Anak Muda Indonesia Pengawal Narasi Perdamaian

Anak Muda Indonesia Pengawal Narasi Perdamaian
info gambar utama

Anak-anak muda generasi milenial kini tengah dilirik para tetua dikarenakan peran mereka sebagai penerus di masa mendatang. Di tingkat negara dan pemerintahan sendiri, sudah banyak program yang digelontorkan untuk memberdayakan lebih lanjut anak-anak generasi milenial tersebut. Apalagi, di era teknologi yang serba canggih ini, tentu anak-anak muda yang diharapkan menjadi andalan para tetua.

Era teknologi yang serba cepat, serba canggih dan seakan tidak memiliki batas ruang dan waktu, serta batas antara pribadi dan publik, menjadi dua mata pisau bagi keberlangsungan hidup bernegara, khususnya.

Tingkat pemanfaatan diiringi dengan tingkat penyalahgunaan. Penipuan, penculikkan, perudungan hingga penyebaran berita-berita palsu menyelimuti manfaat baik dan mulia teknologi komunikasi dan digital saat ini.

Pada salah satu sesi bincang Millennial Peace Festival 2018 yang diadakan oleh Global Peace Foundation (GPF) yang bekerja sama dengan Convey Indonesia di Universitas Gunadarma Karawaci, dijelaskan mengenai keamanan dan kebijakan dalam bersosial media dan menggunakan internet.

Keamanan dalam berselancar di dunia digital, khususnya di media sosial, sangat penting terkait dengan penyebaran berita-berita palsu, atau familiar disebut hoax. Demikian yang disampaikan oleh narasumber dari Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) pada Sabtu (29/09) kemarin.

Kira-kira adakah kaitan antara keamanan dalam bersosial media dengan kegiatan radikalisme dan ekstremisme? Ada. Banyak data yang tersebar di publik yang bisa disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggungjawab yang dipakai untuk bahan provokasi. Fenomena persekusi merupakan salah satu contohnya.

Sebagai generasi yang paling banyak terpapar dengan kemajuan teknologi, anak-anak muda harus menyadari dan mengetahui permasalahan pentingnya keamanan di sosial media, yang mengharuskan kita untuk bijak dalam pemakaiannya, baik ketika berkaitan dengan data pribadi mau pun berhubungan dengan orang lain.

Kemampuan membaca dan menerima informasi di dunia digital juga sangat diperlukan oleh anak-anak muda dalam rangka menciptakan atmosfer interaksi di media sosial, khususnya, yang nyaman dan tidak provokatif.

Ada hal-hal yang harus diperhatikan dalam melihat apakah suatu informasi merupakan berita palsu atau bukan.

Pertama adalah cek alamat situs, ada nama penanggung jawab situs dan sebagainya. Selanjutnya adalah cek visual. Perhatikan pula bahwa ada situs yang sering meniru-niri situs aslinya. Cek pula bahwa semua situs media harus berbadan hukum.

Penulisan dengan kaidah jurnalistik dan berdasarkan fakta sangat penting dan harus diperhatikan. Waspada dengan judul-judul sensasional. Bandingkan pula dengan informasi dari situs lain.

Anak-anak muda harus dapat memverifikasi data sendiri informasi-informasi yang ada, menjadi pasukan terdepan dalam mengawal perdamaian dan toleransi kehidupan berbangsa.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini