Berbagi Ruang Hidup dengan Orangutan di Stasiun Penelitian Ketambe

Berbagi Ruang Hidup dengan Orangutan di Stasiun Penelitian Ketambe

Orangutan © Sumber: phys.org

Stasiun Penelitian Ketambe yang berada di Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, memang identik dengan orangutan sumatera. Berada di Taman Nasional Gunung Leuser, tempat riset seluas 450 hektar ini, dikelola oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dan Forum Konservasi Leuser (FKL).

Orangutan (Pongo abelii) sangat mudah ditemui, saat bermain atau mencari makan di pepohonan. “Di sini, kehidupan orangutan tidak ada yang mengganggu. Mereka hidup tanpa ada ancaman,” terang Manager Stasiun Penelitian Ketambe, Arwin.

Menurut Arwin, petugas di stasiun selalu mengawasi siapa saja yang datang. Bagi tamu atau peneliti, dipastikan tidak boleh mengganggu tumbuhan dan satwa, termasuk orangutan yang dilihat.

“Kami membuat aturan, siapapun yang masuk ke sini tidak boleh memberi makan dan meniru suara satwa. Ini untuk menjaga satwa hidup alami,” ujar warga Desa Ketambe ini.

Stasiun Riset Ketambe memang identik dengan penelitian orangutan. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia
Stasiun Riset Ketambe memang identik dengan penelitian orangutan | Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Kehidupan orangutan di Ketambe semakin terjaga karena stasiun ini diapit dua sungai besar, Lawe Ketambe dan Lawe Alas di Aceh Tenggara. “Awalnya, pusat penelitian hanya seluas 1,5 km persegi (Rijksen 1978). Pada 1979, Dr. Chris Schrümann memperluas, mengukur, dan memetakan dengan sangat akurat sehingga menjadi 4,5 km persegi,” ungkap Arwin yang juga pernah menjadi asisten peneliti.

Pada 11 September 2018 sore, Mongabay Indonesia disambut satu induk orangutan bersama anaknya yang berumur sekitar lima tahun. Mamalia ini tidak tampak terganggu dengan keberadaan manusia, tetap memakan pucuk pohon bahkan hanya di ketinggian kurang dari 10 meter.

“Orangutan tidak akan pindah kalau tidak merasa terancam. Kami selalu memastikan, mereka aman mencari makan meskipun dekat bangunan penelitian,” ujarnya.

Orangutan sumatera yang berada di Stasiun Penelitian Ketambe hidup tanpa gangguan. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia
Orangutan sumatera yang berada di Stasiun Penelitian Ketambe hidup tanpa gangguan | Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Manager Riset FKL, Muhammad Isa,mengatakan orangutan sumatera jantan mempunyai kantung pipi lebar. Panjang tubuhnya sekitar 1,25 meter sampai 1,5 meter. Berat orangutan jantan dewasa 50-90 kilogram sementara betina 30-50 kilogram. Bulu-bulunya coklat kemerahan.

Orangutan terbagidalam 13 kantong populasi di Pulau Sumatera. Dari jumlah itu, kemungkinan hanya tiga kantong populasi yang memiliki 500 individu, sedangkan tujuh kantong populasi sekitar 250 individu.

Enam dari tujuh kantong populasi orangutan diperkirakan akan terganggu habitatnya 10-15% akibat penebangan hutan. Berdasarkan IUCN Red List, orangutan sumatera dikategorikan Kritis (Critically Endangered).

Orangutan betina bersama anaknya terpantau tengah mencari makan tak jauh dari bangunan di Stasiun Penelitian Ketambe. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia
Orangutan betina bersama anaknya terpantau tengah mencari makan tak jauh dari bangunan di Stasiun Penelitian Ketambe | Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Karena orangutan yang mudah ditemui di Desa Ketambe, wilayah ini menjadi salah satu tujuan ekowisata bagi wisatawan lokal maupun asing. Pelaku wisata di Ketambe menawarkan paket menyusuri hutan, sungai, dan melihat orangutan.

“Namun, wisatawan yang ingin melihat orangutan di dalam Stasiun Ketambe, tidak bisa masuk sembarangan. Harus mengantongi izin dari BBTNGL. Kalau di luar stasiun, cukup membayar tiket,” terang Arwin.

Orangutan sumatera yang hidup di Ketambe terus dipantau jumlahnya. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia
Orangutan sumatera yang hidup di Ketambe terus dipantau jumlahnya | Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Stasiun Penelitian Ketambe didirikan pada 1971 oleh peneliti berkebangsaan Belanda, Herman D. Rijksen yang bekerja untuk Universitas Wageningen, Belanda.

Pembangunan ini didanai oleh Netherlands Foundation for the Advancement of Tropical Research dan Netherlands Appeal of the World Wildlife Foundation. Awal pendiriannya, ditujukan sebagai lokasi rehabilitasi orangutan sekaligus pusat penelitian.

Sungai Lawe Ketambe yang tetap mengalir selama hutan Leuser terjaga kelestariannya. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia
Sungai Lawe Ketambe yang tetap mengalir selama hutan Leuser terjaga kelestariannya | Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia

Pada 1980, pengelolaan stasiun diserahkan ke Dirjen PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam) dan sejak itu Ketambe dijadikan pusat penelitian. Sementara, pusat rehabilitasi orangutan dipindahkan ke Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Hingga sekarang, Stasiun Penelitian Ketambe menjadi laboratorium alam istimewa. Menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti dalam dan luar negeri, khususnya primata.


Sumber: Diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Inilah Official Theme Song Asian Para Games 2018! Sebelummnya

Inilah Official Theme Song Asian Para Games 2018!

Tanaman Paku Selanjutnya

Tanaman Paku

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.