Komunitas Celah-celah Langit, Ditengah Degradasi Budaya

Komunitas Celah-celah Langit, Ditengah Degradasi Budaya
info gambar utama

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki beragam budaya. Menurut website resmi Badan Pusat Statistik, Indonesia memiliki setidaknya 633 kelompok suku besar. Pada setiap suku besar ini masih memiliki sub-sub suku yang mempunyai budaya yang berbeda.

Dengan budaya yang beragam, Indonesia seharusnya patut berbangga karena dengan budaya yang beragam itu kita masih bisa hidup dengan rukun dan menghargai sesama manusia.

Dewasa ini, dengan pergeseran jaman yang serba modern. Adalah tugas kita sebagai pemuda untuk melestarikan budaya Indonesia yang sangat beragam. Ditengah arus globalisasi, terutama kota-kota besar di Indonesia mengalami adanya degradasi kebudayaan.

Dikutip dari news.detik.com, Wakil Ketua KPK, Busyro Muqqodas menilai gaya hedonisme dan konsumtif kini merasuki warga Indonesia. Budaya itu kemudian membuat orang selalu ingin mendapat sesuatu secara instan. Tidak ada lagi perjuangan dan keringat untuk bisa mencapai sebuah tujuan. Padahal sejatinya orang Indonesia menganut etos kerja keras, bersahaja dan kemandirian.

Akan tetapi beberapa pemuda di Bandung, Jawa Barat tidak hanya diam membiarkan apa yang terjadi pada bangsanya saat ini. Celah-Celah Langit adalah salah satunya. Berada di padatnya rumah penduduk, CCL berdiri dibawah asuhan Kang Iman Soleh.

Monumen peradaban ini menjadi sebuah pusat kebudayaan yang berlokasi di Ledeng, Bandung. Berganti nama menjadi Central Culture Ledeng, pada awalnya aktivitas yang dilakukan hanya berorientasi pada bidang seni rupa dan sastra. Karena para pendirinya kebanyakan seniman perupa dan penulis.

Sejak berdiri pada tahun 1986, CCL sekarang berkembang menjadi ruang kreatif bagi para seniman teater, tari dan penggiat diskusi kebudayaan yang ada di Kota Bandung. Selain itu CCL juga aktif menjadi ruang aktivitas berkesenian dan mengadakan penghargaan “CCL Award” bagi tokoh-tokoh yang berjasa bagi masyrakat sekitarnya.

Melalui bidang seni, CCL berusaha memberantas virus kebudayaan yang sedang menjangkiti masyarakat kota Bandung. Virus ini bernama krisis identitas. CCL muncul sebagai medium warga kota Bandung untuk kembali melihat sehingga dapat menemukan khususnya identitas kediriannya dan umumnya identitas kota Bandung itu sendiri.

Sumber: news.detik.com, BPS, Buku Inovasi Daerahku

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini