Peresmian Palaeo Tapanuliensis Pada Hari Konservasi Alam Nasional

Peresmian Palaeo Tapanuliensis Pada Hari Konservasi Alam Nasional

Orangutan Borneo © Sumber: Wikipedia

Penyelenggaraan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) tahun ini diadakan di Taman Wisata Alam Batu Putih di wilayah Tangkoko, Kota Bitung, Sulawesi Utara pada tanggal 28 – 31 Agustus 2018.

Acara yang diadakan tahunan ini dilaksanakan dengan tujuan kampanye konservasi alam. Tahun ini merupakan peringatan HKAN satu dasawarwa. Beberapa hal baru di dunia konservasi seperti mulai disahkannya penemuan baru hingga penamaan hewan langka, anoa sulawesi yang lahir selamat disajikan tahun ini.

Orangutan Batang Toru atau Tapanuli lebih dekat hubungannya dengan Orangutan Kalimantan daripada Orangutan Sumatera. Mereka hidup di sebuah hutan terisolasi yang ada di pegunungan Sumatera.  Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Harapan dan Berbagai Peristiwa di Hari Konservasi Nasional 2018", https://travel.kompas.com/read/2018/08/31/111000927/harapan-dan-berbagai-peristiwa-di-hari-konservasi-nasional-2018.  Penulis : Muhammad Irzal Adiakurnia Editor : Wahyu Adityo Prodjo
Orangutan Batang Toru atau Tapanuli lebih dekat hubungannya dengan Orangutan Kalimantan daripada Orangutan Sumatera. Mereka hidup di sebuah hutan terisolasi yang ada di pegunungan Sumatra

Mengusung tema Harmonisasi Alam dan Budaya sebagai simbolisasi semangat ajakan untuk hidup selaras dengan alam, sebagaimana telah dicontohkan nenek moyang bangsa ini dalam budayanya yang kental dengan nilai-nilai pernghargaan terhadap alam, seperti yang dituturkan oleh Siti Nurbaya di acara tersebut (Kamis, 30/08/2018).

Apresiasi konservasi alam dan pemberian penghargaan Kalpataru turut dihadirkan sebagai puncak acara. Salah satunya apresiasi penemuan satwa orangutan jenis baru di daerah Batang Toru, Tapanuli Selatan, yang disebut sebagai orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Orangutan temuan jenis ketiga, setelah orangutan sumatera dan orangutan borneo.

Orangutan tapanuli ini memiliki tengkorak yang lebih kecil dibandingkan orangutan borneo dan sumatera, tetapi memiliki taring yang lebih besar.

Setelah meneliti mulai 1997, akhirnya di di akhir 2017 hewan ini ditetapkan sebagai orangutan baru, dan dalam acara ini diumumkan dan dipamerkan fotonya secara umum kepada khalayak. Meski membanggakan, ternyata statusnya Critically Endangered (kritis).

Peresmian Palaeo Tapanuliensis, merupakan jenis orangutan yang baru ditemukan, saat diresmikan oleh Meneteri LHK di acara peringatan Hari Konservasi Alam Nasional, Taman Wisata Alam Batu Putih, Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (30/8/2018).(KOMPAS.COM/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA )  Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Harapan dan Berbagai Peristiwa di Hari Konservasi Nasional 2018", https://travel.kompas.com/read/2018/08/31/111000927/harapan-dan-berbagai-peristiwa-di-hari-konservasi-nasional-2018.  Penulis : Muhammad Irzal Adiakurnia Editor : Wahyu Adityo Prodjo
Peresmian Palaeo Tapanuliensis, merupakan jenis orangutan yang baru ditemukan, saat diresmikan oleh Meneteri LHK di acara peringatan Hari Konservasi Alam Nasional, Taman Wisata Alam Batu Putih, Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (30/8/2018) | Foto: Muhammad Irzal Adiakurnia / Kompas.com

Ini dikarenakan jumlahnya hanya 800 individu dalam luas kawasan 15.000 hektar. Populasinya juga terpecah dalam dua kawasan utama (Blok Barat dan Timur), oleh lembah patahan Sumatera, dan populasi kecil di Cagar Alam Sibual-Buali di tenggara blok barat.

”Dengan penemuan ini, habitatnya sekarang harus dikelola dengan benar, tidak ada pembukaan lahan,” kata Wiratno, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian LHK dalam acara tersebut.

Selain itu ada penganugerahan Kalpataru sebagai penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup di Indonesia.

Penghargaan Kalpataru ini diberikan sejak 1981 oleh pemerintah kepada individu ataupun kelompok yang dinilai berjasa dalam pelestarian lingkungan hidup.

"Untuk meningkatkan kesadaran, membuka peluang inovasi dan kreativitas, juga mendorong prakarsa masyarakat. Tahun ini ada empat kategori, semua pertimbangannya ketat, semakin tahun semakin bagus," ucap Bambang Supriyanto, Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) dalam acara tersebut.

Empat kategori tersebut ialah perintis lingkungan, pengabdi lingkungan, penyelamat lingkungan, dan pembina lingkungan. Dari keempat kategori itu melahirkan 10 pemenang Kalpataru.

Momen HKAN juga jadi penamaan binatang khas Sulawesi yang baru lahir dengan selamat, yaitu anoa. Anoa tersebut lahir di Anoa Breeding Centre Manado, secara alamiah pada Juli 2018.

Anoa tersebut pun diberi nama Deandra yang merupakan singkatan dari kedua orangtuanya, dan diresmikan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution, dan Menteri LHK Siti Nurbaya.

Anoa merupakan salah satu satwa yang terancam punah, termasuk 25 spesies yang harus diselamatkan perkembangbiakannya di alam minimal 10 persen.

Acara lain yang diikuti Menteri LHK dan Menko Darmin antara lain deklarasi less plastic, penyerahan sertifikat penunjukan ASEAN Heritage Park kepada Taman Nasional Kepulauan Seribu dan Taman Nasional Wakatobi dan lainnya.


Sumber: Kompas.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Obyek Wisata Di Pulau Seribu Sebelummnya

Obyek Wisata Di Pulau Seribu

Catat Tanggalnya. Inilah Jadwal Gelaran Formula E di Jalanan Jakarta Selanjutnya

Catat Tanggalnya. Inilah Jadwal Gelaran Formula E di Jalanan Jakarta

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.