Terdapat tiga tahapan pembangunan nasional menuju VIsi Indonesia 2045 yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam Rapat Kerja Nasional XVI Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) pada 27/3/2017.

“Tahapan pertama pembangunan infrastruktur ini betul-betul harus fokus dan kita selesaikan. Dengan inilah kita bisa memperkuat daya saing kita. Biaya logistik dan transportasi akan jauh lebih murah sehingga nantinya harga-harga juga bisa bersaing dengan produk-produk dari luar,” ungkapnya. Dilansir dari presidenri.go.id

Tahapan kedua dalam pembangunan nasional ialah industri pengolahan yang berbasis pada bahan-bahan mentah. Pengolahan barang mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi ini sesungguhnya telah disampaikan Kepala Negara dalam sejumlah kesempatan. Hal itu dipercaya akan memberikan nilai tambah tersendiri bagi produk-produk hasil industri Indonesia.

Adapun tahapan ketiga atau terakhir adalah pengembangan industri jasa. Termasuk di antara industri tersebut ialah pengembangan pada sektor pariwisata Indonesia. “Kekuatan kita di Indonesia ini sebenarnya adalah di industri pariwisata. Anak-anak muda masuklah ke industri ini karena amat menjanjikan. Sekarang kita baru membangun sepuluh destinasi wisata yang baru. Masuklah ke sana,” ajaknya.

Indonesia memiliki banyak sekali keberagaman budaya dan sumber daya alam yang natural, masih banyak potensi-potensi yang belum tereksplor, karena jika Indonesia sudah berhasil memanfaatkan sumberdaya alamnya menjadi sektor wisata maka Indonesia bisa menjadi negara dengan kaya akan wisata alam.

Berbicara tentang pariwisata di Indonesia, Pariwisata di Bali merupakan ibarat Ibu dari pariwisata di Indonesia. Sejak puluhan tahun yang lalu Bali menjadi tempat wisata bagi wisatawan lokal sampai mancaegara. Bahkan bagi orang luar negeri yang tidak tahu menahu tentang Indonesia kebanyakan pasti mengetahui tentang Pulau Bali.

Pulau ini dikenal sebagai pulau yang menyajikan wisata alam. Berbagai aspek yang disajikan oleh Bali untuk menjadikannya sebagai pariwisata yang sangat digemari dari waktu ke waktu yang bisa bertahan sampai puluhan tahun adalah:

  1. Lingkungan yang mendukung

Aspek-aspek dari lingkungan yang mendukung adalah Sumber daya manusia, dana, infrastruktur, sarana dan prasarana serta kesadaran masyarakat untuk banyak berperan, koordinasi lintas sektor untuk meningkatkan pariwisata, leadership adanya kepemimpinan yang mendukung dunia pariwisata di tingkat nasional, provinsi, kabupaten dan kota yang didukung masyarakat.

  1. Penciptaan Suplai

Dari segi Sumber Daya Manusia yang ada di pariwisata di Bali memiliki kondisi yang baik seperti kuliah pariwisata untuk menjadi guide, pemerintahan pusat juga mendukung melalui regulasi, penyediaan anggaran serta merealisasikannya dalam pengelolaan sistem pariwisata, dan infrastruktur.

Bali tidak hanya menjual pariwisata alam saja melainkan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Bali yang bisa mendatangkan wisatawan dari berbagai negara, hanya untuk melihat budaya lokal contohnya seperti tarian kecak, dan budaya masyarakat hindu di Bali.

Perpaduan Wisata dan Budaya yang ada di Bali menjadi perpaduan yang pas, karena manfaat dari wisata budaya bisa turut melestarikan budaya. Karena wisatawan yang turut ambil bagian dalam usaha pelestarian budaya tersebut baik langsung maupun tidak, wisatawan memiliki tujuan tertentu dalam menghadiri tujuan tersebut. Tujuan dari wisatawan sangat beragam, namun apapun tujuan dari wisatawan untuk mengunjungi wisata budaya merupakan bentuk baik dalam melestarikan budaya.

Dikarenakan Indonesia memiliki banyak pulau, bahasa, dan suku budaya. Indonesia sangat cocok untuk menjadi wisata budaya, karena wisata budaya dapat turut memperkenalkan budaya masing-masing daerah. Sehingga wisatawan yang berkunjung menambahkan wawasan baru tentang kebudayaan Indonesia sehingga wisatawan akan mengenang dan mengingatnya seperti budaya hindu di Pulau Bali, dan Suku Toraja yang berada di Kabupaten Tana Toraja.

Namun menjual wisata budaya memiliki efek negatif apabila kita terlalu menjual budaya kita sendiri, yaitu eksploitasi budaya yang berlebihan karena kepentingan pariwisata karena ada beberapa budaya di Indonesia yang bisa di anggap sakral dan tidak bisa di jual untuk kepentingan pariwisata.

Oleh karena itu sebelum menggabungkan wisata dan budaya daerah hendaknya memilih dan memilah budaya mana yang pantas untuk dijadikan wisata.


Sumber: presidenri. tempatwisataunik.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu