Mahasiswa Perikanan ciptakan alat pengasapan ikan dengan sistem "recycle smoke"

Mahasiswa Perikanan ciptakan alat pengasapan ikan dengan sistem "recycle smoke"

Sosialisasi alat pengasap ikan dan penghasil asap cair di UKM Sekarwangi Desa Sawahan Kecamatqan Rengel Kabupaten Tuban. Foto: Nanjaya Cipta

3 mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya yang terdiri dari Hidayatun Muyasyaroh (THP), Imam Muhammad Bagus (AP), dan M. Ubaidillah Al-Bustomi (BP) menciptakan sebuah teknologi pengasapan berbasis vakum dengan sistem recycle limbah.

Tim yang dibimbing langsung oleh Dr. Ir. Yahya, MP dan didampingi oleh Abdul Aziz Jaziri, S.Pi., M.Sc mengubah teknologi pengasapan tradisional menjadi teknologi moderen dengan desain recycle sistem. Hal ini bertujuan untuk mengolah limbah asap menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis.

Ide pembuatan alat ini muncul didasari pada saat salah satu mahasiswa dari tim PKM melaksanakan program magang dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UB di UKM pengasapan Sekar Wangi desa Sawahan, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Selain mengikuti proses pengasapan, mahasiswa ini diminta membatu pemerintah Tuban untuk melakukan survey pendataan di Kecamatan Rengel yang memiliki usaha pengasapan. Dari hasil survey menunjukkan 100% pengasapan di Kecamatan Rengel Kabupaten Tuban masih menggunakan teknologi tradisional.

Penggunaan teknologi pengasapan tradisional memiliki banyak kelemahan diantaranya menghasilkan limbah berupa asap yang menyebabkan polusi udara, pengasapan dilakukan ditempat terbuka sehingga rawan terjadi kontaminasi, proses pengasapan terlalu cepat dengan suhu tinggi sehingga terjadi case hadeninng (produk matang bagian luar tapi masih mengandung banyak air didalamnya.

Seperti yang diungkapkan Hidayatun Muyasyaroh selaku ketua tim, dibentuklah tim untuk memecahkan permasalahan tersebut. Banyak UKM pengasapan yang berharap dapat meningkatkan produk ikan asap dari segi kualitas dan kuantitas.

ECHOSMOKE merupakan terobosan baru dari alat pengasapan yang menggunakan sistem recycle limbah asap. Alat ini dapat memperbaiki dari segi kualitas dan kuantitas produk ikan asap, mengurangi polusi, dan menghasilkan limbah yang bernilai ekonomis yaitu asap cair. “Asap cair dapat digunakan sebagai anti bakteri dan pemberi flavor pada produk. Hal ini dikarenakan kandungan senyawa fenol dan asam-asam organik mampu menghambat pertumbuhan mikroba, selain itu terdapat senyawa fenolat yang berperan dalam memberikan flavor pada ikan asap” tambah Ubaidillah

Menurutnya kedepan akan semakin berkembang pesat penggunaan teknologi pada semua bidang, sehingga UKM yang masih bertahan dengan cara tradisional harus dibantu dengan sentuhan teknologi untuk menghasilkan produk berkualitas dan tidak menghasilkan limbah.


Sumber:

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi33%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CS-LS (coconut shell liquid smoke) Ciptakan terobosan baru, Bahan pengawet alternatif formalin dari batok kelapa Sebelummnya

CS-LS (coconut shell liquid smoke) Ciptakan terobosan baru, Bahan pengawet alternatif formalin dari batok kelapa

7 Gunung yang Menjadi Bagian dari 7 Keunikkan Kota Tomohon Selanjutnya

7 Gunung yang Menjadi Bagian dari 7 Keunikkan Kota Tomohon

Nanjaya Cipta
@nanjaya_cipta

Nanjaya Cipta

Wajah bundar, tinggi 155 cm, berat badan 50 kg

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.