Selama beberapa tahun terakhir semenjak pindah ke Pulau Jawa, bertambah rasa bangga saya menjadi orang Kalimantan. Bagaimana tidak, setiap kali orang yang baru saya temui mengetahui bahwa saya berasal dari Kalimantan, hampir keseluruhan mengungkapkan kekagumannya terhadap pulau terbesar kedua di Indonesia ini. Mereka mengagumi bagaimana tanah di Pulau Kalimantan ini bisa begitu berjaya dengan segala sumber daya alam yang dimilikinya terlebih dengan budayanya.

Ketika berkesempatan untuk kembali ke Kalimantan khususnya Kalimantan Timur (Kaltim), bagi saya hal tersebut merupakan kesempatan besar untuk mempromosikan Kalimantan secara khusus pada potensi pariwisata yang tak kalah menarik dengan sumber daya alam, serta kekayaan budaya tanah borneo melalui tulisan ini.

Bontang, Samarinda, dan Balikpapan merupakan tiga kota yang menjadi rumah bagi saya selama perjalanan di Kaltim. Tiga kota tersebut dipilih karena masing-masing memiliki keunikan yang berbeda untuk dikenalkan lebih luas kepada masyarakat Indonesia khususnya. Serta melihat potensinya yang sangat besar untuk menjadi destinasi wisata.

Dengan ambisi tersebut, saya sangat bersemangat mengenai perjalanan ini. Terlebih mengingat perjalanan ini bukan solo traveling yang biasa saya lakukan, namun saya bepergian sebagai bagian dari sebuah sinergi antara swasta, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dengan tujuan yang lebih baik guna mengembangkan potensi wisata Kaltim melalui kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan.

Saya menginjakkan kaki di Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Kota Balikpapan yang menjadi gerbang masuk provinsi Kaltim. Di kota metropolis ini terdapat banyak kampung tematik yang digagas oleh pemerintah kota guna terwujudnya Kota Tanpa Kumuh (KotaKU). Di provinsi ini terdapat ratusan sungai yang tersebar hampir di semua wilayah tidak terkecuali Kota Balikpapan. Kampung Atas Air Tematik menangkap perhatian saya. Papan ulin berjejer rapi berfungsi sebagai alas jalanan berbunyi saat dilalui sepeda motor. Suasana rindang berkat tanaman di pot-pot memenuhi hampir setiap gang.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Kampung pojok sayur di Kota Balikpapan | Sumber: PT HM Sampoerna & YIAB

Mendukung konsep tersebut, sinergi swasta (dalam hal ini PT HM Sampoerna Tbk. melalui payung program tanggung jawab  sosial yakni Sampoerna untuk Indonesia – SUI), pemerintah Kota Balikpapan, akademisi dan masyarakat, bekerja sama dengan Yayasan Inspirasi Anak Bangsa (YIAB) melaksanakan program SME’s, Tourism, Environment Potensial Upgrade Program (STEP UP) membuat konsep Kampung Taman Ortogonal Pariwisata (Kampung TOP) di Kelurahan Baru Tengah serta pelatihan urban farming dan pembentukan tim satgas bencana serta bantuan infrastruktur penghijauan guna mengembangkan lagi potensi wisata Kota Balikpapan.

Berpindah ke kota tujuan kedua yakni Samarinda, lain kota lain cerita. Kunjungan ini bertemakan sejarah. Sejarah terbentuknya Kota Samarinda yang ternyata tercetus dari Kampung Tenun Samarinda. Di kampung ini terdapat banyak pengrajin yang membuat sarung khas Samarinda dengan motif dan corak khusus. Saat saya berkunjung kesini, saya melihat serta berinteraksi langsung pada pengrajin sarung Samarinda ini. Salah satu dari mereka mengatakan dibutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menyelesaikan sebuah kain sepanjang empat meter. Rupanya kain ini telah ada dari ratusan tahun yang lalu diperkenalkan oleh orang-orang yang membangun kota Samarinda.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Papan kedatangan di Kampung Wisata Tenun Samarinda | Foto: Febriansyah / GNFI

Di bawah program yang sama, penguatan SDM untuk Diversifikasi Produk Turunan Kain Tenun kepada UKM terpilih di area ini dan branding Kampung Tenun dengan penataan ulang Rumah Cagar Budaya serta Dermaga Batang Aji yang menjadi tempat berlabuh Kapal Wisata Pesut Etam, serta branding jembatan Kampung Tenun dilakukan sebagai bentuk dukungan.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Hutan mangrove dari atas | Foto: Febriansyah / GNFI

Seolah belum puas, saya akhirnya mengunjungi kota tujuan terakhir yakni Kota Bontang. Disini, saya kembali ke alam. Saya mendapati diri saya “tenggelam” dalam keindahan dan rindangnya hutan mangrove dengan bermacam-macam variasi. Beruntungnya kini hutan mangrove tersebut dikelola sebagai pusat edukasi. Dengan bantuan dari program yang sama maka tersedialah papan informasi, tempat sampah yang memadai, tempat duduk yang membuat proses edukasi lebih nyaman, serta penerangan.

Kampung Atas Air Tematik, Kampung Tenun harta karun sejarah, serta indah dan rindangnya hutan mangrove di tiga kota di Kalimantan Timur ini rasanya cukup untuk mengenalkan harta karun lainnya yang ada di Pulau ini khususnya provinsi Kaltim.

Sebenarnya masih banyak lagi destinasi wisata lain yang berada di Kaltim ini namun sayang tidak muat jika diceritakan seluruhnya. Daripada penasaran, lebih baik kunjungi sendiri Kalimantan Timur dan rasakan betapa menggembirakannya short getaway di ujung timur pulau Kalimantan ini.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu