Keseruan Kadet Angkatan Laut AS Saat Datang Ke Indonesia Belajar Budaya

Keseruan Kadet Angkatan Laut AS Saat Datang Ke Indonesia Belajar Budaya
info gambar utama
Ada pemandangan yang berbeda di Sekolah Tinggi Angkatan Laut (STTAL) beberapa hari terakhir. Terlihat puluhan prajurit berbendera Amerika Serikat (AS) mendatangi sekolah tinggi yang terletak di Surabaya tersebut. Mereka rupanya tidak sedang misi untuk berlatih militer, tetapi dalam misi untuk belajar kebudayaan Indonesia di sekolah tinggi yang menaungi para kadet TNI Angkatan Laut Indonesia itu.

Sebanyak 36 kadet dan tiga perwira tentara asal Amerika Serikat yang tergabung dalam Reserve Officers Training Corps (ROTC) tersebut datang ke Indonesia dalam rangka mengenal Indonesia secara budaya. Dalam program yang berlangsung selama empat hari sejak 23 Juli hingga 26 Juli hari ini, mereka diajak untuk berinteraksi dengan masyarakat Indonesia dengan didampingi 40 mahasiswa dari STTAL.

Meski memiliki latar belakang militer, mereka datang ke Indonesia agar bisa mengenal masyarakat Indonesia lebih baik melalui pendekatan sosial. Seperti mengenal kuliner khas Indonesia, bahasa, dan juga kebiasaan-kebiasaan. Sate, bebek goreng, dan makanan-makanan khas Surabaya yang terekenal pedas adalah beberapa kuliner yang mereka coba. Bahkan dihari terakhir kunjungan, puluhan kadet tentara asal AS tersebut menampilkan salah satu tarian khas Indonesia, Kuda Lumping atau Jaran Kepang.

Tanpa ragu-ragu, para kadet yang baru pertama kali datang ke Indonesia itu menarikan gerakan-gerakan tarian. Meski terlihat canggung, mereka sangat bersemangat untuk menampilkan tarian dengan sebaik mungkin.

Foto: Bagus DR/GNFI
info gambar

Salah satu perwira tentara yang mendampingi para kadet dari AS tersebut mengungkapkan bahwa hal ini adalah hal baru bagi mereka. Sehingga hal ini telah membuka perspektif baru bagi para peserta yang mengikuti program.


"Menurut saya program pertukaran kebudayaan antara militer Indonesia dengan tentara Amerika Serikat adalah kesempatan yang baik untuk para kadet asal Amerika untuk mengenal budaya (Indonesia) secara langsung. Kami sangat diterima dan disambut dengan baik. Hal ini menjadi sebuah kerjasama antara militer Indonesia dengan Amerika Serikat yang tidak seputar hutan atau hal-hal yang terait dengan keangkatan lautan. Sehingga mereka (pasukan Indonesia dengan pasukan Amerika Serikat) bisa saling mengenal dan membaur," ujar Komandan Misi ROTC, Mayor Michael Coerper dalam bahasa Inggris pada GNFI.

Coerper pun menjelaskan bahwa kebanyakan dari para kadet peserta belum pernah keluar dari negara Amerika Serikat, sehingga datang ke Indonesia merupakan pengalaman yang menyenangkan sekaligus mendebarkan. Saat ditanya, mengapa mendebarkan, ia menjelaskan bahwa hal ini menjadi pengalaman yang mendebarkan karena para kadet tidak mengetahui banyak hal tentang Indonesia. "The unknown, mereka tidak tidak mengetahui betapa ramahnya orang-orang Indonesia. Mereka hanya mengetahui Indonesia dari internet yang menunjukkan hal-hal mengerikan," jelasnya.

Ia pun berharap program ini agar program ini dikembangkan lagi dan bisa diperdalam menjadi sebuah program pertukaran antar angkatan militer. Dirinya juga berharap, agar program ini juga bisa menjadi pertukaran komando antar peserta. "Saya berharap bisa mengomando para kadet mereka (Indonesia), dan mereka bisa mengomando para kadet kami. Sehingga saling mampu mengembangkan kemampuan kepemimpinan," harap Coerper.

Foto: dok. Penerangan STTAL
info gambar

Sementara itu, Wakil Komandan STTAL, Kolonel Laut, I Nengah Putra, menjelaskan bahwa program ini merupakan tahunan dari Markas Besar TNI yang diamanahkan kepada STTAL dan Akademi Angkatan Laut (AAL). Program ini bertujuan untuk pengenalan budaya sebagai bentuk dari prinsip kepemimpinan berbasis budaya. "Pendekatan kearifan lokal menjadi pedoman bagi para peserta untuk menjalankan misi di kemudian hari di medan," jelas I Nengah.

Wakil Komandan, I Nengah mengungkapkan bahwa selama empat hari di STTAL, para kadet asal AS menjalani beberapa kegiatan. Tidak sekadar mengenal budaya Indonesia tetapi juga terjadi dialog, pemainan dan diskusi. Permainan dan diskusi tersebut terkait dengan dunia sains, teknologi, aspek sosial kenegaraan dan kebudayaan masing-masing negara.

Dirinya pun berharap bahwa program ini bisa menjadi sebuah ajang untuk membangun karakter kepemimpinan bagi para kadet TNI Angkatan Laut Indonesia. "Bagaimana (membangun) leadership dengan pengalaman seperti ini. Saya rasa ini pengalaman yang sangat berharga. Karena Bapak KASAL (Laksamana TNI Siwi Sukma Adji) selalu menekankan bahwa angkatan laut itu memiliki bargaining power dalam diplomasi. Tidak hanya militer semata tetapi juga kerjasama-kerjasama sains, kerjasama-kerjasama budaya," jelas Wakil Komandan, I Nengah.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini