Beragam Gema Syukur Musim Panen di Pulau-pulau Indonesia

Beragam Gema Syukur Musim Panen di Pulau-pulau Indonesia
info gambar utama

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017, penduduk Indonesia paling banyak bekerja pada sektor pertanian, yaitu sekitar 31,86 persen atau 39,68 juta orang dari 124,54 juta total penduduk Indonesia yang bekerja.

Indonesia, dengan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian petani, kaya akan tradisi untuk mensyukuri musim panen, yang juga merefleksikan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat religius, bahwa segala nikmat yang mereka dapatkan adalah berkat rahmat tuhan.

Gema syukur atas masa panen berupa tradisi atau perayaan-perayaan terdapat di hampir tiap gugus kepulauan di Indonesia. Dari pulau Sumatera hingga pulau Papua, masyarakat petaninya memiliki cara unik dalam mengungkapkan syukur atas musim panen.

Di Sulawesi Selatan, tepatnya di Bone, terdapat tradisi adu betis atau Mappalanca.

Tradisi ini hanya boleh dilakukan oleh laki-laki dewasa, karena sesuai namanya, memang berupa adu kekuatan betis. Ini juga dilakukan setahun sekali sesuai momen panen di sana.

Pertama, dipilih laki-laki dewasa untuk membentuk dua tim. Satu tim jadi penendang dan tim yang lain berkuda-kuda agar tidak jatuh menahan tendangan tim pertama.

Namun, tidak ada pemenang dalam lomba ini karena hanya untuk menunjukkan kekuatan.

Tradisi khas Bone itu tentu berbeda dengan Seren taun, tradisi musim panen yang dilakukan masyarakat Kasepuhan di Cisungsang, Banten, Jawa Barat.

Tradisi ini berupa pemberian laporan aktivitas selama setahun oleh masyarakat adat Kasepuhan dan wejangan dari kepala adat yang dilaksanakan selama 7 hari 7 malam.

Di bumi Kalimantan, ada tradisi lain lagi, yaitu tradisi Naik dango dari Kalimantan Barat yang dilakukan masyarakat Dayak di tiga kabupaten di Kalimantan Barat yaitu Kabupaten Mempawah, Kabupaten Landak, dan Kabupaten Kuburaya.

Masyarakat dayak melakukan kegiatan tanam padi, memanen sampai menyimpan padi-padi hasil panen dengan ritual adat naik dango, yaitu tari-tarian Nimang padi sambil mengantar hasil panen ke lumbung atau disebut juga Dango.

Tak lupa juga tradisi khas musim panen dari Flores, Nusa Tenggara Timur, yang disebut upacara Penti.

Upacara ini berupa ritual dengan mengurbankan hewan seperti kerbau atau babi di rumah gendang yang dilakukan oleh penduduk Manggarai. Lalu hati dari hewan kurban diambil untuk melihat garis urat dan volume isinya agat dapat meramal hasil panen tahun depan.

Misalnya hati tersebut berat dan padat, maka diramalkan musim panen tahun depan akan penuh berkah. Begitu pula sebaliknya.

Di tanah Minang, Sumatera Barat, ada tradisi yang disebut Manongkang.

Tradisi musim panen ini dilakukan masyarakat minangkabau dengan cara meluruhkan padi ke dalam tong atau diatas tikar yang sudah dijejerkan kayu di atasnya.

Dulu, perayaan ini juga diiringi tari-tarian, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Bahkan, tradisi ini nyaris sulit ditemui saat ini karena sudah merebaknya penggunaan alat pertanian modern.

Namun, di Nagari Sungai Cupak, kabupaten Solok Selatan, tradisi ini masih dipertahankan dan juga dijadikan objek pariwisata. Seru, ya!

Perayaan syukuran musim panen di Maluku Utara juga tidak kalah seru, loh! Bahkan disebut pesta makan sembilan hari!

Tradisi unik warga Halmahera tersebur berupa acara makan-makan bersama hasil panen mereka di pondokan terbuka. Tidak harus 9 hari, kok. Perayaan ini dapat pula dilakukan semalam, sesuai kesepakatan. Perayaan ini disebut juga orom toma sasadun.

Di bumi Papua juga menggema pujian dan syukur atas musim panen, berupa pesta ulat sagu.

Keberadaan sagu yang penting bagi suku Asmat sebagai makanan pokok mereka menjadikan adanya ritual ini, yaitu berupa tari-tarian sebagai olah rasa bermakna syukur, yang hanya bisa dilakukan perempuan Asmat.

Para perempuan Asmat yang akan menari dirias dengan cat putih dari zat kapur cangkang kerang sungai pada wajah mereka dan dilukis unik hingga hampir menutupi seluruh permukaan kulit.

Tentunya kebudayaan Indonesia tidak hanya itu. Masih baanyaak sekali tradisi dan adat istiadat yang dipertahankan masyarakat Indonesia di belahan pulau lainnya. Tugas kita, nih, untuk mempelajari dan melestarikan kebanggaan tersebut!

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini