Junjung Tinggi Nilai Sportifitas

Junjung Tinggi Nilai Sportifitas

https://www.wallpaperup.com/515146/INDONESIAN_FLAG_indonesia_flags.html

Negara ini penuh dengan keberagaman, kaya akan potensi alam, dan kentalnya budaya luhur semakin memperelok tempat kita berpijak ini. Negara ini satu, satu bahasa, satu kesatuan, alangkah sayangnya jika tanah tumpah darah ini tercoreng oleh mereka-mereka yang seharusnya membawa nama baik bangsa malah melakukan tindakan tidak sportif. Malu rasanya jika kemenangan yang diperoleh merupakan hasil kecurangan.

Saya seorang mahasiswa, ujung tombak negara berada di tangan saya. Dimana kepentingan rakyat adalah prioritas kami. Rakyat senang kami pun ikut senang. Rakyat sengsara kami bela. Sejak duduk di bangku SMA, saya sudah sering melihat tindakan ketidaksportifitasan teman saya. Sportifitas tidak hanya mencakup perlombaan bukan? melainkan juga ketika kita sedang menghadapi tes atau ujian. Tak bisa dipungkiri bahwa banyak dari mereka hanya mengejar nilai, nilai dan nilai. Saling berlomba mendapatkan nilai memuaskan bagaimanapun caranya. Yang ada di pikiran mereka hanyalah saya harus mendapat nilai bagus dan tidak mengikuti remedial. Alhasil mereka mengandalkan “kekuatan searching” daripada harus belajar semalam suntuk, toh menurut mereka yang dipelajari belum tentu keluar. Sesempit itulah pemikiran generasi milenial saat ini. Mereka tidak sadar bahwa bangsa ini sesungguhnya tidak membutuhkan generasi bermental seperti ini, bangsa ini butuh otak-otak cerdas yang mau diajak berpikir tanpa mengenal waktu.

Ujian sebenarnya suatu ajang untuk mengetahui sejauh mana ilmu yang sudah kita serap. Tapi nyatanya mereka berbuat tidak sportif dan meninggalkan nilai-nilai kejujuran. Mereka berkelit bahwa ini termasuk dalam usaha, usaha mendapatkan nilai terbaik. Hey teman usahamu keliru, usahamu keji, tak pantas dibilang usaha kalau kamu hanya duduk manis dan memainkan jarimu. Kau mau bangun bangsa ini dengan kekuatan jari dan kuotamu itu? Ini salah satu bukti bahwa nilai sportifitas seharusnya ditanamkan dalam berbagai aspek kehidupan.

Sportifitas? Negeri ini tak pantas menyandang predikat juara jika tidak ada nilai sportifitas di dalamnya. Sudah saatnya, kita menjadi kiblat negara lain dalam hal sportifitas, kita tunjukkan bahwa pemain-pemain Indonesia, perwakilan bangsa menang dengan cara benar. Lebih baik kalah dengan jujur daripada menang karna kebohongan. Jangan pertaruhkan harga dirimu hanya demi bisa dipandang orang. Karna menang bukan segalanya, tetapi kejujuran, itulah kepribadian anak-anak bangsa. Saya pernah mengikuti bebagai macam lomba waktu SD, salah satunya lomba Macapat atau sering dinamakan nyanyi jawa di tingkat Kota Tegal. Saya paling tidak suka jika juri yang ditunjuk berasal dari sekolah yang juga mengirimkan perwakilannya pada lomba tersebut. Entah benar terjadi atau tidak, saya merasa banyak dari mereka yang ketika menilai peserta yang berasal dari sekolah sendiri lebih mengatas namakan penilaiannya karna rasa “kasihan”. Kasihan jika kalah, kasihan karna melihat dia sudah latihan,dan rasa kasihan lainnya yang membuat peserta lain termasuk saya merasa tidak mendapat keadilan. Dan juga pemikiran “aji mumpung” masih berlaku didalamnya, “mumpung sedang menjadi juri, mumpung menilai anak didik sendiri”. Alhasil ketika pengumuman, sudah bisa dipastikan, anak tersebut mendapatkan juara, entah juara 3 maupun hanya harapan, intinya mendapat predikat JUARA. Pemikiran yang seperti inilah yang akhirnya membuat anak-anak yang sebetulnya mereka berpotensi menang, tetapi hanya karna “ulah” ini mereka harus menelan kekalahan. Imbasnya ketika anak yang menang tersebut dikirim ke tingkat yang lebih tinggi selanjutnya, mereka tidak mampu bersaing dengan peserta lain, dan sudah tidak bisa mengandalkan gurunya yang menjadi juri seperti perlombaannya kemarin.

Kemenangan sejatinya bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan skor tertinggi, kemenangan seharusnya menjadi kesempatan seseorang untuk menjadikan tolak ukur kemampuan yang mereka miliki. Bukan hanya dalam bidang yang diperlombakan, tetapi juga kepada iustitia yang mereka bangun. Dari berbagai lomba yang pernah saya ikuti, menang dengan cara sportif memiliki kesan tersendiri bagi saya, latihan demi latihan yang saya lakukan, waktu yang saya habiskan untuk terus belajar dan berlatih terbayar sudah. Beda dengan mereka yang menang dengan cara “tidak halal”, feelnya tidak dapat. Lebih dari itu integritas mereka sudah sepatutnya dipertanyakan.

Mari junjung tinggi nilai sprotifitas. Lindas habis tindakan kecurangan yang ada. Minimalisir peluang-peluang berbuat tidak adil. Lakukan segala hal dengan prinsip kebenaran. Karna sportifitas dalah ruh dari jiwa bangsa Indonesia.

#menuliskabarbaik #menuliskabarbaik #menuliskabarbaik

i sini..


Sumber:

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Sejarah Perjanjian Salatiga yang Membagi Tanah Mataram menjadi Tiga Kekuasaan Sebelummnya

Sejarah Perjanjian Salatiga yang Membagi Tanah Mataram menjadi Tiga Kekuasaan

Sejarah Di Balik Bubur Pedas Kuliner Khas Sambas Kalimantan Barat Selanjutnya

Sejarah Di Balik Bubur Pedas Kuliner Khas Sambas Kalimantan Barat

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.