4 Anak Bangsa yang Berkarya di Bidang Literasi

4 Anak Bangsa yang Berkarya di Bidang Literasi
info gambar utama

Di era digital seperti sekarang ini rasa-rasanya membaca buku menjadi salah satu rutinitas yang semakin sedikit pelakunya. Di Bulan Bahasa ini rasanya tepat sekali untuk membahas para pejuang literasi di Indonesia. Salah satunya, membahas anak-anak Indonesia yang berkarya dalam bidang literasi! Penasaran siapa saja? Najelaa Shihab yang akrab disapa Elaa, seorang pendidik yang telah mendirikan dan menginisiasi organisasi pendidikan membagikan salah empat dari beberapa anak Indonesia yang berkarya dalam bidang literasi melalui akun sosial medianya, berikut ke-empat anak tersebut:

1. Brians Tjipto Meidianto

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Brians berhasil memecahkan rekor MURI dengan nomor rekor 7781 saat ia berusia 11 tahun sebagai penulis buku origami termuda. Berawal dari hobinya membuat origami/kertas lipat, akhirnya ia berhasil membuat karya berupa bukunya sendiri yang berjudul “My First Origami”. Dari kegemaran melipat kertas, Brian mampu menjalankan misi yang lebih luas, seperti mengenalkan batik dan media permainan kreatif.

2. Rachel Allison Tjhin

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Saat Rachel masih duduk di bangku TK, ia menunjukkan prestasinya dalam berbagai bidang, seperti sains dan matematika dan juga seni.

Selama tahun 2015-2016 di TK 1 di Bina Bangsa School, Semarang, Rachel menorehkan beragam prestasi pada kejuaraan matematika, Bahasa Inggris, sains, melukis, dan robotik.

Berdasarkan kisah nyata, di usia 5 tahun, ia telah menulis sebuah buku yang berjudul “Koko I Miss you, Daddy I love you”, yang merupakan beberapa kompilasi menggambar Rachel. Melalui gambar dan tulisan-tulisan, ia ingin mengungkapkan perasaannya, bagaimana Rachel merindukan kakaknya dan mencintai keluarganya.

Rachel berhasil memecahkan rekor MURI sebagai penulis buku autobiografi termuda.

3. Fayanna Ailisha Davianny

Fayanna Ailisha Davianny dan ayahnya, Martono Asmari, usai diskusi tentang literasi di Jakarta Mei lalu. (FERLYNDA PUTRI/Jawa Pos)
info gambar

Nah, kalau Fayanna, justru telah berhasil membuat 42 judul buku, lho! Padahal umurnya baru 13 tahun. Keren, kan? Kalau dirata-rata, dengan karya pertama yang berjudul "Juiceme: Tersandung Hobiku" lahir saat berusia 8 tahun, tiap tahun dia menelurkan 5-6 buku. Atau kira-kira 1 buku setiap dua bulan.

Awalnya Fayanna senang membaca karena sering dibacakan buku dongeng oleh ibunya, lalu ia pun tertarik untuk membuat buku yang ia tulis sendiri. Fayanna berhasil meraih berbagai penghargaan di tingkat nasional, lho.

4. Nadia Shafiana Rahma

Sumber: Facebook Nadia
Nadia saat berada di Frankfurt untuk memamerkan karyanya | Sumber: Facebook Nadia

Kamu tahu di mana letak kota Frankfurt? Ya, benar sekali, Jerman! Kalau mungkin kebanyakan dari kita pergi ke Eropa untuk berjalan-jalan atau bahkan belum berkesempatan untuk mengunjunginya, Nadia justru ke sana untuk memamerkan karyanya, lho!

Pada tahun 2015, Nadia diundang untuk menghadiri Frankfurt Book Fair di Jerman. Ia sudah menulis sejak usia 4 tahun dan karyanya yang berjudul “ Si Hati Putih” telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris.

Nadia yang sat itu masih berumur 11 tahun menjadi peserta pameran sekaligus pembicara termuda dari Indonesia. Tak hanya datang sebagai peserta ia juga memenangi kompetisi di posisi harapan dua dari 165 penulis cilik yang berpartisipasi.

Di hadapan anak-anak Jerman, gadis kecil ini sempat menceritakan kisah rakyat dari Gunungkidul yakni Asal Mula Nyamuk Mendengung.

Sumber: @najelaashihab | MURI | Jawa Post | Detik

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini