Mengenang Warisan Soekarno Pada Asian Games 1962

Mengenang Warisan Soekarno Pada Asian Games 1962

Bundaran HI 1976 © Sumber: Inne Nathalia

Perhelatan Asian Games ke-18 yang diadakan di Jakarta dan Palembang, Sumatra Selatan, merupakan moment untuk mengenang presiden pertama Indonesia, Soekarno yang karismatik dan visioner.

Setelah 56 tahun, Indonesia kembali menjadi tuan rumah dari ajang olahraga terbesar kedua di dunia terlepas dari kecaman mengenai lebih baik penggunaan uang yang dialokasikan untuk mewujudkan Asian Games dialokasikan untuk yang lebih membutuhkan.

Sekitar 11,326 atlit dari 45 negara di seluruh Asia memenuhi Jakarta dan Palembang untuk mengikuti pertandingan tersebut. Warisan dari Presiden Soekarno akan menjadi saksi akankah 938 atlet Indonesia menang besar kali ini.

Saat Asian Games ke-4 pada tahun 1962, negara ini berhasil menempati posisi runner up dengan raihan 51 medali, 11 di antaranya medali emas, namun pada Asian Games ke-17 yang diadakan di Korea Selatan pada 2014 lalu Indonesia hanya berada di posisi ke 17 dengan perolehan 20 medali, diantaranya 4 medali emas.

Sama halnya seperti Presiden Jokowi, Presiden Soekarno juga mendapat kecaman atas keputusannya untuk menggelar Asian Games di Indonesia pada 1962.

Menjadi tuan rumah untuk kompetisi olahraga multinasional memakan banyak biaya, namun hal tersebut tidak membuat Presiden Soekarno mengubah niatnya, karena baginya kesempatan tersebut merupakan satu platform dimana Indonesia dapat menunjukkan taringnya sebagai negara besar yang berhak mendapatkan pengakuan.

Pada saat itu, negara yang baru merdeka selama 17 tahun tersebut memiliki perekonomian yang sangat tidak stabil dimana rencana presiden tersebut dianggap terlalu ambisius.

Sarinah Thamrin department store was once the tallest building in Indonesia and was built in preparation for the 1962 Games. Nowadays, it houses thrift shops, restaurants and other businesses. (JP/Wendra Ajistyatama)

Sarinah Thamrin department store pada saat itu merupakan bangunan tertinggi di Indonesia dan dibangun selama persiapan untuk Asian Games di tahun 1962. Sekarang berfungsi sebagai toko penjual barang loak, restoran, dan bisnis lainnya | Foto: Wendra Ajistyatama / Jakarta Post

Pembangunan Stadion Gelora Bung Karno | Sumber: NetralNews
Pembangunan Stadion Gelora Bung Karno | Sumber: NetralNews

Namun, jika pada saat itu Jakarta tidak menjadi tuan rumah bagi Asian Games 1962, tidak akan ada bangunan Sarinah department store, Monumen Selamat Datang, Hotel Indonesia, jembatan Semanggi, Stadion Gelora Bung Karno, dan stasiun televisi milik negara TVRI, yang memainkan peran besar dalam menyebarkan berita dan informasi kepada warga Indonesia sebelum era internet.

Dijuluki "Emporium Indonesia" ketika pertama kali dibuka, Sarinah department store merupakan bangunan tertinggi di Indonesia. Menjadi situs bersejarah hingga hari ini karena hubungan khusus dengan Soekarno.

Ira Lathief, pendiri dan pemandu komunitas Pariwisata Kreatif Jakarta, yang mengadakan tur berjalan kaki ibu kota menyebutkan bahwa bangunan tersebut dinamai Sarinah untuk mengenang pengasuh Soekarno saat kecil.

Monumen Selamat Datang yang berada di bundaran HI juga merupakan salah satu warisan Soekarno yang penting. Menggambarkan seorang pria dan seorang wanita melambaikan tangan dengan gestur menyambut, didesain oleh gubernur deputi Jakarta pada saat itu Henk Ngantung dan dieksekusi oleh pematung Edhi Sunarso.

Patung tersebut dimaksudkan untuk menyambut 1,460 atlet dari 17 negara yang berpartisipasi dalam Asian Games 1962.

Kemudian ada pula hotel bintang lima pertama di Indonesia dibangun oleh Soekarno sebagai tempat tinggal para atlet Asian Games selama kompetisi, Hotel Indonesia.

 Ikon: Pemandangan udara dari lingkaran lalu lintas Hotel Indonesia menampilkan kompleks Hotel Indonesia asli di sebelah kanan. Hotel ini dibangun untuk rumah atlet yang berkompetisi di Asian Games 1962 di Jakarta dan masih menjadi objek wisata di kota. (JP / PJ Leo)
Ikon: Pemandangan udara dari lingkaran lalu lintas Hotel Indonesia menampilkan kompleks Hotel Indonesia di sebelah kanan. Hotel ini dibangun untuk rumah atlet yang berkompetisi di Asian Games 1962 di Jakarta dan masih menjadi objek wisata di kota | Foto: PJ Leo / Jakarta Post

Di hotel ini, yang kini bernama Hotel Indonesia Kempinski, Soekarno yang juga pencinta seni, mengenalkan budaya Indonesia melalui karya seni.

"Soekarno senang mengoleksi lukisan. Beberapa dari koleksinya masih ada disini," ucap humas eksekutif Hotel Indonesia Kempinski, Ananda Wondo.

Sebuah lukisan dari tahun 1961 berjudul Flora dan Fauna Indonesia oleh pelukis Indonesia keturunan Cina Lee Man Fong masih tergantung dalam kondisi sama seperti saat dibuat. Menurut Ananda, lukisan tersebut dibuat untuk menebus hutang yang dimilikinya pada Soekarno.

Karya seni antik lainnya di hotel ini meliputi ukiran oleh Soerono yang menggambarkan wanita muda Indonesia berpakaian tradisional Indonesia yang beragam dan ukiran tarian tradisional oleh G. Dharta.

Potret Soekarno saat meresmikan pembukaan hotel tersebut pada 5 Agustus 1962 juga tergantung di dinding hotel hingga saat ini. Set makan malam dan gunting yang digunakan dalam prosesi pemotongan pita juga ditampilkan di lantai 10 dan 11 hotel.

Tidak lupa area Bendungan Hilir untuk melihat secara dekat jembatan Semanggi, jembatan overpass pertama Indonesia yang didesain pada 1961 oleh mantan menteri pekerjaan umum Sutami dibawah perintah Soekarno untuk menyambung Jl. Sudirman dan Jl. Gatot Subroto untuk Asian Games.

 Sight to be: Sebuah pandangan udara dari Pertukaran Semanggi di malam hari. Ini adalah jembatan penyeberangan pertama di Indonesia dan dibuat pada tahun 1961 oleh mantan menteri pekerjaan umum, Sutami, di bawah perintah Presiden Soekarno untuk edisi keempat Asian Games pada tahun 1962. (JP / Seto Wardhana)
Sight to be: Penampakan jembatan Semanggi di malam hari dari udara. Ini adalah jembatan overpass pertama di Indonesia dan dibuat pada tahun 1961 oleh mantan menteri pekerjaan umum, Sutami, di bawah perintah Presiden Soekarno untuk edisi keempat Asian Games pada tahun 1962 | Foto: Seto Wardhana / Jakarta Post

Perempatan Semanggi tempo dulu | Sumber: Lakey banget
Perempatan Semanggi tempo dulu | Sumber: Lakey banget

Saat mendesain jembatan overpass tersebut, Sutami terinspirasi oleh semanggi, yang kemudian juga menjadi namanya.

“Soekarno membangun overpass tersebut untuk mengantisipasi kemacetan yang mungkin terjadi, namun ia juga menyebutkan bahwa tanaman semanggi sendiri juga merepresentasikan kesatuan,” ucap Ira.

Jika presiden Soekarno menggunakan semanggi sebagai simbol kesatuan, presiden Jokowi juga menyampaikan pesan yang sama melalui nama tiga maskot Asian Games 2018.

Tiga maskot tersebut adalah: Burung Cendrawasih Bhin Bhin dari Papua yang merepresentasikan strategi; rusa Bawean Atung, merepresentasikan kecepatan; dan badak bercula satu Kaka dari Ujung Kulon, merepresentasikan kekuatan.

Nama mereka diambil dari Bhinneka Tunggal Ika.


Sumber: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga69%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau31%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Rumah Asal Atung Akan Menjadi Kawasan Wisata Berkelanjutan Sebelummnya

Rumah Asal Atung Akan Menjadi Kawasan Wisata Berkelanjutan

Sri Mulyani Kembali Masuk dalam Daftar 100 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia Selanjutnya

Sri Mulyani Kembali Masuk dalam Daftar 100 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.