Hostel Ramah Lingkungan Ini Hasil Kolaborasi Musisi dan Arsitek Lho!

Hostel Ramah Lingkungan Ini Hasil Kolaborasi Musisi dan Arsitek Lho!
info gambar utama

Di Pulau Nusa Lembongan, Bali, musisi dan arsitek berkolaborasi mewujudkan mimpinya, yaitu model akomodasi bergaya hostel modern namun menerapkan prinsip lestari.

Ide sustainibility living ini dirintis oleh Ary “Jerinx” Astina drummer band Superman Is Dead (SID), Ady-band The Hydrant, dengan ide dari duo arsitek Archimetriz, Ni Putu Diana Surya dan I Putu Suantara Putra alias Klik.

Pada Agustus 2018, Bong Hostel yang baru beroperasi enam bulan, telah diujicobakan sistem daur ulang air, memanen sinar matahari untuk listrik, dan mengurangi alat-alat yang boros energi.

Masih banyak mimpi yang ingin diwujudkan, misal pemenuhan 100% listrik dari panel surya, membuat kebun sayur (permakultur) dan buah (aquaponik), dan lainnya. Hal yang tak kalah penting, mereka tak pelit membagi pengalaman bahkan mendiskusikan mimpi ini pada pemerintah desa Lembongan, komunitas, dan warga sekitar.

Seperti terlihat pada Sabtu (25/8/2018) dalam rangkaian grand opening akomodasi berkonsep dormitori atau hostel ini. Mereka menghelat dua diskusi bertopik pemanfaatan solar panel dan diskusi soal pariwisata berkelanjutan.

Diana Surya, salah satu arsitek dan pemrakarsa ini meluangkan waktunya menemani tur melihat Bong Hostel berpanorama laut dan Jembatan Kuning, jembatan ikonik yang menghubungkan dua pulau kecil Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

Nusa Lembongan, Nusa Penida, Bali yang makin ramai dengan turis dan akomodasi wisata. Foto : Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia
info gambar

Kolam renang berdiameter 6 meter dan setinggi 1,4 meter ini terlihat menonjol saat pertama kali tiba. Dibuat seperti mangkuk raksasa dari beton dengan motif mozaik keramik hasil kolaborasi dengan Marie, seniman mural. Airnya terlihat berwarna kehijauan. “Ini bedanya dengan air yang diisi zat kimia untuk menjernihkan,” sergah perempuan muda berusia 30 tahun ini.

Beginilah yang ia sebut kolam organik bio filter. Menggunakan mahluk hidup seperti ikan sebagai penanda kualitas air ini tak tercemar kimia.

Diana bersyukur, di sekitar kolam yang lebih cocok dipakai berendam atau bermain-main dibanding berenang ini sejuk ditutupi pohon Intaran besar. Jika tidak, lumut lebih mudah berkembang biak dan menutupi permukaan beton mangkok. Matahari dan kecukupan oksigen akan menyuburkan lumut.

Sejumlah pohon besar lainnya seperti Intaran, Santan, dan Mangga juga dibiarkan tumbuh, menjadi bagian bangunan. Bangunan yang menyesuaikan dengan tapak pohon, dan ini membuat Bong cukup teduh di tengah teriknya pesisir Lembongan.

Kolam organik dari bio filter ini tak menggunakan input kimia | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia
info gambar

Ada 36 lembar panel surya yang dipasang di area yang memungkinkan matahari terpapar lebih lama, di bagian dekat pintu masuk, menaungi parkiran motor. Dari sini, listrik tersimpan di batere-batere untuk menyimpan daya. Didistribusikan ke seluruh fasilitas elektronik yang digunakan kecuali pendingin udara.

“Kami masih bisa hidup tanpa genset, tidak seperti akomodasi lain di sini karena tiap minggu pasti ada pemadaman,” urai Diana. Perempuan mungil ini dengan gesit mengajak berkeliling, memperkenalkan Bong yang diperlakukan seperti “bayi” simbol harapannya.

Tiga unit bangunan dibagi menjadi beberapa beberapa ruangan besar berisi deretan tempat tidur. Unit seperti ini diminati turis yang melakukan perjalanan personal atau bersama dengan membawa barang secukupnya (backpacker) agar lebih lincah.

Konsep dormitori juga mendorong hemat sarana dan energi karena semua fasilitas dimanfaatkan lebih banyak orang, seperti kamar mandi, pendingin ruangan (AC), dan lainnya.

Pepohonan besar dipertahankan dan menjadi panduan tata ruang Bong Hostel. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia
info gambar

Sebagian bukit dari batu kapur dipertahankan bentuknya sehingga berundak-undak cukup terjal. Batu kapur juga dibentuk menjadi seperti paving untuk struktur tembok dan jalan setapak. Pipa-pipa besar terlihat menyembul di sejumlah sudut. Pipa dan kabel memang menjadi tambahan pekerjaan dan modal untuk mendistribusikan daya listrik dan daur ulang air dari toilet.

Tiap kamar mandi memiliki dua slot pipa di tiap toilet, pertama jalur menurunkan air ke bak penampung dan bak filter. Setelah melalui mekanisme penyaringan kotoran dan bakteri, air bersih ini diangkat lagi untuk membasuh toilet. “Kami belum menggunakannya untuk mandi padahal di Eropa air hasil filter seperti ini bahkan bisa dipakai minum,” tambah Diana, mengaitkan dengan etika dan kebiasaan saja.

Dari unit dormitori paling bawah, ruangan yang disebut Bong Box ini memiliki pemandangan laut di keseluruhan jendelanya. Seperti lukisan hidup. Laut yang dangkal dan sisi kepulauan Nusa Ceningan-Lembongan yang dihubungkan Jembatan Kuning.

Panorama laut dari bilik Bong Box di Nusa Lembongan, Bali. Konsep dormitori memungkinkan penghematan energi dan sumber daya karena satu fasilitas digunakan bersama. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia
info gambar

Tiap kamar dipasang informasi terkait penggunaan sarana agar membiasakan hidup lebih hemat sumberdaya air dan energi listrik. Dua hal yang akan menjadi komoditas mahal di masa depan.

Mimpi lain yang sedang dieram Diana dan kawan-kawannya ini sangat banyak. Misalnya pemanfaatan solar energy sampai 100% kebutuhan, memenuhi kebutuhan pangan dari kebun sayur dan buah sendiri. Membuat galeri untuk etalase produk-produk lokal, dan menggelar event-event terkait kesadaran lingkungan di Lembongan.

Agung Putradhyana yang membantu instalasi solar panel ini menyebut potensi energi optimal tiap hari antara pukul 10-2 sore, sekitar 4 jam. Potensi daya matahari rata-rata bisa 1.000 watt/meter persegi/jam. Namun panel surya saat ini baru mampu menjadikannya daya listrik sekitar 150 sampai 200 watt/meterpersegi/jam tergantung efisiensi solarcells-nya. Jadi yang bisa dipanen baru sekitar 20%. “Tiap bidang bisa transformasi ke energi. Bentuknya bisa dimodifikasi,” ujarnya soal panel.

Klik, arsitek pembuat Bong yang berkampung halaman di Lembongan menyebut banyak yang tidak tahu di atap parkiran itu panel surya. “Tapi kalau tahu mereka respek sekali. Kami tidak ingin ini hanya jadi lipstik, kami tak jadikan marketing gimmick,” paparnya tentang Bong. Ia ingin tamu mengalami dulu, baru dijelaskan jika mereka bertanya.

Ia sendiri banyak ikut seminar-seminar soal green homestay dan misi mendapatkan sertifikat. “Sertifikat kadang untuk jualan. Saya lakukan se-greenyang saya bisa, bukan karena sertifikat,” tangkis Klik.

Sebanyak 36 panel menjadi sumber energi listrik utama yang dipanen dari cahaya matahari di Bong Hostel, Nusa Lembongan, Bali. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia
info gambar

Untuk menjawab mitos mahal dari pemasangan panel surya, ia punya jurusnya. Misalnya membandingkan jika harus beli genset dan biaya perawatannya. Bahkan rumah tangga di Lembongan pun kini disebut sudah banyak yang terpaksa beli genset karena sering pemadaman listrik.

Ia juga belajar menghitung daya dan memilih alat elektronik yang lebih hemat. Misal tidak menggunakan toaster listrik untuk memanggang roti dan menggunakan alat tidak terus menerus walau watt-nya kecil. Lemari pendingin juga memerlukan daya jauh lebih banyak dibanding kulkas, karena itu ia membeli daya terkecil 120 watt dan meletakannya diperhatikan. Tidak boleh kena matahari dan tingkat dingin dikecilkan.

Memanfaatkan energi surya secara spontan mengingatkannya untuk selalu berhemat karena merasa beruntung bisa panen listrik dari matahari. Agar distribusi daya dari batere penyimpan mencukupi.

Penghematan juga dilakukan di bentuk dan tata ruang bangunan. Misal kamar mandi sepertiga bagiannya terbuka dan berada dalam satu lorong yang sama. Ini tak memerlukan pendingin udara dan lampu pada siang hari. Pintu dipasangi sensor gerak yang akan berbunyi jika pintu tak tertutup sempurna, ini untuk menghemat listrik AC yang paling boros daya.

Luas properti Bong sekitar 15 are sampai deck bawah, dan kurang dari sebagiannya menutup lahan. Ady, personil band The Hydrant menyebut tertarik dengan konsep Eco Green Hostel yang diajukan Klik dan Diana. “Saya percaya bahwa pembangunan tidak harus merubah atau menghancurkan lingkungan namun dapat dilakukan dengan mengutamakan prinsip keseimbangan alam,” katanya.

Sementara Jerinx-SID menilai model bisnis seperti ini diharapkan bisa mendorong lebih banyak inisiatif seperti ini. Setidaknya jadi diskusi dan transfer pengetahuan. Ada puluhan musisi hadir dalam pembukaan hostel ini, termasuk dari Lembongan. Dari pertunjukkan musik dan ngobrol santai, diskusi soal solar panel bisa bermula.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini