Ini Dia Busana Tradisional Betawi yang Melintasi Zaman!

Ini Dia Busana Tradisional Betawi yang Melintasi Zaman!
info gambar utama

Kawan GNFI pasti mengangguk tanda setuju, bahwa segala sesuatu yang tradisional pastinya tidak lagi dianggap kuno pun kaku, kan? Bahkan hal-hal yang bersifat tradisional kini dapat diolah kembali untuk kemudian menjadi sesuatu yang lebih baru, kreatif, aktual, dan luwes. Salah satunya busana tradisional yakni kebaya.

Seorang antropog yakni Dyah Wara, dalam Historia, menyampaikan bahwa busana tradisional dalam kaitannya tidak selalu ajeg. Ia mampu mengalami ubah-suai motif dan penggunaan yang ada seiring kondisi zaman. Hal tersebut turut terjadi pada perkembangan kebaya encim, busana tradisional khas Betawi.

Kebaya Encim yang Turut Digunakan Oleh Abang None | Sumber dok: Okezone Lifestyle
info gambar

Diketahui bahwa kebaya encim mulanya muncul sebagai bentuk akulturasi empat kebudayaan yakni Betawi, Melayu, Tionghoa, dan Belanda di abad ke-19. Kebaya encim pun mulanya memiliki sebutan asli yakni kebaya nyonya. Sebutan nyonya sendiri mengacu pada penggunanya, para nyonya besar dari kalangan atas, baik penduduk tempatan maupun Belanda.

Kebaya nyonya juga memiliki bentuk khas yang membuatnya terlihat unik. Di bagian pinggang hingga ke paha terdapat blus dengan sudut melancip dan agak sedikit landai pada bagian belakang. Kerahnya sendiri menyerupai huruf V. Tak hanya itu, terdapat pula renda-renda yang bertengger di sejumlah bagian kebaya, yang tentunya memberikan kesan elegan pada busana tersebut.

Bagi sebagian besar perempuan tempatan, diakui bahwa harga kebaya nyonya cukup mahal. Sebab pemakaiannya pun juga terbatas, hanya pada peristiwa penting atau hari raya.

Kebaya Encim yang Saat Ini Sering Digunakan Oleh Anak Muda | Sumber dok: Beritasatu.com
info gambar

Lambat laun, perempuan Tionghoa ikut masuk dan berperan dalam memassalkan penggunaan kebaya nyonya. Kondisi tersebut turut mengubah harga kebaya menjadi lebih terjangkau. Namanya pun juga berubah menjadi kebaya encim. Encim sendiri berasal dari bahasa Hokkian dan kemudian istilah tersebut terus digunakan untuk menyebut kebaya jenis ini sampai sekarang.

Di sisi lain, perempuan Tionghoa turut mengkreasi ulang warna dan motif kebaya yang ada. Mereka menghindari warna putih, sebab bagi mereka warna putih bermakna duka. Mereka justru menggantinya dengan warna merah dan emas, yang menurut mereka merupakan lambang keberuntungan juga simbol kejayaan. Motif khas Tionghoa layaknya burung Phoenix dan Merak turut hadir untuk memperkaya paduan kebaya tersebut.

Waktu berlalu, hadirnya kebaya encim tak lagi hanya sebatas muncul di acara-acara tertentu layaknya upacara resmi dan hari raya, tetapi juga hadir dalam keseharian masyarakatnya. Bahkan saat ini banyak anak muda yang mengenakan kebaya encim untuk digunakan sehari-hari. Kebaya encim pun bisa dipadukan dengan sepatu sneakers yang membuatnya terlihat lebih menarik.


Sumber: Historia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini