Pada pertengahan Juni 1815. Pasukan Napoleon Bonaparte, kaisar Prancis, terjebak dalam hujan terus-menerus di Waterloo, sebuah kota kecil di sebelah selatan Brussels, ibukota Belgia sekarang. Mereka nyaris tak bisa bergerak. Tanah yang sangat becek dan licin membuat tentara mereka sangat sulit bermanufer, pun meriam-meriam besi mereka. Meriam-meriam besi yang berat berukuran ton tersebut tak mampu melewakti medan dengan kondisi seperti itu. Pasukan artileri menjadi andalan Napoleon Bonaparte dalam banyak pertempuran. Tenaga pasukan yang terkenal kuat tersebut terkuras hebat.

Di perang tersebut, Perancis dikeroyok negara-negara Eropa di mana Inggris dan Jerman menjadi motor pentingnya. Di masa itu, jalan raya yang mulus sangat jarang sekali di Eropa. Lengkap sudah derita Napoleon.

"Pasukan Prancis yang membawa kereta dengan persenjataan yang berat-berat dihalangi oleh lapisan-lapisan lumpur yang tebal. Dengan demikian bala bantuan yang diharapkan Napoleon terlambat tiba, dan akibatnya sangat fatal baginya: kekalahan di Waterloo tanggal 18 Juni 1815. Sejarah telah membuktikan bahwa peristiwa Waterloo ini telah mengubah peta dunia" seperti dikutip A.B. Lapian dalam "Nusantara: Silang Bahari" yang dimuat di buku Panggung Sejarah: Persembahan Kepada Prof. Dr. Denys Lombard (2011: 81).

Mengapa kondisi alam saat itu begitu buruknya, dan menyebabkan kekalahan Napoleon seperti ditulis Lapian? 

Siapa sangka, kondisi tak bersahabat yang dialami Bonaparte disebabkan oleh kekuatan alam yang berjarak ribuan kilomater. Tak lain adalah dampak dari erupsi gunung Tambora di Pulau Sumbawa yang menewaskan sekitar 100.000 orang, dua bulan sebelumnya.

Menurut Dr Matthew Genge dari Imperial College London yang melakukan penelitian tentang Tambora, ia menemukan bahwa abu vulkanik letusan Tambora dialiri listrik dan dapat memendekkan arus listrik ionosfer, lapisan atas atmosfer yang bertanggung jawab dalam pembentukan awan. Akibatnya terjadi pembentukan awan yang kemudian diikuti dengan hujan lebat di seluruh Eropa dan menyebabkan kekalahan Napoleon Bonaparte.

Kaldera Raksasa Tambora | dw.com
Kaldera Raksasa Tambora | dw.com

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Geologi, Rabu 22 Agustus 2018, mengkonfirmasi adanya kaitan antara letusan dan kekalahan tentara Napoleon Bonaparte. Dalam makalahnya, Dr. Genge menjelaskan letusan Gunung Tambora dapat menghempaskan abu ke atmosfer pada ketinggian yang lebih dari yang diperkirakan sebelumnya, yaitu bisa mencapai hingga 100 kilometer di atas tanah.

"Sebelumnya, para ahli geologi mengira kalau abu vulkanik terperangkap di lapisan langit yang lebih rendah karena semburan material vulkanik naik secara ringan dan perlahan," ujar Dr. Genge, seperti dikutip dari Deutsche Welle, (25/8/2018).

"Namun penelitian saya menunjukkan jika abu dapat melesat ke tingkat lapisan atmosfer atas karena kuatnya daya listrik."

Serangkaian percobaan Dr. Genge membuktikan, kekuatan elektrostatik dapat mengangkat abu jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan daya apung abu itu sendiri.

Ia menciptakan sebuah model untuk menghitung seberapa jauh abu vulkanik dengan muatan listrik bisa melesat ke langit, dan menemukan bahwa partikel yang lebih kecil bisa mencapai ionosfer selama erupsi besar.

"Batu dan abu vulkanik dapat memiliki muatan listrik negatif. Efeknya sangat mirip seperti dua magnet didorong menjauh satu sama lain jika kutub mereka sama," ujarnya.

Hasil eksperimen ini juga konsisten dengan catatan sejarah dari letusan lainnya.

"Vigo Hugo dalam novel Les Miserables pernah mengatakan jika langit dengan awan yang tak biasa cukup untuk membawa kiamat sebuah dunia. Dan kini kita sudah selangkah lebih dekat untuk memahami bagian Tambora melalui pertempuran yang terjadi dibelahan bumi lain," pungkas Genge.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu