Seperti Ini Rasanya Jadi Pengantin Perempuan di Sumba Ketika Harus Melalui Belis

Seperti Ini Rasanya Jadi Pengantin Perempuan di Sumba Ketika Harus Melalui Belis
info gambar utama

Upacara pernikahan di Indonesia terkenal berada dalam kalangan termahal dan termewah di bumi ini, seolah tidak cukup, di Pulau Sumba, bahkan biaya untuk melamar calon pengantin perempuan saja bisa sangatlah mahal sehingga membuat para wanita di Pulau ini menunggu bertahun-tahun lamanya hingga akhirnya sang calon pengantin pria mampu untuk menyelesaikan segala ritualnya.

Mamoli | Sumber: Boombastis
info gambar

Di Sumba, para pria harus memberikan mas kawin kepada keluarga calon pengantin perempuan—yang disebut belis oleh warga lokal. Umumnya belis tersebut berupa ternak, namun seiring berkembangnya zaman biasanya digantikan dengan uang, atau kombinasi keduanya. Keluarga pengantin pria harus memberikan belis berupa barang-barang maskulin yang tanggung jawab pemeliharaannya adalah pada laki-laki. Seperti kerbau dan kuda dalam jumlah yang banyak dan senjata perang misalnya parang atau tombak. Tidak hanya benda maskulin, namun juga perhiasan yang dipakai sebagai anting-anting yang disebut mamoli. Mamoli memiliki makna dan sebagai gambaran rahim atau simbol kemampuan reproduksi wanita. Penyerahan mamoli juga sebagai simbol pengganti wanita yang akan segera dibawa pergi oleh pihak laki-laki. Kemudian keluarga sang pengantin perempuan akan membalas dengan hadiah yang lebih kecil seperti babi dan kain khas.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Dikutip dari percakapan yang dilakukan oleh Vice dengan seorang wanita asal Sumba yang kini tinggal di Jakarta bernama Melati Nasional Rambu Bangi yang juga melakukan ritual belis tersebut mengenai bagaimana ia menanggapi tradisi ritual tersebut, Melati menyebutkan bahwa baginya penting untuk menjaga tradisi lokalnya tetap hidup.

"Saya bangga menjadi orang Sumba. Saya menghormati sekali adat istiadat dan tradisi yang ada di Sumba, utamanya belis." ucap Melati.

Pada dasarnya, besarnya belis tergantung kesepakatan dan status sosial calon pengantin, terutama pihak pengantin perempuan. Jika yang akan dinikahi adalah wanita dengan status sosial tinggi, maka hewan yang diberikan mencapai 30 ekor. Untuk rakyat biasa sekitar 5-15 ekor, dan untuk golongan yang lebih bawah lagi dibayar oleh tuan mereka. Saat proses negoisasi tersebut calon pengantin perempuan harus bersembunyi karena menurut tradisi ia dilarang untuk bertemu siapapun hingga proses negosiasi selesai.

Besarnya belis yang memberatkan ini, memunculkan kesan bahwa pernikahan digunakan sebagai alat transaksi bisnis. Namun sesungguhnya keseluruhan dari proses belis ini merupakan sebuah proses ekspresi penghargaan terhadap sang calon pengantin perempuan. Proses berterimakasih terhadap kedua orangtua sang calon pengantin perempuan karena telah bekerja keras menyekolahkan anak perempuannya.

Ilustrasi ternak untuk belis | Sumber: Boombastis
info gambar


Sumber: Vice | Boombastis

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini