By Ahmad Cholis Hamzah*

Pada penghujung bulan Juni 2016 yang saya berkesempatan melakukan perjalanan ke Paris, Reims Perancis, lalu ke negeri Luxembourg, terus ke Koblenz, Koln dan Frankfurt di Jerman, serta ke Leiden, Amsterdam Belanda, lalu ke Brussels Belgia, balik ke Paris dan ke Instambul Turki dalam perjalanan pulang ke tanah air.

Ketika saya kuliah S2 di Inggris pada tahun 1987 saya sudah pernah berkeliling ke beberapa Negara Eropa termasuk kota-kota yang saya sebutkan diatas. Saya tahun 1982 juga sudah menjelajahi 6 negara ASEAN dan Jepang waktu ikut program pertukaran pemuda ASEAN-Jepang.

Terus terang waktu saya keliling keluar negeri itu saya masih menjadi orang “ndeso” yang terpana dengan kemajuan Negara-negara lain yang lebih maju dari Negara kita sendiri. Maklum saya adalah generasi anak bangsa yang dilahirkan pada tahun 1950 an, yang menyaksikan persoalan kemiskinan dengan mata kepala sendiri.  Jakarta sebagai ibukota negara pada tahun 1970an disebut orang barat sebagai “the Big Village” atau Kampung Besar yang kondisinya masih kumuh. Di kota Kelahiran saya Surabaya masih di penuhi kampong yang kumuh di berbagai sudut. Waktu saya mengikuti program pertukaran pemuda ASEAN – Jepang itu saya menyaksikan sendiri, seluruh peserta dari Negara-negara lain (masing-masing Negara di wakili 35 orang) hampir sebagian besar/atau seluruhnya memiliki telpun rumah yang tertulis di buku profil peserta. Peserta dari Indonesia – seingat saya hanya dua orang yang memiliki telpun rumah, itupun di Jakarta.

Paris dalam kota | atlantic sentinel
Paris dalam kota | atlantic sentinel

Dengan pengalaman kejiwaan melihat kondisi kita belum maju seperti itu, saya jadi orang ‘ndeso” yang “plonga-plongo” (bahasa Jawa: Terpana terheran-heran) melihat kondisi kota di berbagai Negara maju termasuk ketika saya sedang kuliah di Inggris itu. Soal gedung – gedung tinggi, soal kebersihan, kedisiplinan, kemajuan teknologi dsb saya merasa heran dan takjub.

Namun ketika bulan Juni 2016 lalu, ketika saya keliling kota-kota besar di Eropa itu, ada kebanggaan saya sebagai orang Indonesia, karena saya tidak “ndeso lagi”. Terlepas dengan berbagai ketertinggalan negeri kita dengan Negara-negara lain, tapi masih ada progress atau kemajuan yang pesat di berbagai bidang. Saya tidak heran lagi ketika melewati taman di Paris atau Koblenz, sebab di Surabaya, Jakarta, Bandung dan kota-kota lainnya saya juga lihat taman seperti itu. Saya juga bangga melihat sudah banyak wisatawan atau pelajar dari Indonesia di kota-kota Eropa itu (meskipun jumlahnya masih kalah dengan Malaysia dan Cina). Jauh berbeda dengan tahun-tahun dimana saya keliling Eropa dulu,, sangat sedikit saya temui orang Indonesia. Berbagai kemajuan yang dialami Indonesia menyebabkan banyak orang yang mampu berpergian ke luar negeri.

Ketika saya melewati sudut-sudut kota Paris bahkan di daerah elit seperti Champ Elysee saya temui pengemis dimana-mana, copet juga berkeliaran di tempat-tempat keramaian seperti di stasiun KA atau Metro. Saya juga menemukan pengemis di kota Fankfurt dan Brussels Belgia. Para pengemis itu berasal dari Timur Tengah seperti Syria, Lybia, dan Afghanistan di Asia Tengah serta dari Negara-negara bekas Eropa Timur seperti Rumania dan Bosnia. Eropa saat ini memiliki masalah pelik soal immigrant dari berbagai Negara di Timur Tengah yang jumlahnya lebih dari 2 juta orang. Pikiran saya kemudian tertuju kepada Surabaya dimana sudah relative bersih dari pengemis di jalan-jalan.

Ada kebanggaan pada diri saya sebagai orang Indonesia, karena saya tidak “ndeso” lagi melihat barang-barang branded karena saya juga menemukannya di Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogyakarta dan kota-kota lainnya. Saya juga bangga menemukan banyak orang-orang Indonesia di luar negeri itu, sebagai wisatawan ataupun pelajar, bahkan saya duduk bersebelahan dengan anak muda dari Bangkalan Madura di pesawat Turkish Airline yang bekerja di Paris. Dia pulang ke Madura untuk bertemu dengan orang tuanya menjelang bulan puasa. Saya juga melihat puluhan dosen dari Makassar, Surabaya, Jogya dsb yang sedang antri di immigrasi bandara Charles de Gaulle Paris. Mereka sedang studi di berbagai Perguruan Tinggi ternama di Eropa. Pemandangan seperti itu tidak saya jumpai ketika dulu saya keliling Eropa.

Salah satu sudut Luxembourg | leroyal.com
Salah satu sudut Luxembourg | leroyal.com

Tentu Negara-negara Eropa itu memiliki kemajuan sudah lama dibandingkan dengan Indonesia, kita lihat saja system kereta api bawah tanah di London itu sudah dibangun sejak 150 tahun lalu, di Paris sejak 100 tahun lal… di Jakarta tahun-tahun ini kita masih menggali tanah untuk system kereta api bawah tanah itu. Jalan-jalan highway yang jaraknya ribuan kilometer itu mulus tidak bergelombang, dan banyak lagi kemajuan –kemajuan lainnya.

Tapi hal itu tidak menyurutkan kebanggaan saya sebagai orang Indonesia yang sudah mengalamai kemajuan di berbagai bidang terlepas dari masalah-masalah yang ada, seperti kemiskinan, korupsi, kurangnya infrastruktur di luar Jawa dsb dsb. Namun kita tidak terlalu jelek amat kok…., dan saya tidak “ndeso” lagi melihat dunia luar.


*) Lulusan University of London da Universitas Airlangga Surabaya, Dosen STIE Perbanas Surabaya da Verified Author Goodnewsfromindonesia.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu