Optimisme Indonesia untuk mengungguli negara-negara tetangga perihal jumlah publikasi riset tersebut disebutkan langsung oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Mohamad Nasir seusai menghadiri acara Bhakti Inovasi: Tanam dan Panen Perdana Padi Sidenuk di Kecamatan Pulau Tinggi, Kabupaten Kampar, Riau, Kamis (09/08/18).

Menristekdikti pada saat jumpa pers seusai
Menristekdikti pada saat jumpa pers seusai menghadiri acara Bhakti Inovasi: Tanam dan Panen Perdana Padi Sidenuk di Kecamatan Pulau Tinggi, Kabupaten Kampar, Riau, Kamis (09/08/18) | Foto: Vita Ayu Anggraeni / GNFI

"Saya di akhir tahun optimis karena selisihnya hanya 700 tadinya selisihnya diangka 23,000, Malaysia 28,000 sedangkan Indonesia 5,400 tapi kan kita selisihnya di 23,000 atau 22,000. Sekarang hanya 700 ini kerja keras luar biasa. 2019 saya yakin indonesia leader di Asia Tenggara."

Hal tersebut ditunjukkan oleh pertumbuhan pesat jumlah publikasi riset Indonesia yang tadinya tertinggal jauh saat negara tetangga Malaysia berhasil mempublikasikan 28,000 riset tiga tahun silam  di waktu yang sama, Indonesia hanya mampu mempublikasikan 5,400 riset yang masuk di portal nasional. Padahal jumlah perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Indonesia jumlahnya mencapai 4,579 dengan kurang lebih 260,000 orang dosen.

Hal tersebut berhasil ditingkatkan dengan pesat dengan total di tahun 2018 ini per 7 Juli 2018 Indonesia sudah berada di angka 16,628 melampaui Singapura dengan total riset terpublikasi 12,593, Thailand 9,595 dan hanya sedikit berada di bawah Malaysia yang memiliki jumlah publikasi riset sebanyak 17,219.

Dia mengatakan hal tersebut bisa dicapai karena Indonesia memiliki potensi peneliti unggul yaitu 32 Lektor Kepala (Dosen yang menjabat sebagai Lektor Kepala) dan Guru Besar sebanyak 5.500.

"Kalau ini [Lektor Kepala dan Guru Besar] meneliti semua, maka [proyeksi] 37.000 [hasil riset yang dihasilkan," lanjutnya.

Dia juga mengimbau agar organisasi di Perguruan Tinggi dapat dirampingkan. Nasir menganjurkan dosen untuk fokus meneliti.

"Dosen harapan saya hanya mengajar dan meneliti," tukasnya.


*GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu