Ada yang Menarik pada Corak Pagar Pembatas Busway Transjakarta di Koridor 13

Ada yang Menarik pada Corak Pagar Pembatas Busway Transjakarta di Koridor 13

Ornamen gigi balang pada pembatas busway sebagai kearifan lokal © detikcom

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Ada yang pernah memperhatikan corak-corak pagar pembatas atau under pass di jalan-jalan besar di ibu kota, seperti yang tertera di gambar di atas?

Corak tersebut adalah ornamen khas Betawi, yang disebut ornamen gigi balang. Apakah itu terbuat dari gigi suatu hewan? Bukan!

Suku Betawi sebagai suku khas di daerah Jakarta, memiliki banyak kesenian dan budaya yang bahkan tanpa sadar telah menjadi bagian dari kehidupan kita khususnya yang tinggal di perkotaan sekitar ibu kota Indonesia tersebut.

Campuran berbagai suku dan etnis di Jakarta yang dulu merupakan kota pelabuhan Batavia lah yang menciptakan keragaman budaya di antara penduduknya dan juga di Jakarta hingga saat ini.

Salah satunya adalah motif berbentuk lingkaran dan segitiga yang tersusun vertikal sedemikian rupa tersebut, yang disebut gigi balang. Memang mirip dengan gigi belalang.

Ornamen itu memiliki makna filosofis dari belalang, yaitu bahwa hidup harus selalu tekun, ulet dan jujur seperti halnya belalang. Belalang mematahkan kayu dengan menggigitnya terus menerus dalam waktu yang lama. Hal ini juga menggambarkan pertahanan dan keberanian.

Ornamen khas Betawi tersebut banyak ditemukan melintang di pembatas-pembatas jalan dan busway di Jakarta, terutama di jalan layang koridor 13, serta pada listplang di rumah-rumah khas Betawi dan kantor-kantor publik di Jakarta. Dilansir dari Kumparan, ornamen tersebut juga sudah sebelumnya diaplikasikan di underpass Jalan Angkasa, Kemayoran dan jalur non tol Antasari, Jakarta Selatan.

Pengaplikasian ornamen ini di infrastruktur-infratsruktur di Jakarta mengimplikasikan bahwa pemerintah saat ini sedang gencar dalam melestarikan budaya-budaya setempat. Di Jakarta, tentunya kearifan lokal budaya Betawi yang ditonjolkan.

Di era milenial ini, tantangan melestarikan kebudayaan daerah semakin menerpa. Semakin sedikit anak-anak muda yang menyadari betapa kayanya alam, kebudayaan dan kesenian di Indonesia. Dengan penuansaan tersebut, diharapkan menjadi ajang promosi budaya Betawi khususnya menjelang Asian Games 2018 di Jakarta sebentar lagi.

Dengan banyak direkrutnya anak-anak muda dalam berpartisipasi di ajang besar tersebut, tentunya pemerintah mengharapkan agar anak-anak muda Indonesia dapat menjadi duta budayanya sendiri di mata dunia.


Sumber: Enjoy Jakarta

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Anak Indonesia Mengulik Tantangan Nasionalisme era Milenial Sebelummnya

Anak Indonesia Mengulik Tantangan Nasionalisme era Milenial

Buku Pintar, "Wikipedia-nya" Orang Indonesia Sebelum Era Internet Selanjutnya

Buku Pintar, "Wikipedia-nya" Orang Indonesia Sebelum Era Internet

Aisyah Adri
@sitiaisyahadri

Aisyah Adri

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.