Bumi semakin panas. Pendingin ruangan menjadi pilihan untuk mengurangi panas yang dirasakan. Namun masalah juga hadir ketika AC dinyalakan. Freon yang dilepaskan AC akan merusak lapisan ozon. Ozon berguna untuk menahan paparan radiasi sinar ultraviolet dari matahari.

Permasalahan inilah yang kemudian membuat dua mahasiswi IPB melakukan riset. Mereka adalah Yeyen Laorenza dan Ani Nuraeni. Kedua mahasiswi IPB ini berhasil menemukan zat untuk menggantikan freon. Dua Mahasiswi Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Bogor (FPIK IPB) memanfaatkan minyak ikan berbasis asam lemak.

Riset yang dilakukan menggunakan material peubah fasa yang berasal dari minyak ikan berbasis asam lemak atau dikenal dengan nama Marine Fish Oil Phase Change Material (MPO PCM).

Menurut Yeyen, asam lemak dapat menyimpan panas karena sifat termodinamika dan kinetik yang sesuai untuk penyimpanan panas laten suhu rendah. Minyak ikan sendiri dipilih karena termasuk dalam sumber asam lemak potensial.

Asam lemak dapat diperoleh dari limbah jeroan dan kepala ikan. Limbah ini bisa didapat dari limbah rumah tangga maupun limbah industri pengolahan ikan.

"Kelebihan asam lemak dibandingkan dengan bahan PCM (Phase Change Material) lainnya ialah stabilitas kimianya yang baik, tidak beracun, dan merupakan bahan terbarukan," kata Yeyen dalam pemberitaan Republika.

Pembuatan MPO PCM dari minyak ikan dilakukan dengan epoksidasi minyak terlebih dahulu. Tujuan dari epoksidasi ini untuk memutuskan ikatan rangkap yang terdapat pada minyak ikan. Dari hasil penelitiannya, diketahui bahwa MFO PCM mampu menyerap panas lebih besar dibandingkan minyak ikan kasar.

MFO PCM dapat diintegrasikan pada bangunan terutama pada dinding dan langit-langit. Aplikasi MFO PCM pada dinding menggunakan bentuk fins yang diisi dengan PCM sedangkan pada langit-langit menggunakan bentuk silinder.

Yeyen berharap, sistem yang telah mereka rancang dapat direalisasikan di Indonesia. Sistem ini semoga dapat mengurangi penggunaan gas freon. Karena ketika freon dilepas ke udara, baru terurai setelah bertahan 15 tahun di atmosfer.

Sumber : republika

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu