Anak Gajah Sumatera Lahir Lagi di Barumun Nagari

Anak Gajah Sumatera Lahir Lagi di Barumun Nagari
info gambar utama

Suasana bahagia kembali menghampiri Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS). Kurang dari dua bulan sejak kelahiran anak gajah bernama Fitri, kini lahir lagi gajah mungil pada 29 Juli 2018, pukul 23.00 WIB, yang memang telah dinantikan kedatangannya.

Anak gajah yang belum diberi nama ini lahir dari pasangan Poppy (betina) dan Dwiky (jantan). Beratnya saat lahir sekitar 96 kilogram, tinggi badan 86 sentimeter, dan lingkar dadanya 107 sentimeter. Tim medis BNWS terus memantau perkembangan anak gajah ini 24 jam penuh.

Menurut Handoko Hidayat, Humas Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut), dengan lahirnya anak gajah sumatera ini, total gajah yang ada di BNWS sebanyak 15 individu.

Menurut dia, bertambahnya populasi gajah sumatera ((Elephas maximus sumatranus), merupakan buah manis kerja sama BBKSDA Sumatera Utara dan BNWS yang terjalin sejak 2016. Ini merupakan indikator keberhasilan upaya konservasi gajah ex situ di Provinsi Sumatera Utara.

“Diharapkan, kelahiran anak gajah ini bisa menjadi pengobat kesedihan hati, akibat kematian gajah bunta, yang baru-baru ini terjadi di Aceh,” katanya.

Ini dia bayi gajah sumatera yang lahir lagi tanggal 29 Juli 2018 di BNWS | Foto: Istimewa/BNWS
info gambar

Handoko menjelaskan, BBKSDASumatera Utara saat ini mengelola kawasan konservasi gajah ex situ di tiga tempat. Ada tiga individu gajah di Pusat Latihan Gajah Holiday Resort, Desa Aek Raso, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhan Batu. Ada 15 individu gajah di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS), Desa Batu Nanggar, Kecamatan Batangonang, Kabupaten Padang Lawas Utara, dan empat individu gajah di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun.

Hilangnya habitat menjadi ancaman utama menurunnya populasi gajah saat ini, selain perburuan dan konflik dengan manusia. “Gajah sumatera sangat bergantung pada habitat yang luas, sesuai dengan kebutuhannya akan pakan, air, dan ruang jelajah. Status konservasi gajah sumatera saat ini Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN, serta tercantum dalam lampiran I CITES,” jelas Handoko.

Sepasang gading gajah ini diamankan Polres Aceh Tamiang, Aceh, dari pelaku kejahatan. Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia
info gambar

Krismanko Padang, Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia, kepada Mongabay mengatakan, setiap kelahiran gajah di in situ maupun ex situ, merupakan kabar baik bagi konservasi gajah.

Menurut dia, diperkirakan jumlah gajah sumatera saat ini di alam liar antara 1.400-1.700 individu. Meski ada kelahiran di alam akan tetapi kematian juga terjadi akibat perburuan, konflik dengan manusia, serta perubahan habitat menjadi kebun skala besar maupun kecil.

“Dalam strategi konservasi gajah kedepannya, ini yang sedang dipikirkan agar peran gajah di wilayah ex situ bisa menambah pengayaan genetik di in situ,” jelasnya.

Ketika ditanya bagaimana menjaga populasi gajah sumatera di alam, Krismanko mengatakan, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah memperbaiki habitat. Habitat yang baik, tentunya akan membuat populasi gajah bertambah yang tentunya dibarengi penegakan hukum untuk menekan menekan terjadinya tindak pidana kejahatan satwa liar, termasuk pada gajah sumatera.

“Pemerintah sungguh-sungguh menegakkan hukum dan pengungkapan kasus kejahatan satwa liar terus dilakukan,” tandasnya.

Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS) menjalankan konsep kesejahteraan gajah dengan pakan yang baik dan tak ditunggangi. Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia
info gambar


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini