Pada Jumat (07/09) lalu, telah diselenggarakan acara bincang-bincang yang rutin diadakan oleh komunitas anak muda We The Youth, bertajuk “Youth X Public Figure” yang pada kesempatan ini bekerja sama dengan komunitas Perempuan Politik.

Mengangkat tema “Kerja (Sama) Indonesia”, acara bincang-bincang yang bertempat di Studio 1 Epicentrum XXI – Kuningan tersebut sangat ramai dan dipadati banyak anak-anak muda dan juga kawan-kawan disabilitas. Hebat sekali ya, mereka. Masih bersemangat ikut belajar dan berdiskusi padahal acara dimulai pukul 19.00 WIB, loh. 

Sebanyak 500 anak muda yang teregister oleh tim We the Youth berkesempatan untuk menyaksikan secara langsung sang tokoh, yang pada kesempatan ini adalah Menteri luar negeri perempuan pertama Indonesia, Ibu Retno Marsudi, dan pemuda Indonesia berprestasi, Tasya Kamila, mengenai pengalaman mereka dalam menjalin kerja sama dan berdiplomasi dengan negara-negara lain untuk kepentingan negara kesatuan Republik Indonesia.

Bu Retno banyak bercerita mulai dari awal tertarik menjadi duta besar dan menteri luar negeri, hingga ceritanya menjadi menteri luar negeri perempuan pertama di Indonesia. “kita ingin membuktikan bahwa perempuan ini sebenarnya, makhluk yang hebat, loh”, seru bu Retno.


Sejak dipillih pada tahun 2014 menjadi Menteri Luar Negeri wanita pertama di Indonesia, Retno LP Marsudi banyak mencetak prestasi bagi diplomasi luar negeri Indonesia dalam mendukung tercapainya visi Poros Maritim Dunia yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo. Prioritas pertama Ibu Retno Marsudi adalah menyesuaikan perencanaan dan pelaksanaan kebijakan luar negeri melalui turunan kebijakan strategis dengan penekanan pada politik bebas aktif.

“politik bebas aktif adalah ruh kita. Memang ada yang bertanya, apakah masih relevan konsep tersebut, karena bila melihat sejarahnya, itu dicetuskan karena saat itu ada dua ‘karang’. Perlu bagi kita untuk tetap memegang politik bebas aktif dengan penjuru utama national interest”, jelas bu Retno.

“prioritas kita adalah, satu: melindungi NKRI. Itu harus, dan teman-teman memiliki tanggung jawab yang sama. Yang kedua tugas diplomat adalah melindungi warga negara Indonesia yang berada di luar negeri. Ketiga, diplomasi ekonomi. Kita kerja sama dengan negara lain”, jelas bu Retno.

Indonesia ikut berpartisipasi dalam penyelesaian konflik-konflik politik maupun kemanusiaan di negara-negara sahabat. Beberapa diantaranya berkontribusi dalam kasus Rohingya, konflik Palestina, serta proses-proses birokrasi untuk menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB yang memakan waktu tiga tahun!

“aku mengikuti prosesnya selama kuliah di New York. Sampai ada kegiatan bermain angklung bersama dengan tujuan berkampanye. Proses yang panjang”, cerita Tasya.

Indonesia Africa Forum (IAF) yang diadakan di Bali tahun ini berhasil memicu rasa penasaran anak muda dengan isu high-politics. Untuk mensosialisasikan IAF, tim Kemenlu banyak menggunakan gambar ilustrasi yang menarik bagi anak muda.

Selain itu, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) juga mengikuti perkembangan teknologi dengan menerapkan digital diplomacy untuk program safe travel dan smart embassy dan kerap mengajak anak muda untuk berpartisipasi dalam kegiatan Kemenlu.

Yang terbaru, Indonesia menjadi Anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK) PBB! Hebat, ya! Lantas, apa, sih, power yang kita miliki dengan menjadi anggota tidak tetap DK PBB?

“mandat dewan keamanan adalah menjaga perdamaian dunia, apapun isu terkait keamanan dan perdamaian, masuk di situ. Kalau kita ada di dalamnya, kita bisa berkontribusi banyak. Kita bisa melindungi kepentingan nasional kita secara maksimal.”, jelas bu Retno.

“mulai 1 Januari hingga 31 Desember 2020 kita sudah mulai duduk di dalam dan memiliki suara. Oktober kita sudah bisa masuk tapi belum memiliki hak suara”.

Tahukah juga, teman-teman, bahwa Indonesia termasuk salah satu kontributor terbesar pasukan perdamaian dunia! Merekalah salah satu yang mengantarkan Indonesia menjadi DK PBB karena dengan adanya peacekeeper tersebut, track record Indonesia menjadi diperhitungkan.

Di tengah kesibukan tersebut, bagaimana ibu Retno berurusan dengan keluarga? “keluarga intinya adalah komunikasi, bagaimana kita bisa menjalin team work dengan keluarga, Anak-anak dan keluarga harus paham”, jelas bu Retno.

“Penting bagi anak muda seperti kami untuk mengerti apa itu diplomasi dan bagaimana kita bisa berdiplomasi untuk Indonesia. Terlebih lagi Kemenlu juga sering mengajak anak muda untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatannya,” ujar Ratu Dyah Ayu Widyaswari selaku Executive Director dari We The Youth.

Dalam acara Ibu Retno Marsudi mengatakan, “teman-teman semua (generasi muda) adalah duta bangsa. Contohnya apabila chef bisa memperkenalkan makanan Indonesia, itu juga diplomasi. Jadi siapapun bisa melakukan diplomasi.”

Acara yang diiringi pertunjukan ciamik dari Jason Ranti ini juga diikuti oleh teman-teman disabilitas yang dibantu oleh teman-teman dari Gerkatin dalam penerjemahan. Moderator, Akhbarry Noor, memberikan satu sesi pertanyaan untuk teman-teman disabilitas yang berlangsung meriah dengan mereka mengatakan “Aku Cinta Kamu” dengan bahasa isyarat.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu