Inilah pesawat pertama yang dibangun di Indonesia. WEL-1 namanya. Dia sebenarnya tergolong pesawat swayasa (home build), sebagai tahapan berikutnya dari usaha uji coba membuat pesawat secara mandiri, sekaligus untuk memperkenalkan teknologi dirgantara ke masyarakat Indonesia yang baru saja meraih kemerdekaan.  

WEL (Wiweko Experimental Lightplane)-1 adalah pesawat kelas sangat ringan (ultralight), berawak satu orang, kokpit terbuka, dan bersayap tunggal tinggi (high wing monoplane) dengan bertumpu pada penguat sehingga disebut juga sayap payung (parasol).

Opsir Udara III Wiweko Soepono sedang memeriksa mesin sepeda motor Harley Davidson 750 cc dua silinder untuk dipasang pada WEL-1. | TNI AU
Opsir Udara III Wiweko Soepono sedang memeriksa mesin sepeda motor Harley Davidson 750 cc dua silinder untuk dipasang pada WEL-1. | TNI AU

Setelah Biro Rencana dan Konstruksi AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) sukses membangun enam unit pesawat layang (glider) NWG-1, produksi selanjutnya adalah pesawat ringan bermesin. Karena anggaran sangat minim, desainnya harus sederhana, harus bisa memanfaatkan suku cadang dan bahan yang tersedia.

Proses pembuatan WEL-1 yang hampir jadi. Tampak pada bagian ekor pesawat sudah tertera registrasi RI-X (eXperimental).
Proses pembuatan WEL-1 yang hampir jadi. Tampak pada bagian ekor pesawat sudah tertera registrasi RI-X (eXperimental).

Di bawah pimpinan Opsir Udara III (Kapten) Wiweko Supono, pesawat bermesin Harley Davidson 2 Silinder model tahun 1928 dengan kekuatan 15 daya kuda itu, selesai dibuat tahun 1948. Tipe pesawat mirip WEL-1 bersayap parasol ini sempat tren pada tahun 1920-an di Amerika Serikat. Contoh yang terkenal adalah Heath Parasol. Desain sayap payung memudahkan dalam penyimpanan. Cukup melepas sayap, pesawat dapat disimpan di gudang atau garasi rumah. Desain sayap dan badan (termasuk ekor) dirancang dapat dibangun secara mudah dan terpisah. Karena bersifat swayasa, motor penggerak dapat mengadopsi dari mesin otomotif, selama memenuhi persyaratan : ringan dan cukup tenaganya.

Pembuatan rangka pesawat WEL-1 oleh teknisi dari Bengkel Teknik Udara Maospati, Madiun, ditambah dengan bantuan dari masyarakat setempat.
Pembuatan rangka pesawat WEL-1 oleh teknisi dari Bengkel Teknik Udara Maospati, Madiun, ditambah dengan bantuan dari masyarakat setempat.

Pada tahun 1948 dengan lama pembuatan kurang lebih lima bulan, WEL-1 diselesaikan di salah satu hanggar di Maospati dengan bantuan teknisi dari Bengkel Teknik Udara dan masyarakat setempat. Motornya menggunakan mesin sepeda motor Harley Davidson 750 cc buatan tahun 1928 yang menghasilkan tenaga 20 tk. Bahan dan suku cadangnya mengandalkan material yang tersedia. Selain komponen otomotif pada mesin, roda WEL-1 menggunakan roda motor skuter.

Setelah selesai pesawat ini diuji coba oleh tes pilot, Suhanda, bekas pilot Jepang yang membelot membantu AURI sekaligus sebelumnya pernah menguji pesawat pembom Bristol Blenheim bermesin buatan Jepang, Sakai. Pesawat ini terbang dengan mulusnya dan oleh AURI, WEL-1 diberi registrasi RI-X.

Di awal Oktober ini, pesawat mesin pertama buatan RI ini dipamerkan kepada publik dalam acara Kustomfest 2018.  

Di Kustomfest 2018 | gridoto.com
Di Kustomfest 2018 | gridoto.com

Salah satu alasan pesawat turut dihadirkan dalam acara ini merupakan wujud kepedulian dan pelestarian warisan sejarah Bangsa Indonesia dari Kustomfest. "Pesawat tersebut adalah simbol spirit, sebuah spirit anak bangsa dalam berkarya, meski di tengah berbagai kesulitan dan keterbatasan" ungkap Lulut Wahyudi, Director Kustomfest dalam konferensi pers. "Hal inilah yang mendorong Lulut untuk memboyong RI-X WEL-1 dari Museum 

"Di tengah kemudahan kita mengakses informasi dan data, harusnya kita (anak muda) lebih berkarya," pesan Lulut. Ia juga menekankan kalau, pesawat ini hanyalah sebuah penanda atau prasasti akan keteladanan para pendahulu.

Sebelum dibawa ke ajang Kustomfest, RI-X WEL-1 ini sempat mendapat restorasi di wokrshop Retro Classic Cycles.

 Sumber : aviahistoria.com | Gridoto.com

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu