Kabar dimilikinya naskah tunggal negosiasi untuk Laut Cina Selatan (LCS) oleh ASEAN dan China ini disampaikan langsung oleh Menlu RI Retno Lestari Priansari Marsudi. Draft negosiasi ini dinilai berperan penting dalam proses lobby-ing China guna meredam ketegangan di LCS.

"Dari ASEAN, Indonesia menyampaikan dua hal yakni South China Sea, teman-teman tahu bahwa kita sudah memiliki satu draft single negosiasi. Draft ini merupakan proses yang cukup panjang sebagaimana saya ingin cerita, ini disiapkan pak Dirjen (Dirjen ASEAN) bagaimana kronologi kita punya negotiating text," kata Retno di Hotel Mandarin Oriental, Singapura, Kamis (2/8/2018), dikutip dari detik.

Menlu Retno berharap dengan adanya naskah tunggal negosiasi ini dapat mempermudah proses negosiasi dan mempercepat juga hasil negosiasi dengan China. Indonesia dalam hal ini menyambut baik adanya naskah negosiasi tersebut.

Menlu RI Retno dengan Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi | Foto: dok. Kemenlu RI
Menlu RI Retno dengan Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi | Foto: dok. Kemenlu RI

"Harapan kita dengan adanya teks negosiasi akan memudahkan kita untuk negosiasi dan mempercepat hasil negosiasi ini. Indonesia juga menyampaikan ada perkembangan posisitif dan untuk negoasaisi, kita harus menjaga momentum positif. Caranya, positif development di meja perundingan harus sama dengan di lapangan, dan kita minta pada semua pihak untuk melakasanakan self retreat, tak melakukan yang memperkeruh situasi," jelasnya.

Pernyataan itu disampaikan setelah Retno mengikuti pertemuan Menlu ASEAN dengan Menlu China di Singapura Expo. Retno kemudian menjelaskan jalan panjang sampai akhirnya ASEAN dan China memiliki naskah tunggal negosiasi soal Laut China Selatan.

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan mengatakan terlepas dari sengketa Laut China Selatan, bahwa kerja sama ASEAN-China telah berjalan dengan baik selama tiga tahun terakhir. "Hubungan baik ini ditopang oleh hubungan ekonomi yang kuat," katanya.

"Teman-teman ingat waktu di Bali pada Februari 2017 kita menyepakati, ASEAN-Tiongkok menyepakati plenary untuk framework code of conduct (CoC). Ini dibawa pada saat pertemuan di Kamboja pada bulan Maret kemudian dari Maret dibawa ke Guiyang pada bulan Mei 2017, Mei 2017 itu akhirnya SOM sepakat mengenai CoC frameworknya. framework ini di-endorse ASEAN-Tiongkok Agustus 2017," jelas Menlu Retno.

"Pada saat join working grup akhir 2017 ASEAN dan Tiongkok menegosiasi beberapa elemen ditambahakan dan Februari 2018 di Vietnam dilakukan pembahasan memasukkan negara ASEAN dan Juni kemarin di Changsa dilakukan kompilasi yang menghasilakn satu teks negosiasi untuk CoC," sambung Retno.

Sumber: Metrotvnews.com
Sumber: Metrotvnews.com

Retno melanjutkan, selain membahas soal Laut China Selatan, ASEAN termasuk Indonesia berbicara pentingnya multilateralisme untuk melawan proteksionisme. 

Selain dengan Cina, ASEAN juga melakukan pertemuan dengan Menlu Rusia membahas tiga prioritas yakni counter terorisme, cyber security, dan resestmen management. Dalam hal ini, kata Retno, Indonesia akan menggantikan Laos sebagai kordinator kemitraan ASEAN-Rusia.

"Dengan Rusia, Indonesia akan menjadi next koordinator untuk tiga tahun ke depan saat ini dipegang oleh Laos. Jadi kita menggantikan Laos dan tadi pada saat saya menyampaikan intervensi, saya menyampaiakan tiga prioritas yaitu satu mengenai counter terorism, dua cyber security, ketiga resestmen management, dan prioritas Indonesia disambut baik Rusia," kata Retno.


Sumber: Detik | Rakyatku

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu