Jumlah Investasi Amazon dan Toko Tanpa Kasirnya

Jumlah Investasi Amazon dan Toko Tanpa Kasirnya
info gambar utama

Rencana Amazon, raksasa e-commerce asal Amerika Serikat, untuk menanamkan saham di Indonesia makin mengerucut. Hal tersebut setelah Werner Vogels, Vice President Amazon bertemu Presiden Joko Widodo di Hanoi, Vietnam, akhir pekan lalu.

Kabarnya, Amazon akan menanamkan modal setidaknya US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,5 triliun. Dana sebesar itu tidak sekaligus dikucurkan dalam satu paket, namun bertahap selama 10 tahun. “Mereka menyampaikan minat untuk berinvestasi dalam bentuk cloud computing,” kata Sri Mulyani, Menteri Keuangan, dikutip dari Katadata.com

Sebelum melakukan perluasan usahanya di Indonesia, pemerintah masih membahas ketentuan investasi dan perpajakan di Indonesia dengan Amazon. Menteri Keuangan mengatakan pemerintah telah berpengalaman memajaki raksasa teknologi seperti Google Inc. Pemerintah juga akan menerapkan hal yang sama untuk e-commerce asal Amerika Serikat ini.

Soal pajak e-commerce itu memang sudah dalam pembicaraan di Kementerian Keuangan. “Saya mau memastikan mereka memenuhi regulasi di Indonesia, terutama kesiapan dalam membayar pajak,” kata Sri di Forum Jamuan Makan Malam Panitia Nasional IMF Meeting di Kantor Kemenko Maritim, dikutip dari Katadata.com

Negara lain yang mendapatkan penerimaan pajak dari Google selain di Indonesia adalah Inggris, India, dan Australia. Kewajiban pajak Google per tahun mencapai Rp 450 miliar berdasarkan asumsi margin keuntungan sebesar Rp 1,6 - 1,7 triliun per tahun menurut perhitungan Direktorat Jenderal Pajak.

Setelah Singapore pada November tahun lalu, Indonesia akan menjadi negara kedua yang menjadi titik ekspansi Amazon di Asia Tenggara. Amazon memulai ekspansinya di Asia Tenggara melalui operasinya di Singapura. Di negara tetangga tersebut, Amazon mengembangkan layanan pengiriman e-commerce reguler, Amazon Prime dan Amazon Prime Now.

Amazon memiliki target pasar yang berpotensi 600 juta konsumen di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sebagaimana para pemain e-commerce global lainnya, seperti Alibaba dan Tencent yang sudah lebih dahulu masuk. Alibaba berinvestasi di Lazada dan Tokopedia sedangkan Tencent masuk melalui JD.com dan Shopee.co.id. Menurut Statista, pasar e-commerce di Asean akan tumbuh dari US$ 6 miliar pada 2015 menjadi US$ 88 miliar pada 2025.

Toko Tanpa Kasir

Pertama kali Amazon meluncurkan toko tanpa kasir di dekat kantor pusatnya, di Seattle, Amerika Serikat (AS) pada 2016 yang bernama Amazon Go. Kemudian, Amazon membangun dua toko lainnya di Seattle dan Chicago. Namun, dua toko baru itu menyajikan salad, sandwich dan makanan ringan saja.

Contohnya seperti toko yang menyediakan bahan makanan segar atau terbatas pada kelontong saja, seperti Alfamart, dan Indomaret. "Bisa juga toko di mana pelanggan bisa mengambil langsung produk dengan cepat seperti di Inggris," ujar sumber tersebut, dikutip dari Bloomberg

sumber : The Verge
info gambar

Karena tanpa kasir, pembeli dapat masuk ke Amazon Go menggunakan aplikasi di ponsel. Begitu pembeli masuk ke toko, kamera dan sensor melacak apa yang mereka ambil dari rak dan apa yang mereka pasang kembali. Secara otomatis, kamera dan sensor tersebut akan menghitung jumlah tagihan. Nah, pembeli akan menerima notifikasi atas tagihan tersebut.

Tidak menutup kemungkinan hal ini bisa diterapkan di Indonesia. Melalui kerjasama dengan minimarket yang sudah ada seperti Indomaret atau Alfamart, atau Amazon Go membuka toko swalayannya sendiri. Namun hal ini cukup menantang, karena konsumen diharuskan memiliki aplikasi di ponselnya.

Sumber : Katadata.com, Bloomberg

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini