Beras merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat Indonesia. Konsumi beras nasional perkapita pada tahun 2017 sebesar 117 kg. Nilai ini lebih tinggi dari konsumsi perkapita negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Konsumsi beras Malaysia dan Thailand adalah 80 kg dan 70 kg per kapita.

Kebutuhan karbohidrat dengan mengonsumsi beras sangatlah tinggi. Masyarakat lupa bahwa karbohidrat tidak hanya didapat dari beras/nasi. Mengonsumi nasi saat makan seperti menjadi kewajiban bagi masyarakat khususnya yang berada di pulau Jawa.

Melihat konsumi yang tinggi ini, maka kualitas beras perlu diperhatikan. Beras berasal dari gabah yang telah dikeringkan dan dibuang kulitnya. Gabah dapat dikeringkan dengan menggunakan alat pengering dengan memanfaatkan panas. Secara tradisional gabah juga dapat dikeringkan dengan bantuan sinar matahari.

Dengan memanfaatkan sinar matahari, setidaknya dibutuhkan waktu kurang lebih tiga hari. Waktu ini dibutuhkan untuk mendapatkan gabah yang kering sempurna.

Alternatif lain dapat menggunakan mesin pengering gabah yang memanfaatkan energi termal. Namun sayangnya, mengeringkan gabah dengan alat ini dapar mengurangi kandungan gizi pada gabah. Dan membutuhkan konsumsi listrik yang cukup tinggi.

Hal inilah yang mendasari tiga mahasiswa ITS (Institut Teknologi Nopember) Surabaya meletakkan perhatiannya dalam peningkatan mutu gabah. Ketiga mahasiswa ini adalah Ahmad Bariq Al Fahri,Pinanggih Rahayu dan I Wayan Ersa Saputra.

Ketiga mahasiswa ini membuat alat pengering gabah dengan memanfaatkan fenomena wind corona. Wind corona merupakan fenomena tegangan tinggi yang timbul ketika level tegangan belum mencapai kondisi untuk dapat mengalirkan alur listrik (pre- breakdown). Wind corona ini akan menimbulkan suatu medan di antara dua elektroda.

“Dalam kasus ini, elektroda berbentuk jarum pada bagian atas dan lingkaran sebagai tempat diletakkannya gabah,” jelas Bariq dalam laman resmi ITS.

Dalam prosesnya, gabah basah diletakkan di antara kedua elektroda, tegangan akan dinaikkan secara perlahan hingga mencapai kondisi pre-breakdown. Kemunculan wind corona akan ditandai dengan desis listrik lalu gabah didiamkan hingga mengering.

“Dibandingkan dengan pengeringan konvensional, metode ini berhasil menurunkan massa air dua kali lipat lebih banyak,” ungkap Bariq.

Metode ini diklaim dapat mengeringkan gabah hanya dalam satu jam. Dan penggunaanya lebih ramah lingkungan dan tidak mengurangi kualitas pada gabah.

Bariq berharap agar penemuannya bersama tim ini mendapat perhatian dari pemerintah. Sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

Sumber : Laman Resmi ITS

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu