Indonesia Siap Menuju Masa Depan Cashless

Indonesia Siap Menuju Masa Depan Cashless

Ilustrasi cashless © Foto: Rawpixel on Unsplash

Indonesia sedang bergerak menuju masa depan tanpa uang cash (cashless) dengan fakta yang cukup percaya diri dengan penggunaan pembayaran digital atau cashless.

Delapan dari 10 warga Indonesia (76 persen) mengaku bahwa mereka bisa tidak mengeluarkan uang cash seharian, berdasarkan studi dari Perilaku Pembayaran Konsumen dari Visa pada tahun 2017.

Ilustrasi pembayaran online | Sumber: The Telegraph
Ilustrasi pembayaran online | Sumber: The Telegraph

Berdasarkan studi tersebut, lebih sedikit warga Indonesia yang membawa uang dalam jumlah banyak karena mereka lebih sering menggunakan pembayaran elektronik (57 persen) dan merasa lebih aman dalam menggunakan kartu daripada uang cash (61 persen). 60 persen dari responden menyebutkan mereka tidak keberatan untuk beralih sepenuhnya ke cashless.

Beberapa kunci tren menunjukkan kesiapan warga Indonesia untuk beralih ke sebuah negara digital di masa depan. Salah satunya adalah bertumbuh dengan mudahnya metode pembayaran digital.

Dewasa ini, masyarakat dapat melakukan pembayaran kapan saja menggenakan mobile wallets, QR codes, chat bots, virtual assistant, dan perangkat terhubung ke Internet of Things (IoT). Pengalaman baru ini belum sepenuhnya bagian dari kehidupan sehari-hari semua orang, namun mulai bertambah jumlahnya. Telah diproyeksikan bahwa 20.8 milyar perangkat terhubung akan mulai online pada tahun 2020.

Go Food | Sumber: Tirto
Go Food | Sumber: Tirto

Perpindahan menuju masa depan cashless ini juga didukung oleh meningkatnya jumlah masyarakat melek digital di Indonesia. Dalam studi terbarunya mengenai Perilaku Pembayaran Konsumen, Visa menemukan bahwa separuh dari responden dari Indonesia menginginkan Indonesia menjadi cashless society. Hampir seluruh warga Indonesia sudah pernah melakukan pembelian online, dan menariknya, 85 persen dari mereka telah melakukan pembayaran yang dilakukan dari perangkat dengan ponsel cerdas mereka - mulai dari belanja hingga memesan GoFood untuk memesan dan membayar makanan di berbagai restoran.

Dengan banyak konsumen yang mau beralih ke "100% digital" dalam perihal layanan pembayaran, sebuah set dari digital proposisi mulai muncul yang akan mengubah hampir seluruh perangkat menjadi potential Point of Sale (POS). Toko kini dapat menerima pembayaran dalam cara yang beragam, termasuk memindai QR Code dan melalui kartu kredit tanpa kontak, wearables dan digital wallets.

"Sebagaimana konsumen Indonesia menjadi lebih melek digital, mereka ingin dengan mudah berbelanja dengan instant dan aman, kapanpun, dimanapun," ucap Riko Abdurrahman, Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia.

"Visa terus berkolaborasi dengan klien dan pedagang kami dalam merangkul solusi pembayaran digital real-time dan aman, dalam upaya mendukung tujuan nasional untuk Indonesia menjadi cashless di waktu ke depan."

Ilustrasi Point of Sale (POS) | Sumber: Dignited
Ilustrasi Point of Sale (POS) | Sumber: Dignited

Baru-baru ini, Visa berkolaborasi dengan Cashlez dalam menyebarkan 5.000 perangkat mobile POS untuk menyebarkan penerimaan pembayaran tanpa kontak di destinasi wisata di seluruh negeri, termasuk Bali, Lombok, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, Medan, dan Bandung. Penawaran baru POS bukan saja berfungsi sebagai titik pembayaran, namun lokasi untuk membangun relasi dan juga memberikan apresiasi terhadap keloyalan konsumen.

Karena pembayaran menjadi lebih digital dan ancaman terhadap kerahasiaan dan integritas pembayaran meningkat, tantangan dalam keamanan pembayaran semakin akut. Dalam menanggapi tantangan ini, teknologi seperti chip EMV, enkripsi point-to-point, tokenization dan otentikasi biometrik yang lebih kuat dikembangkan secara luas untuk memperkuat keamanan pembayaran.

“Visa juga berkomitmen untuk memastikan bahwa jaringan kami beroperasi pada tingkat keamanan tertinggi yang tersedia dan akan terus mengarahkan industri pembayaran Indonesia menuju adopsi teknologi yang kuat berdasarkan standar industri, seperti chip EMV, tokenization dan point-to-point enkripsi, ”Riko menjelaskan.


Sumber: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih25%
Pilih SenangSenang25%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Indonesia Jadi Partisipan Terbanyak Aksi World Clean Up Day. Kok Bisa? Sebelummnya

Indonesia Jadi Partisipan Terbanyak Aksi World Clean Up Day. Kok Bisa?

Walikota Risma Raih Penghargaan di Singapura Selanjutnya

Walikota Risma Raih Penghargaan di Singapura

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.