Bali sebagai destinasi utama wisata Indonesia, memiliki banyak sekali tempat dan jenis obyek wisata. Salah satunya adalah Kebun Raya Bedugul, yang lebih populer dibanding nama resminya yaitu Kebun Raya Eka Karya, Tabanan.

Salah satu spot berlibur favorit berjarak 2 jam dari Denpasar ini merupakan kebun raksasa yang memadukan penelitian botani, pelestarian tumbuhan, pendidikan dan rekreasi. Kebun Raya ini terletak di ketinggian 1250-1450 dpl, dengan luas 157,5 hektar.

Di Taman Usada dalam kebun raya, terdapat satu papan menjelaskan tentang Lontar Usada Taru Premana. Lontar ini salah satu satu sumber pustaka utama untuk mempelajari tumbuh-tumbuhan berkhasiat obat.

Dari Lontar itu diceritakan, karena mengalami beberapa kali kegagalan dalam mengobati orang sakit, maka Mpu Kuturan pergi ke Pura Dalem memohon petunjuk Bhatari Durgha. Karena khusuk meditasinya Dewi Durgha memberikan kekuatan niskala kepada Mpu Kuturan, berupa kemampuan untuk memanggil dan berdialog dengan tumbuh-tumbuhan.

Mpu Kuturan kemudian meminta bantuan pohon beringin untuk memanggil tumbuh-tumbuhan. Mula-mula datanglah pohon salagui (Sida rhombifolia) memperkenalkan diri, dan mengatakan dagingnya berkhasiat sejuk, berguna untuk obat bayi yang baru berumur lima hari. Akarnya dapat dijadikan urap (boreh).

Kemudian datang pohon Dadap yang menyatakan dagingnya berkhasiat, kulitnya dapat dipakai mengobati perut kembung bila dicampur dengan ketumbar dan sebelas biji babolong (Melalcuka laukadendrom) diisi garam hitam.

Mpu Kuturan dengan kemampuan gaibnya dapat berdialog dengan tidak kurang dari 100 jenis tumbuh-tumbuhan yang menceritakan khasiatnya masing-masing., dengan karakteristik anget, tis dan dumalada. Artinya hangat, sejuk dan sedang-sedang saja.

Tumbuhan yang bunganya berwarna putih, kuning dan hijau mempunyai khasiat anget, sedangkan yang berbunga merah dan biru termasuk golongan yang berkhasiat tis. Bunga beraneka warna tergolong yang dumelada. Kalau ditinjau dari rasanya tumbuhan yang rasanya manis dan asam tergolong berkhasiat panas. Yang rasanya pahit atau pedas dan sepat termasuk berkhasiat tis.

Pintu masuk Taman Chytachea di Kebun Raya Eka Karya, Bedugul, Tabanan, Bali | Foto: Anton Muhajir
Pintu masuk Taman Chytachea di Kebun Raya Eka Karya, Bedugul, Tabanan, Bali | Foto: Anton Muhajir

Pengobatan tradisional Bali dikenal sebagai usada (dari bahasa Sansekerta, ausadhi: tumbuhan yang mengandung khasiat obat). Pengetahuan yang berasal dari India ini menyebar ke Bali seiring dengan perkembangan agama Hindu pada abad ke-5 M dan diwariskan secara turun-temurun melalui lontar usada (manuskrip tentang sistem pengobatan, bahan obat dan cara pengobatan tradisional yang ditulis di atas daun lontar/siwalan – Borassus flabellifer).

Di kawasan taman dengan tumbuhan berkhasiat obat ini ada juga café Usadha yang menjual minuman dari ramuan tanaman obat ini.

Taman Usada adalah salah satu spot menarik di kebun raya Bedugul karena di sini tak hanya bisa melihat bentuk aneka jenis tanaman obat, tapi juga mencoba hasil ramuannya. Sebuah café kecil berada di tengah taman dan menawarkan sejumlah minuman dari tanaman obat disini.

Misalnya segelas Secang. Diramu dari kulit kayu secang (Caesalpinia sappan L.), pohon anggota suku polong-polongan (Fabaceae). Lalu pembuatnya menambah sedikit kayu manis, gula, dan kapulaga. Warna kulit kayu membuat air menjadi merah dan aroma kayu manis serta kapulaga menambah citarasanya. Secang diyakini berkhasiat menurunkan panas dalam.

Ada juga ramuan daun kumis kucing yang berwarna hijau. Khasiatnya melancarkan air kencing. Minuman ini sih walau disajikan hangat tak cocok di udara dingin Bedugul yang sudah membuat Anda mudah mengeluarkan urine.

Taman Usada ini salah satu wujud pelestarian kearifan tradisional di bidang pengobatan. Koleksi sebanyak lebih dari 300 jenis, ditanam dalam taman seluas 1.600 m2 ini berasal dari berbagai Kabupaten di Bali dan dilengkapi dengan sarana pendidikan berupa papan interpretasi berisi penjelasan singkat mengenai tanaman koleksi tersebut serta fungsinya dalam pengobatan tradisional Bali. Sayangnya papan informasi ini tak terlalu banyak yang terbaca, hanya di beberapa jenis tumbuhan karena sudah mulai lapuk atau terlepas.

Taman Usada terletak di belakang Taman Anggrek, berjarak sekitar 800 meter dari gerbang utama.

Hutan Bambu dan Cyathea

Dari belasan spot koleksi tumbuhan dataran tinggi kering, ada hutan bambu dan cyathea (tanaman jenis paku-pakuan) yang asri. Hutan bambu saat ini baru direnovasi. Ada gerbang berbentuk batang bambu di depan.

Papan informasi mengenalkan bambu sebagai pendukung revolusi teknologi di masa lalu ketika Thomas Alva Edison yang menemukan lampu pijar menggunakan serat bambu dalam kawat yang memendarkan cahaya.

Taman Bambu di Kebun Raya di Kebun Raya Eka Karya, Bedugul, Tabanan, Bali, menampilkan aneka tanaman bambu di Indonesia | Foto Anton Muhajir
Taman Bambu di Kebun Raya di Kebun Raya Eka Karya, Bedugul, Tabanan, Bali, menampilkan aneka tanaman bambu di Indonesia | Foto: Anton Muhajir

Bambu dari berbagai daerah di Indonesia ini dikelompokkan di sejumlah sudut. Dedaunan bambu kering memenuhi area. Beberapa tempat duduk disediakan di tengah hutan dengan batang-batangnya yang melintang. Kanopi bambu yang indah.

Tiap jenis diberi papan informasi dalam bahasa latin dan daerah asal bambu. Ada juga bambu hias yang ditaruh dalam pot-pot di beberapa sudut.

Hutan bambu juga di Desa Panglipuran, Bangli, meski kurang tertata. Kabupaten ini memang terkenal dengan kerajinan bambu seperti sarana sembahyang dan kerajinan.

Hutan Bambu yang ada di Desa Penglipuran malah jauh lebih luas sekitar 45 hektar dengan berbagai jenis bambu yakni terdiri dari Bambu Petung, Bambu Jajang Aya, Bambu Jajang Abu, Bambu Tali,Bambu Papah, Bambu Suet dan jenis bambu lainnya. Kawasan ini yang menjadi bagian ekowisata Desa Panglipuran dikelola warga setempat.

Sekitar 10 menit berkendara dari hutan bambu, ada hutan cyathea yang terasa lebih dingin karena jenis tetumbuhan lembab. Patung binatang purba raksasa terlihat mencolok ketika masuk area ini.

Suasana terasa sunyi dan angin terdengar berbisik. Daun-daun berbentuk runcing seperti paku aneka jenis menyebar di taman-taman yang sangat asri.

Koleksi tumbuhan paku ini sekitar 2 hektar. Nama Cyathea berasal dari nama marga tumbuhan paku yang mendominasi kawasan tersebut. Menurut catatan Kebun Raya Eka Karya, lebih dari 80 jenis tumbuhan paku menjadi koleksi yang berasal dari Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Sumatra dan Papua.

Ada jenis paku yang dilindungi dan dilarang perdagangannya yakni paku pohon Cyathea contaminans dan Cyathea latebrosa yang tumbuh alami, serta paku kidang Dicksonia Blumei yang berasal dari Bukit Pohen, Bali.

Area ini sangat nyaman sebagai tempat santai atau tiduran. Karena lebih dingin dan minim daun kering yang berjatuhan seperti areal lainnya. Di dalam perut patung besar binatang purba ada jenis lumut yang tertata rapi. Namun, area ini kerap dikunci untuk menghindari kerusakan pada lumut yang rentan hancur.

Taman chytachea melengkapi koleksi di Kebun Raya Eka Raya Bedugul, Tabanan, Bali | Foto: Anton Muhajir
Taman chytachea melengkapi koleksi di Kebun Raya Eka Raya Bedugul, Tabanan, Bali | Foto: Anton Muhajir

Sebagian masyarakat Bali masih mengonsumsi sayur paku yang biasanya dijumpai di tebing atau sempadan sungai. Jenis yang disayur ini tanamannya rendah, dengan batang lebih lunak. Biasanya sayur paku ditumis dengan bumbu bawang merah dan putih serta cabe. Atau kalau berkuah, ditambah santan dan rempah-rempah sehingga lebih pekat.

Kebun Raya ini selalu dipadati pengunjung hampir tiap tahun, terutama libur. Kerap menjadi arena rekreasi dan outbound rombongan besar seperti pelajar dan karyawan. Di dalam juga disediakan sejumlah penginapan dengan harga bervariasi sekitar Rp 300-500 ribu per hari. Jadi, jika ingin merasakan hutan sebagai halaman rumah sendiri bisa menginap di dalam kebun raya.

Kebun Raya seluas hampir 160 hektar ini memiliki beberapa spot ikon seperti Boulevard Ramayana, jalan utama dari pintu gerbang utama menuju Kantor Administrasi Kebun Raya Bali.

Ada deretan sembilan patung dari epos Ramayana yang amat populer di Indonesia. Yakni, patung Rama dan Shinta, Rama memanah kijang, Sinta diculik Rahwana, Jatayu melawan Rahwana, Jatayu Gugur, Anoman Duta, Pertempuran Rahwana, Rahwana Gugur, dan Shinta Obong.

Disebutkan, semula kebun raya ini bertujuan untuk mengoleksi tumbuhan berdaun jarum (Gymnospermae), seperti jenis-jenis cemara dari seluruh dunia. Namun, kemudian berkembang menjadi kawasan konservasi eks-situ tumbuhan pegunungan tropika kawasan timur Indonesia, yakni dari Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Koleksi tumbuhan lebih dari 2000 jenis dengan hampir 20 ribu spesimen tanaman.

Beberapa areal koleksi khusus lainnya adalah taman anggrek, kaktus, tumbuhan obat atau taman usada, tumbuhan upacara adat, mawar, serta begonia.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu