Dahulu, Bentuk dan Ukuran Pulau Jawa pada Peta Pernah Berubah-ubah. Ini Kisahnya!

Dahulu, Bentuk dan Ukuran Pulau Jawa pada Peta Pernah Berubah-ubah. Ini Kisahnya!

sumber : http://acms.sl.nsw.gov.au

Beberapa waktu lalu, Pulau Jawa dinobatkan Sebagai Pulau Terbaik di Dunia 2018 Versi Travel and Leisure. Seperti yang dilansir dari situs Travel and Leisure, Pulau Jawa dipilih karena memiliki pemandangan yang begitu memesona dan masih kental dengan budaya kuno. Ternyata, Jauh sebelum Indonesia Merdeka, pulau jawa pernah disebut-sebut sebagai pulau terbesar di dunia menurut marco polo. Para Kartografer (orang yang memiliki keahlian membuat sebuah peta) sering menerbitkan peta yang terdapat pulau jawa di dalamnya dengan berbagai nama, ukuran, bentuk, dan lain-lain.

Java Mayor dan Java Minor pada Peta karya Munster/Holbein (1540)

Sekitar tahun 1540 Munster/Holbein menerbitkan untuk pertama kalinya peta Sumatera (Taprobana) termasuk di dalamnya Java Minor sebagai Borneo (Kalimantan) yang terletak di sebelah utara Jawa (Java Mayor). Dalam peta yang dibuat oleh Sebastian Munster (1540), terjadi perubahan koreksi atas kesalahan dalam penyebutan P. Sumatra atau lengkapnya disebut Taprobana Sumatra. Ini berarti untuk pertama kali muncul P. Sumatra dalam peta. Yang unik, dengan perubahan nama Java Minor untuk menyebut P. Sumatra berubah menjadi Taprobana Sumatra, sebutan Java Minor bergeser untuk menyebut P. Borneo.

http://hadwi.blogspot.com
http://hadwi.blogspot.com

Pulau Jawa digambarkan sebagai Pulau Terbesar

Gambaran Pulau Jawa sebagai Pulau Terbesar dibuat oleh Guillaume Le Testupada tahun 1555, di tulis dalam laporannya berjudul Cosmographie Universelle selon les Navigateurs, tant anciens que modernes. Le Testu menggambarkan sebuah pulau besar (atau benua) yang disebutnya sebagai Jave la Grande (Java Major or Great Java) yang disebutkan oleh Marco Polo.

wikimedia
wikimedia

Jika dibandingkan dengan peta modern, berikut Peta Jave la Grande dari Dieppe Maps terbitan Prancis pada abad ke 16 :

wikimedia
wikimedia

Pulau Jawa 2x lebih besar dari Borneo

Abraham Ortellius, kartografer dan geografer tersohor asal Belgia, pernah menerbitkan selembar peta berjudul Indiæ Orientalis pada tahun 1570. Peta tersebut menggambarkan wilayah Asia Tenggara, termasuk dengan letak pulau-pulaunya. Ortellius merupakan kartografer pertama yang memiliki pedapat bahwa awalnya benua menjadi satu kemudian terpecah-pecah hingga menemui wujudnya seperti sekarang.

sumber : http://acms.sl.nsw.gov.au
sumber : http://acms.sl.nsw.gov.au


Karena minimnya informasi dari penjelajah, Ortellius menampilkan Pulau Jawa berbentuk bulat dengan sisi selatan yang cembung. Bahkan dalam peta itu Pulau Jawa sekitar dua kali lebih luas ketimbang Borneo (baca: Kalimantan).

Kemisteriusan Jawa sisi Selatan pada peta karya Willem Lodewijcksz

Peta Asia Tenggara karya kartografer Willem Lodewijcksz, yang diterbitkan pada tahun 1598, menampilkan Jawa yang tidak utuh. sisi Selatannya terpotong oleh pembatas bingkai bawah. Tampaknya Lodewijcksz dengan sengaja menyembunyikan kemisteriusan Jawa. Pertanyaan tentang seperti apakah sisi Selatan Jawa yang muncul di peta-peta kuno tak mampu dijawab oleh para kartografer lantaran tidak tersedianya informasi yang cukup pada saat itu. Mereka merupakan kartografer yang hanya mendengar kisah-kisah para petualang yang pernah merintis penjelajahan ke dunia Timur.

raremaps.com
raremaps.com

Sisi Selatan Jawa dimunculkan pada tahun 1580

Misteri gambaran pesisir Selatan Jawa terpecahkan pada 1580. Francis Drake, seorang pelaut dan politikus Inggris yang mengelilingi dunia pada 1577 sampai dengan 1580, berjejak di pesisir Selatan Jawa.
Setelah menjelajahi kepulauan Maluku dan melewati celah Timor, Drake dan timnya menyusuri jalur Selatan dan mendarat di suatu tempat di pesisir Selatan Jawa, kemungkinan daerah tersebut adalah Cilacap. Lalu peta berjudul Insulæ Indiæ Orientalis karya kartografer Jodocus Hondius terbit pada 1606 dan 1616. Dia menggambar pesisir Selatan Jawa hanya dengan garis putus-putus, namun terdapat garis tegas yang membentuk teluk untuk kawasan pelabuhannya.

http://alteagallery.com
http://alteagallery.com

Beberapa daerah mulai masuk pada peta buatan awal abad ke 18

sumber : wikipedia
sumber : wikipedia

Pada awal abad ke 18, Peta Jawa mengalami beberapa perubahan. Pulau jawa terlihat terbagi menjadi 2 bagian ; bagian sunda dan wilayah jawa tengah dan jawa timur pada saat ini. Dalam peta tersebut, terdapat beerapa nama daerah kota yang sudah masuk dalam peta :

  • Bantam (Banten)
  • Xacatara (Jayakarta)
  • Cherebum (Cirebon)
  • Taggal (Tegal)
  • Margam (Semarang)
  • Damo (Demak)
  • Iapara (Jepara)
  • Tubam (Tuban)
  • Sodaio (Sedayu, sekarang dekat dengan Gresik)
  • Surubaya (Surabaya)

Lebih Modern dan Mendekati Aslinya, Peta tahun 1718 lebih detail

Peta Jawa dengan detail yang mendekati aslinya dan dengan gambaran pesisir Selatan yang akurat dibuat kemudian oleh Henri Chatelainpada tahun 1718: Carte de l'Ile de Java: Partie Occidentale, Partie Orientale, Dressee tout Nouvellement (Map of the island of Java: Part Western, Eastern Part, all newly compiled)

raremaps.com
raremaps.com

Diambil dari berbagai sumber seperti Wikipedia, Kaskus, http://hadwi.blogspot.com, Raremaps.

Pilih BanggaBangga21%
Pilih SedihSedih2%
Pilih SenangSenang7%
Pilih Tak PeduliTak Peduli5%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi8%
Pilih TerpukauTerpukau57%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Seperti Ini Rasanya Jadi Pengantin Perempuan di Sumba Ketika Harus Melalui Belis Sebelummnya

Seperti Ini Rasanya Jadi Pengantin Perempuan di Sumba Ketika Harus Melalui Belis

Manfaatkan Hasil Penelitiannya Dengan Baik, Bambang Hero Saharjo Dianugerahi John Maddox Prize 2019 Selanjutnya

Manfaatkan Hasil Penelitiannya Dengan Baik, Bambang Hero Saharjo Dianugerahi John Maddox Prize 2019

Fachrezy Zulfikar
@fachrezy

Fachrezy Zulfikar

Writer

1 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.