Mengapa Saya Mengambil Peran?

Mengapa Saya Mengambil Peran?
info gambar utama

Selayaknya seorang pembelajar, saya banyak belajar dari para pendahulu saya, guru intelektual-spiritual saya soal menjadi seorang penyampai pesan. Seiring berjalannya waktu, entah, secara tidak sadar ataupun disadari, di beberapa kesempatan, saya banyak berbagi dengan teman-teman, diundang sebagai ini dan itu, diminta berbicara ini dan itu, sedangkan di saat yang sama, saya tidak pernah mengharapkan bisa berdiri di hadapan banyak orang dalam sebuah forum, bisa jadi di seminar, workshop, apa pun itu.

Lalu, mengapa saya (mau-maunya) mengambil peran bicara (dan menulis, tentu saja)? Bukan tanpa sebab ketika saya harus bergelut dengan dunia semacam ini. Apakah ini sebuah kebetulan, karier, pekerjaan sampingan, aktivitas selingan, tuntutan semesta, atau tuntunan Tuhan? Entah. Saya tidak pernah berpikir sampai di fase ini. Namun, dengan tetap pada arahan dan bimbingan para guru, saya memilih maju ke depan untuk mengambil peran ini. Lagi-lagi, mengapa? Dengan alasan apa?

Ini berawal ketika banyak kegusaran menimpa saya, lebih spesifik mengenai kegusaran soal defisitnya anak muda yang berkemauan maju ke depan, belum lagi banyaknya orang yang berbicara tanpa punya otoritas keilmuan dan kredibilitas peran. Sekali lagi, temuan ini saya temukan di lingkungan saya, sementara ini. Pertama, soal anak muda yang (saya lihat) mulai memilih awam. Saya yakin, bukan soal apa-apa. Mereka punya banyak potensi dan prestasi. Tetapi, di saat yang sama, mereka kekurangan ruang bicara dan sedikit tidak percaya diri ketika disandingkan dengan liyan. Akibatnya, banyak anak-anak muda keren yang tenggelam ke dasar.

Maka, yang terbaik adalah menghadirkan banyak ruang bicara, setidaknya ruang diskusi kecil-kecilan, agar kaula muda mulai terbiasa perihal bicara. Seiring kebiasaan berbicara, kepercayaan diri terhadap muka orang lain kian terpupuk sedikit demi sedikit, tentu dibarengi dengan banyak belajar, belajar di ruang-ruang kelas dan kehidupan, kemudian mendialogkannya, agar tercapai kredibilitas intelektual-emosional-spiritual tentu saja.

Nah, bagaimana soal orang-orang yang (sebetulnya) tidak punya otoritas keilmuan, lalu berbicara di muka umum, tentang sebuah topik yang (dianggap) prestisius, kemudian diamini oleh suara mayoritas, bahkan ketika menyampaikan bab agama sekalipun? Dari pengalaman pribadi, lagi-lagi, saya banyak menjumpai hal-hal seperti ini. Miris? Sangat. Ngeri? Sudah pasti. Bayangkan saja ketika ilmu disampaikan oleh orang-orang macam di atas.

Tetapi, pertanyaannya, apakah saya diam saja? Lebih tepatnya kita. Baik. Apakah kita diam saja, tentu ketika menjumpai fenomena seperti itu? Sebagai orang yang berakal, Anda telah tahu jawaban terbaiknya, bahkan ketika saya tidak menanyakannya lewat tulisan ini. Belum lagi merebaknya cara belajar instan (via medsos, baik postingan, pesan berantai, maupun video), menambah linglung kepala. Ini belum lagi kalau bicara soal agama. Hadeh.

Dari itu, pendek kalimat, dan entah mengapa Tuhan menjalankan candaan semesta sebegininya, saya mengambil peran bicara. Ya kadang berbicara lewat lisan, kadang lewat tulisan, sekenanya. Apa-apa yang saya utarakan di atas menjadi jelas, mengapa saya tampak seperti gambar di atas.

Seru? Jujur, saya juga merasa belum pantas. Tetapi, apakah saya rela membiarkan fenomena pilu yang telah terjadi terlewat begitu saja? Sebagai seorang yang dididik di lingkungan pesantren-kampus, saya merasa berdosa ketika melakukan pembiaran. Dengan kebisaan saya yang serba terbatas, saya pelan-pelan mengambil wilayah bicara, sebisa saya. Toh kebisaan ada akibat kebiasaan juga kan? Jadi, biasakan saja berbicara di banyak forum.

Bukankah perintah 'menyampaikan' ada sebagai salah satu sifat Nabi? Tabligh, communicating. Kita pasti menerima banyak kebaikan (ilmu dan semacamnya) dari guru-guru kita, atau teman-teman di sekitar kita, atau bahkan dari benda mati di semesta ini. Apakah kita rela jika hal baik itu berhenti di diri kita, lalu tidak berkenan menyampaikannya kepada orang lain? Atau memang kita ingin meraih surga dengan menimbun ilmu di kepala kita, lalu mati bersama ilmu-ilmu yang bertumpuk?

Ini soal pilihan. Pilih mana, menjadi buruk atau baik? Menjadi baik atau lebih baik? Menjadi lebih baik atau terbaik? Anda bisa berpikir sendiri. Tetapi, selayaknya manusia yang dianugerahi akal, menyampaikan kebaikan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan ketika zaman sudah mulai tidak baik, meskipun kita tetap harus optimistis bahwa zaman masih baik-baik saja, itu pun selama Anda tetap mau berbuat baik, dan tentu saja; menyampaikan kebaikan.

Pada akhirnya, karena saya bukan pengimbau, apalagi pemerintah, saya tidak bisa berbuat banyak untuk mengimbau, menyarankan, apalagi memerintah kepada khalayak untuk mengambil peran. Anggap saja saya seorang peminta-minta, maka saya akan lebih pantas untuk meminta teman-teman semuanya untuk mengambil peran. Saya tidak meminta Anda menjadi orang hebat nan rupawan dahulu untuk berbuat apa-apa. Tidak perlu muluk-muluk. Sederhana saja. Jalankan peran Anda di tempat Anda, di wilayah Anda, sesuai otoritas Anda. Jika Anda seorang penggembala sepuluh domba, gembalalah sepuluh domba, jangan menggembala sebelas atau lebih domba, apalagi menggembala unta, lalu jangan sampai coba-coba mengemudikan pesawat terbang, kecuali Anda telah kursus mengemudi sebelumnya.

Apa artinya? Ketika Anda memang bisa menggembala, gembalalah. Ketika Anda bisa mengambil peran bicara (menyampaikan pesan kebaikan), sampaikanlah. Anda menggembala sepuluh domba, bukan lebih. Jika Anda hanya mampu menyampaikan 10 bentuk kebaikan, sampaikanlah 10 itu, jangan 11, saya khawatir 1 kebaikan itu didapat dari proses mengkhayal atau mengada-ada. Jika yang mampu Anda gembala adalah kambing, jangan menggembala unta. Jika yang mampu Anda sampaikan hanya soal nilai-nilai kejujuran, optimisme, motivasi menulis, dan hal-hal di sekitarnya, jangan menyampaikan soal neraca keuangan negara, peta persebaran kucing di dunia, apalagi Tuhan ada di mana.

Tak pelak akhir-akhir ini kita dihadapkan pada fenomena “nyinyir” lebay (namanya juga nyinyir, pasti lebay) terhadap kinerja manusia-manusia yang dianggap sangat bermasalah dan menelurkan masalah, bisa tokoh intelektual atau pihak pemerintah misalnya. Sedangkan dari track record dan kapasitas keilmuannya sudah banyak memberikan gambaran kebisaan bahwa ia mampu melakukan pekerjaan itu. Lebih baik, dan paling baik, Anda menjadi bagian dari solusi akan masalah tersebut. Saya juga tidak habis pikir, ketika kritik itu digelindingkan, sang pengkritik lupa bahkan enggan sepakat bahwa sebetulnya ia adalah bagian dari solusi itu sendiri.

Iya, iya, kritik itu penting sebagai instrumen pendewasaan seseorang atau pihak tertentu. Tetapi, siapa kamu? Sudah belajar secara komprehensif soal apa-apa yang kamu kritik? Melihat fenomena yang dianggap bermasalah, sektor pendidikan misalnya, saya memiliki ide bagus. Anda bisa pergi ke daerah pelosok negeri yang paling terpelosok (dengan uang sendiri, tanpa harus merepotkan orang tua dan pemerintah) untuk mengajar anak-anak dan masyarakat soal huruf dan abjad, tanpa dibayar. Itu kritik tindakan sekaligus jawaban yang membuat Anda elegan, membungkam siapa saja bahwa Anda memang seorang pengkritik, dan di saat yang sama, Anda adalah pahlawan.

Sama dengan fenomena yang saya lihat belakangan ini. Selain melakukan kritik melalui tulisan ini, saya merespons tindakan orang-orang yang tanpa otoritas bicara dengan melakukan tindakan bicara itu sendiri. Adegan bicara saya mungkin sering tampil di permukaan, tetapi di paling dasar, saya juga melakukan aktivitas selain berbicara, sama seperti Anda ketika melakukan aktivitas kebaikan di wilayah Anda. Jika berbicara sama saja dengan mengajar, dan mendapatkan ilmu adalah jatah dari setiap pembelajar, maka sebuah keniscayaan bahwa mengajar adalah tugas setiap insan terpelajar.

Ajarkanlah kebaikan, sampaikan hal-hal baik, di wilayah Anda, dengan penuh keyakinan (saya) bahwa Anda semua adalah orang-orang yang mulia. Jika Anda seorang mahasiswa, jangan menyontek ketika ujian. Dari situ, Anda telah memberikan teladan, lalu secara tidak langsung Anda memberikan pesan ke teman sekelas bahwa menyontek adalah perbuatan tercela (meskipun penulis juga bukan manusia yang bersih dari dosa). Jika Anda seorang pebisnis, ciptakan iklim bisnis yang kondusif, transaksi yang bersih dan tidak curang. Artinya, Anda telah menyampaikan ke liyan bahwa kejujuran adalah kebaikan yang luar biasa. Jika Anda seorang atlet, berlatihlah terus menerus, Anda telah menyampaikan bahwa konsistensi (istiqamah) adalah tuntunan agama yang bijaksana. Jika Anda seorang agamawan, sampaikan ayat yang Anda kuasai, lalu aplikasikan, berikan teladan. Jangan lupa juga belajar dari guru, bukan medsos ya. Lalu, jika Anda mengaku remah-remah semesta, apa yang bisa Anda sampaikan? Setidaknya itu lebih baik, bahwa Anda menyampaikan pesan kebaikan soal kerendahan hati. Itu pun jika Anda tidak bermaksud menjegal lawan bicara sebelum bertanding. Dan masih banyak contoh yang lainnya.

Dari itu semua, begitu beruntungnya semesta jika Anda berkenan untuk berbicara, membagi kekayaan pengalaman Anda kepada banyak manusia di belahan dinding ruang kehidupan yang lainnya, jauh lebih dari itu adalah menjadi inspirasi. Orang-orang dengan kapasitas keilmuan yang cakap dan otoritas bicara di ruang publik, sudah saatnya mengambil peran, tampil ke depan, muncul ke permukaan. Kita tinggalkan penafsiran gaya lama soal tawadhu yang menghegemoni pola pikir manusia amatiran menuju pola pikir baru. Justru, kita (yang punya kebisaan ini dan itu) akan tidak tawadhu ketika kita melakukan pembiaran terhadap anak-anak yang sangat prematur berbicara soal ilmu A, topik B, materi C, lebih-lebih soal agama. Kita justru akan sangat zalim karena kita tidak menempatkan diri kita yang punya A, B, dan C ini di mimbar-mimbar terdepan keumatan.

Akhirnya, keputusan ada di Anda; memilih untuk mengambil peran atau tidak sama sekali. Anda boleh berpikir ini tulisan apasih, Anda juga boleh abai, toh juga tidak begitu penting dan tidak berpengaruh nyata pada kehidupan Anda, apalagi tulisan ini tidak membuat perut Anda kenyang. Yang tidak boleh Anda lakukan adalah enggan follow akun Instagram saya di @ainurrofiqin. Hehe... Hmm kepuasan rendahan. Baik, lupakan. Minimal, ini kegusaran yang saya alami sekian purnama ini, bisa jadi lebih lega ketika saya menuliskan ini kepada teman-teman semuanya. Semoga berkenan, dan semoga saja tersampaikan, kemudian teman-teman rela untuk mengambil peran. Tidak ada waktu yang sempat, yang ada adalah kita berkenan menyempatkan waktu, untuk mengambil peran. Jangan terjebak pada kata pepatah; “sing waras ngalah”. Jika yang waras mengalah, yang gila akan maju. Anda sebagai orang waras, harus maju, lagi-lagi untuk mengambil peran.

Sekian tulisan saya. Semoga bisa menjadi refleksi bersama.

Moh. Ainurrofiqin Activist. Writer. Speaker. Traveler. Researcher. Ambassador. Santri. Interested in millennials, literacy, social media, and you.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini