Keluarga Baru Orang Utan dari Tapanuli

Keluarga Baru Orang Utan dari Tapanuli
info gambar utama

Kekayaan alam Indonesia tidak diragukan lagi, bahkan di mata dunia. Bahkan semakin hari, semakin majunya teknologi, semakin banyak ditemukan perbedaan antara spesies yang awalnya sama sehingga terbentuklah spesies baru.

Salah satu yang baru ditemui adalah Orang utan Tapanuli. Berawal dari sekelompok peneliti yang pada 1997 melihat adanya beberapa perbedaan genetik pada populasi kecil Orang utan di Sumatera, dan baru diputuskan perbedaan tersebut menjadi kelompok spesies baru yaitu spesies Tapanuli pada 2017 lalu. Diberikan nama latin Pongo tapanuliensis.

Populasinya yang kecil juga menjadi penyebab jumlahnya yang lebih sedikit dibanding spesies Orang utan lainnya, dan menjadi penyebab spesies yang mulanya ditemukan di Batang Toru, kabupaten Tapanuli Selatan, termasuk daftar spesies langka sekaligus juga baru.

Spesies baru yang jumlahnya tidak sampai 1000 individu tersebut masih dapat terancam pembukaan lahan dan pembangunan di habitatnya sendiri. Dengan jumlah pasti sekitar 800 individu, masih terkendala fisiologi betina Orang utan yang biasanya bereproduksi 8-9 tahun sekali.

Berita baik sekaligus buruk tersebut harus dapat diatasi dengan tidak lagi memberikan izin atas hutan Batang Toru, Sumatera Utara, dengan alasan apapun kepada pengusaha dan pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

Namun tentu saja penemuan spesies yang lebih banyak menghabiskan waktu di atas pohon daripada di tanah itu sendiri telah memberikan kabar baik bagi dunia akademik, khususnya para ahli Biologi. Terutama pada Mei 2018 lalu, diketahui bahwa ada satu individu Orang utan yang telah melahirkan bayi kembar. Mereka mengatakan bahwa bayi-bayi tersebut adalah harapan untuk dapat menyelamatkan satu dari beberapa spesies kera besar itu dari kepunahan.

Mengembangbiakkan Orang utan Tapanuli berarti juga menggalakkan budidaya buah ficus, makanan mereka, yang juga memiliki banyak manfaat bagi satwa liar mau pun lingkungan. Buahnya dapat digunakan sebagai ramuan obat, daunnya dapat digunakan sebagai lalapan. Pun menguntungkan karena tumbuhnya tidak bergantung musim, sehingga pohonnya yang juga merupakan habitat satwa lain seperti serangga dan reptil, dapat menjadi alat menyerap karbon dioksidan dan timbal di udara.

Selain itu, perawatan bio-bridge, koridor tempat melintasnya Orang utan harus diperhatikan oleh pemerintah setempat. Bio-bridge Batang Toru yang diinisiasi oleh The Body Shop yang bekerja sama dengan Yayasan Ekosistem Lestari bertujuan untuk menghindari kawin silang, sehingga koridor dibuat untuk memisahkan populasi Orang utan Tapanuli menjadi blok-blok.

Yuk, ikut ambil bagian menjaga kekayaan alam Indonesia dengan cara termudah, yaitu menginformasikan dan mengedukasi lingkungan sekitar mengenai spesies baru ini!


Sumber: Mongabay

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini