Kaka, Badak Perlambang Energi dan Keramahan Asian Games 2018

Kaka, Badak Perlambang Energi dan Keramahan Asian Games 2018
info gambar utama

Tiga maskot memukau diperkenalkan pada penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta Palembang, 18 Agustus hingga 2 September 2018. Ada badak bercula satu (Rhinoceros Sondaicus) bernama Kaka, Atung yang merupakan seekor rusa bawean (Hyelaphus Kuhlii), serta Bhin Bhin sebagai representasi burung cendrawasih (Paradisaea Apoda).

Meski bukan Badak Sumatra (bercula dua) yang dijadikan maskot, namun masyarakat Palembang dan Sumatera Selatan keseluruhan, tetap bangga pada Kaka. Kenapa? Sebab, Kaka mengenakan pakaian khas Palembang yakni kain tenun songket.

“Badak ini kan gambar utamanya mengenakan kain songket. Bangga tentunya sebagai warga Sumatera Selatan, terutama Palembang. Badak satwa khas Indonesia yang langka, meski saya belum pernah melihat langsung,” kata Repa, pelajar SMA Bina Warga Palembang, usai foto dengan Kaka yang mengenakan pakaian gulat, di taman dekat Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (21/8/2018).

Repa, pelajar SMA Bina Warga Palembang, berfoto dengan Kaka di dekat Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang | Foto: Nopri Ismi
info gambar

Apa pesan yang ditangkap dari maskot Kaka? “Mungkin melambangkan kekuatan atau semangat Asian Games ini,” jawab Repa. “Selain itu, setahu saya badak nyaris punah dan harus ada perlindungan khusus. Mungkin begitu pesan lainnya,” lanjutnya.

Bukan hanya Repa atau Rizki yang berfoto dengan Kaka, beberapa warga Palembang lain yang datang ke kompleks olahraga Jakabaring untuk menonton Asian Games sejak Kamis (16/8/2018), melakukan hal serupa.

“Saya senang dengan badak, walau saya seumur hidup belum pernah melihat. Saya tahu, ada badak di Lampung dan di Ujung Kulon. Sudah langka dan dilindungi, sama seperti burung Cendrawasih dan rusa bawean yang langka dan dilindungi,” kata Taufik yang datang bersama keluarga.

“Maskot badak cukup mewakili wong Palembang, apalagi dipadukan dengan kain songket di badannya. Tampilannya makin gagah,” lanjutnya.

Kaka adalah seekor badak bercula satu (Rhinoceros Sondaicus) yang merepresentasikan kekuatan. Kaka merupakan satu dari tiga maskot Asian Games 2018 | Foto: Nopri Ismi
info gambar

Rasa bangga masyarakat Sumatra Selatan terhadap Kaka juga terlihat di Toko Merchandise Official Asian Games 2018, di depan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang. Tidak sedikit yang membeli boneka Kaka yang mengenakan kain songket, termasuk anak-anak yang ingin memiliki. “Jika anak senang dan ingin, ya kami beli. Kakak memang keren,” kata seorang ibu yang membeli boneka Kaka berwarna putih.

Boneka maskot Asian Games ini dijual dari harga puluhan ribu, ratusan ribu, hingga jutaan Rupiah.

Seorang pengunjung membeli maskot Kaka di Toko Merchandise Official Asian Games di depan Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang | Foto: Nopri Ismi
info gambar

Idris Lail, perupa Palembang, menilai maskot Kaka mengenakan kain songket Palembang cukup menarik. “Satwa yang aslinya terlihat sangar ini tampak bersahabat, menggemaskan, tanpa mengurangi simbol kekuatan. Kain songket memberi kesan keanggunan dan kesopanan,” kata Idris.

Idris yang melukis badak Sumatra di Rumah Sriksetra, sebuah rumah diskusi di Palembang, berharap dijadikannya badak jawa bernama Kaka sebagai maskot Asian Games, membawa informasi jelas bagi masyarakat. Badak harus dijaga karena jumlahnya terbatas. “Tentu juga, pesan yang sama untuk Cendrawasih dan rusa Bawean,” terangnya.

Badak sumatera merupakan satwa langka terancam punah yang dilindungi. Penyelamatannya harus dilakukan serius dan cepat. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia
info gambar

Songket Bungo Pacik

Kain songket yang dikenakan Kaka sebenarnya melambangkan bangsa Melayu, bukan hanya Palembang, beserta sejumlah wilayah lain di Asia Tenggara. Kain songket diperkirakan sudah ada sejak abad ke-9 di masa Kerajanan Sriwijaya, dan menjadi tradisi suku bangsa di Asia Tenggara.

Namun ada teori, kain songket sudah dikenal masyarakat jauh sebelum adanya Kerajaan Sriwijaya, sebab motif songket sangat mirip dengan lukisan dinding di Goa Harimau, Padangbindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatra Selatan. Di goa itu ditemukan kerangka manusia purba yang hidup ribuan tahun silam.

Pertanyaannya, jenis songket apa yang dikenakan Kaka? Jika dilihat warnanya tanpa menampilkan warna emas, hanya merah dan putih, serta adanya motif bunga bunga, diperkirakan kain songket jenis Bungo Pacik.

Badak sumatera di alam liar hingga saat ini kehidupannya tidak lepas dari kejaran pemburu yang menginginkan culanya. Jumlahnya diperkirakan sekitar 100 individu. Foto: Rahmadi Rahmad/Mongabay Indonesia
info gambar

Jika kain songket yang dikenakan Kaka itu benar jenis Bungo Pacik, maka apa maknanya? Menurut Rega Perdana Wijaya, mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Komputer Indonesia, dalam skripsi tentang kain Songket Bungo Pacik, kain songket ini berkembang di wilayah kampung Arab di Palembang Ulu. Jenis songket diperuntukkan keturunan wanita Arab. Bahan sutera ini bertabur bunga melati, mawar, maupun tanjung.

Jika dibandingkan dengan ragam hias songket lain, terlihat sebagian besar motif benang emasnya diganti dengan benang kapas putih sehingga anyaman benang emasnya tidak banyak lagi dan hanya sebagai selingan. Masyarakat Palembang menganggap songket Bungo Pacik merupakan kain songketnya masyarakat biasa.

Motif lukisan dinding di Goa Harimau ini mirip dengan motif pada kain songket | Foto: Taufik Wijaya/Mongabay Indonesia
info gambar

Ada tiga motif flora yang memiliki makna tertentu pada songket Bungo Pacik. Bunga melati melambangkan kesucian dan sopan santun. Bunga mawar melambangkan kebahagiaan dan penawar malapetaka. Sedangkan bunga tanjung sebagai lambang ucapan selamat datang dan juga sebagai lambang keramah-tamahan selaku tuan rumah.

Jadi, melihat dari jenis songket dan motifnya, Kaka merupakan simbol masyarakat biasa yang kuat. Juga sopan, ramah pada setiap tamu, dan gembira dikunjungi berbagai suku bangsa Asia.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini