Mahasiwa Pecinta Alam Kehutanan UGM (Mapala Silvagama) Telusuri keeksotisan Taman Nasional Matalawa

Mahasiwa Pecinta Alam Kehutanan UGM (Mapala Silvagama) Telusuri keeksotisan Taman Nasional Matalawa

Foto bersama tim Ekspedisi dengan Balai Taman Nasional Matalawa ©Mapala Silvagama

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Tulis berit

Taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan dibentuk berdasarkan zonasi dalam rangka perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan plasma nutfah, dan pemanfaatan secara lestari berdasarkan kaidah-kaidah konservasi. Setiap taman nasional memiliki berbagai keunikan serta keindahan alam yang tersimpan di dalamnya sehingga hal tersebut menjadi potensi khususnya pada bidang pariwisata. Bentangan alamnya juga mengundang daya tarik bagi para penjelajah untuk mengeksplorasi kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Saat ini, di Indonesia terdapat 54 Taman Nasional yang tersebar di seluruh nusantara dan menyimpan keunikan kekayaan alamnya masing-masing. Dari 54 Taman Nasional yang ada di Indonesia, Taman Nasional Matalawa merupakan taman nasional yang masyhur dengan bentangan alam berupa savana dan hutan yang masih terjaga kevitalitasannya.

Pada bulan Agustus lalu, delapan anggota Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan UGM berhasil melakukan eksplorasi di Taman Nasional Matalawa yang terletak di Nusa Tenggara Timur. delapan anggota yang tergabung dalam tim Ekspedisi 50 Taman Nasional tersebut adalah Juju Juhariyah, Adita Fauzan Filandri W, Ardelia Reza Arthaviana, Galih Wahyu Setya A., Dede Candra S., Tegar Kukuh P., Okti Fathony Purnama, dan Evahetti Br. Ginting.

Ekspedisi 50 Taman Nasional merupakan salah satu program jangka panjang Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan UGM dalam upaya memperkenalkan hal-hal menarik maupun isu yang ada di setiap taman nasional di Indonesia yang dikemas dalam bentuk publikasi yang informatif untuk meningkatkan kesadartahuan melalui berbagai kajian ilmiah kepada khalayak umum. Pada setiap ekspedisi yang dilakukan mengangkat tema khusus sesuai dengan potensi yang dimiliki di setiap taman nasional. Pada ekspedisi yang dilakukan di Taman Nasional Matalawa ini mengangkat tema “Panglima Hutan Negeri Orang Marapu”.

Panglima hutan yang dimaksud adalah keberadaan burung Kakaktua Jambul Jingga (Cacatua sulphurea citrinocristata) dan Julang Sumba (Rhyticeros everetti) yang merupakan satwa endemik sekaligus menjadi ikon Taman Nasional Matalawa. Sedangkan Orang Marapu adalah unsur kebudayaan yang melekat di tanah Sumba, tempat Taman Nasional Matalawa berada. Sebuah tema yang memadukan antara kekayaan alam dan budaya yang menjadi nilai eksotis dari Nusa Tenggara Timur.

Taman Nasional Matalawa merupakan penggabungan dari dua taman nasional yang sama-sama berada di Pulau Sumba, yaitu Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti sehingga jika disingkat menjadi Taman Nasional Matalawa. Penggabungan taman nasional tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.7/Menlhk/Setjen/0TL.0/1/2016 yakni Taman Nasional Laiwangi Wanggameti dengan luas 41.772,18 Ha dan Taman Nasionala Manupeu Tanah Daru dengan luas 50.122 Ha.

Ekspedisi yang dilakukan di Taman Nasional Matalawa ini berlangsung selama 34 hari dengan tim yang dibagi menjadi dua subteam lagi, yaitu tim penelusuran gua dan sosial kebudayaan. Penelusuran gua dilakukan mengingat Taman Nasional Matalawa memiliki potensi alam berupa bentangan alam karst yang luas. Bentangan alam karst merupakan penyimpan cadangan air tawar yang cukup besar, sehingga data yang didapatkan dalam penelusuran bisa bermanfaat bagi masyarakat di sekitar kawasan karst. Sampai di akhir kegiatan tim berhasil menelusuri 48 gua dengan 22 gua yang berhasil di petakan di Desa Kondamaloba dan Desa Elu yang berada di Sumba Tengah serta Desa Praingkareha yang berada di Sumba Timur.

Kepala Balai Taman Nasional Matalawa, Maman Surahman. S.Hut., M.Si, mengharapkan bahwa kedepannya penelitian tentang gua ini tidak berhenti hanya pada kegiatan ekspedisi kali ini saja. Namun ada kerjasama yang berkelanjutan antara Taman Nasional Matalawa dan Mapala Silvagama.

penelusuran gua di Kondamaloba

Sedangkan tim sosial kebudayaan melakukan penelusuran mengenai 7 unsur yang ingin diangkat, yaitu bahasa, teknologi dan bangunan, religi, sistem pengetahuan, mata pencaharian, kesenian, dan organisasi masyarakat. Tim yang terdiri dari 3 orang ini menetap di empat desa yang berbatasan langsung dengan taman nasional, yaitu Desa Kondamaloba yang berada di Sumba Tengah, Kampung Tarung di Sumba Barat, serta Kampung Prailiu dan Desa Praingkareha di Sumba Timur.

“Tanah Sumba memberikan suguhan yang berbeda, khususnya keindahan alam bawah tanahnya serta adat istiadat yang masih kental dan terus terjaga. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pengelola mengenai pemetaan gua Taman Nasional Matalawa, khususnya di Desa Kondamaloba, Desa Elu, dan Desa Praingkareha. Pemetaan gua berupa peta sebaran mulut gua dan peta kenampakan gua serta interaksi sosial masyarakat terhadap kawasan mudah-mudahan dapat dijadikan pertimbangan dalam kebijakan pengelolaan.” Ujar Juju Juhariyah selaku koordinator tim lapangan Ekspedisi Taman Nasional Matalawa.

Kampung Tarung menjadi salah satu kampung yang masih menjaga kebudayaan marapu

Ekspedisi Taman Nasional Matalawa ini merupakan ekspedisi ke-18 dari rangkaian Ekspedisi 50 Taman Nasional Mapala Silvagama. Sebelumnya Mapala Silvagama telah berhasil menyelesaikan ekspedisi di Taman Nasional Komodo dan Taman Nasional Kelimutu di Pulau Flores pada Bulan Februari lalu, sehingga Ekspedisi Taman Nasional Matalawa ini merupakan penutup bagi ekspedisi yang dilakukan di Nusa Tenggara Timur. Nantinya hasil dari ekspedisi di negeri cendana ini akan dituliskan dalam sejilid buku yang memberikan publikasi yang informatif dan edukatif sebagai informasi awal kegiatan wisata minat khusus serta dapat mengenalkan keunikan dan etika berkunjung ke taman nasional kepada masyarakat luas sehingga dapat meningkatkan kesadartahuan masyarakat terhadap keberadaan dan pelestarian kawasan konservasi.

Foto bersama tim dengan warga desa

Sumber:

Tim Lapangan Ekspedisi Matalawa

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang27%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau7%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Bagaimana Persiapan Indonesia Menjadi Tuan Rumah Asian Games 1962 Dulu? Sebelummnya

Bagaimana Persiapan Indonesia Menjadi Tuan Rumah Asian Games 1962 Dulu?

Membangun Pola Pikir Agile Dalam Tim Selanjutnya

Membangun Pola Pikir Agile Dalam Tim

Hamzah Ramadhani
@hamzahramadhani

Hamzah Ramadhani

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.