endemik yang ciri-cirinya berbeda dengan beberapa spesies lain.

Di sisi lain, hampir mirip dengan katak pada umumnya, katak tanduk lancip jantan memiliki ukuran lebih kecil daripada katak betina. Selain itu, katak tanduk lancip jantan juga memiliki nuptial pad atau bantalan untuk kawin yang ada di ruang belakang jari tangan pertama dan kedua. Bantalan kawin tersebut berfungsi saat musim kawin agar dapat berpegangan kuat dengan katak betina.

Selain itu, para ahli turut melakukan tes DNA dengan mengambil spesimen dari otot dan hati katak yang sudah diberi tindakan euthanasia, sehingga identifikasi yang dilakukan mampu memperoleh hasil secara detail. Nantinya hasil lebih dalam dari penelitian tersebut mampu menjadi acuan yang berfungsi bagi dunia pengetahuan di masa yang akan datang.


Sumber: Kompas

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah jika sakit
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga65%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang10%
Pilih Tak PeduliTak Peduli5%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau20%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Taman Nasional Langit Gelap di Kupang Sebelummnya

Taman Nasional Langit Gelap di Kupang

Mengkonsumsi Kulit Jeruk Diklaim Dapat Menangkal Virus Corona Selanjutnya

Mengkonsumsi Kulit Jeruk Diklaim Dapat Menangkal Virus Corona

Aninditya Ardhana Riswari
@anindityaar_1997

Aninditya Ardhana Riswari

anindityaardhana.wordpress.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.