Seribu Bubur Untuk Satu Suro di Kotagede

Seribu Bubur Untuk Satu Suro di Kotagede
info gambar utama

Berbicara soal tradisi di Indonesia memang tidak ada habisnya. Aneka ritual juga budaya yang turun temurun dilaksanakan oleh masyarakat membuat negeri ini menjadi wilayah yang subur akan keragaman khasnya.

Salah satunya yang terjadi untuk memperingati malam satu suro, yang ditandai dengan diadakannya tradisi bagi bubur di komplek makam Panembahan Senopati, Kotagede, Yogyakarta.

Terhitung sebanyak 1000 bubur suro dibagikan kepada masyarakat yang sebelumnya telah mengikuti ritual juga doa bersama saat waktu menunjukkan pukul 00.00 WIB. Pada prosesi tersebut, ritual diawali dengan datangnya para abdi dalem yang dipimpin oleh Suro Budoyo. Dua buah tumpeng pun ikut dibawa untuk didoakan bersama 1000 bubur suro yang akan dibagikan kepada masyarakat.

Tradisi Suroan | Sumber dok: CNN Indonesia
info gambar

Doa, zikir, dan tahlil pun menggema di lokasi tersebut. Ayat kursi dibaca hingga hampir satu jam. Usai doa dengan iringan kidung tembang Jawa, Suro Budoyo mulai memberikan penjelasan singkat mengenai tradisi dan ritual malam satu suro di Kotagede yang turut ditandai secara simbolis dengan hadirnya dua tumpeng dan bubur suro.

Sementara itu, tumpeng dalam filosofi Jawa disebut sebagai simbol ungkapan rasa syukur manusia kepada Tuhan. Di sisi lain, bubur suro yang terdiri atas bubur putih ditambah dengan sayur sambel goreng krecek dan lodehan juga taburan bergedel, tahu, tempe, dan ayam merupakan simbol peleburan diri manusia untuk kembali fitri/suci usai melawan angkara murka dalam dirinya.

Disampaikan pula oleh Suro Budoyo, melalui CNN Indonesia, bahwa tumpeng sejatinya ialah ungkapan rasa syukur manusia kepada Tuhan, sedangkan bubur merupakan bentuk perlawanan angkara murka. Suro adalah angkara murka yang harus ditaklukan manusia dalam hidup.

Tradisi Suroan | Sumber dok: CNN Indonesia
info gambar

Prosesi ritual tersebut pun tak hanya dibanjiri oleh masyarakat Kotagede saja, beberapanya pun ada yang berasal dari luar kota, hingga rela datang dan menginap di Kotagede selama beberapa hari sebelumnya guna dapat mengikuti tradisi padusan atau mandi di Sendang Seliran. Beberapanya mengaku mengikuti ritual ini sebagai bagian dari budaya Jawa yang harus terus dilakukan. Sebab masyarakat Jawa percaya jika bulan Suro merupakan momentum yang sakral dan sarat makna akan kekuatan magis atau supranatural, sehingga oleh para leluhur agenda tersebut diisi dengan tirakat juga doa.


Sumber: CNN Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini