Melihat Upaya Mayarakat Cilubang Mengurangi Ketergantungan di Habitat Badak Jawa

Melihat Upaya Mayarakat Cilubang Mengurangi Ketergantungan di Habitat Badak Jawa
info gambar utama

Siapa bilang perempuan kurang dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan, atau turut dalam kegiatan berorientasi ekologi?

Lihat, nih, ibu-ibu dari kampung Cilubang, desa Cibadak, Kecamatan Ciamanggu, kabupaten Pandeglang, Banten!

Bersama dengan tim Community Development dari WWF-Indonesia, sejak 2017 lalu, mereka ikut terlibat dalam kegiatan kelompok KRPL atau Kawasan Rumah Pangan Lestari yang merupakan kegiatan pemanfaatan pekarangan rumah dengan penanaman beragam sayur atau tanaman semusim untuk memenuhi kebutuhan di tingkat rumah tangga.

Eits, tentunya ini berpotensi juga, loh, memenuhi kebutuhan kampung dan warga-warga setempat!

Tidak hanya berkegiatan menanam di pekarangan pribadi, mereka juga belajar cara bercocok tanam dan mengelola lahan secara berkelanjutan, yaitu tanpa pemakaian bahan-bahan pestisida konvensional yang merusak lingkungan. Keren banget, ya!

Kegiatan belajar tersebut dinamakan Sekolah Lapangan Pertanian Ekologis atau SLPE, yaitu kegiatan pembelajaran tanaman padi, tanaman pokok masyarakat di sana. Kalau KRPL berorientasi memenuhi kebutuhan sayur dan tanaman konsumsi lainnya, SLPE berorientasi memenuhi kebutuhan makanan pokoknya!

Di SLPE diajarkan bagaimana mengelola sawah secara berkelanjutan, yaitu dengan memperhatikan ekosistem sawah dan hutan di sekitarnya, terutama di kawasan konservasi yang terdekat dari sana, yaitu Tanah Nasional Ujung Kulon (TNUK).

Anggota KRPL Cilubang berjumlah 75 orang dengan diketuai oleh Ibu Kujum, awalnya diinisiasi oleh kepala desa Cibadak, pak Oyok. Di sini, ibu-ibu yang banyak berprofesi sebagai ibu rumah tangga, petani, dan pekebun juga sambil belajar berorganisasi dan berdiskusi yang berbobot! Wah, jangan sampai kalah pintar dengan ibu-ibu, ya.

Mereka juga menemukan hambatan seperti belum terbiasa dan adanya miss seperti hewan ternak yang belum dikandangkan dan merusak pekarangan, tapi mereka tetap bersama meningkatkan keterampilan dan pengetahuan teknis agar dapat bermanfaat, khususnya bagi kelangsungan ekologi sekitar TNUK.

Ya, dengan kegiatan-kegiatan tersebut, manfaat pada aspek ekologi dan ekonomi dapat terpenuhi. Manfaat pada aspek ekologi yaitu berkurangnya praktik pertanian dan perkebunan yang tidak mempertimbangkan keseimbangan alam sekitar, termasuk wilayah TNUK.

Dampak pada aspek ekonomi, tentu saja terpenuhinya kebutuhan pokok sehari-sehari yang biasanya menjadi permasalahan khas ibu-ibu, khususnya ibu rumah tangga. Terlebih lagi, tanaman pekarangan mereka tentunya bebas bahan kimia sehingga lebih sehat.

Makanan yang sehat juga faktor yang dapat mencetak anak bangsa yang sehat dan berkualitas juga, loh!

Siklus pestisida memang bukan main-main. Pestisida bukan hanya memberantas hama tetapi juga serangga yang berguna dalam penyerbukan dan ekosistem di ladang, bahkan memberantas hewan-hewan ternak secara perlahan karena kandungan kimianya.

Kandungan kimianya juga bahkan ada yang tidak larut di air dan dikhawatirkan akan terminum oleh satwa ekosistem setempat, dalam hal ini, satwa di taman nasional setempat, yaitu badak Jawa!

Yuk, kita contoh semangat ibu-ibu ini mengurangi tekanan pada habitat ekosistem di sekitar kita. Biasakan dari yang paling sederhana, misalnya dengan membawa tumblr atau tempat minum sendiri. GNFI memiliki pilihan warna tumblr, loh, dan tentunya dengan desain keren dan kekinian bertema Indonesia! Cek di Instagram @imgood_official, ya!


Sumber: WWF-Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini