Institut Teknologi Bandung ( ITB) mengirimkan bantuan berupa alat Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile untuk korban bencana gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Tujuan dikirimnya alat tersebut untuk membantu masyarakat Lombok yang sedang kesulitan air bersih. Seperti diketahui, minimnya air bersih dan sarana mandi cuci kakus (MCK) menjadi persoalan dihadapi masyarakat Lombok. 

Ditambah lagi, kondisi kekeringan kini tengah terjadi seperti di Kabupaten Lombok Utara dan Barat bagian utara yang mayoritas berada di pegunungan. Sumur-sumur menjadi dangkal karena getaran gempa menyebabkan sumurnya runtuh sehingga tertutupi pasir.

Tim ITB kirimkan bantuan unit instalasi air ke Lombok. Foto: Dok. Humas ITB/Huyogo Simbolon
Tim ITB kirimkan bantuan unit instalasi air ke Lombok. Foto: Dok. Humas ITB/Huyogo Simbolon

Kapasitas 18 Ribu Liter per Jam

Dilansir dari laman resmi ITB, IPA mobile mempunyai kemampuan produksi air bersih kapasitas 5 liter per detik atau 18 ribu liter per jam. Dengan adanya alat tersebut bisa memenuhi kebutuhan air minum, MCK untuk 500 kepala keluarga atau setara 2 ribu orang dalam keadaan normal. Jika dalam keadaan darurat atau bencana, bisa memenuhi 4 ribu-5 ribu orang.

"IPA mobile 5 liter per detik ini dirancang untuk kebutuhan penduduk yang belum memperoleh layanan PDAM, dengan sumber air baku sungai, danau, situ, atau embung," kata Bagus Budiwantoro. Dr.Ir dari Kelompok Keahlian Perancangan Mesin Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, dikutip Kompas.com.

Instalasi Pengolahan Air ITB untuk Gempa Lombok. Foto: itb.ac.id
Instalasi Pengolahan Air ITB untuk Gempa Lombok. Foto: itb.ac.id

IPA mobile akan ditempatkan di saluran irigasi hulu sungai di Kabupaten Lombok Utara karena merupakan lokasi kerusakan terparah akibat gempa. Pihaknya telah berkoordinasi dengan satker bencana Lombok untuk penempatan alat. Hasil produksi air akan disalurkan melalui 17 mobile tangki ke posko-posko pengungsian.

"IPA Mobile sesuai dengan namanya dapat berpindah-pindah tempat dan dirancang untuk daerah kesulitan air dan darurat. Alat ini dirancang bersama oleh tim dari Teknik Lingkungan, Teknik Mesin, Teknik Sipil dan Teknik Penerbangan," kata Bagus. 

Rencananya alat tersebut akan tetap berada di Lombok sampai dicabut status tanggap darurat oleh pemerintah. Dia berharap alat tersebut bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Lombok untuk kebutuhan air bersih. 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu