Setiap kota di Indonesia memiliki lambang masing-masing. Lambang tersebut disesuaikan dengan ciri khas kota tersebut, seperti kondisi geografis, sejarahnya, hewan asli kota tersebut, dan lain-lain yang sesuai atau merepresentasikan kota itu sendiri.

Lambang kota sebenarnya sudah ada sejak jaman Indonesia belum merdeka atau Hindia Belanda, saat itu lambang kota dibuat sangat spesial dan bahkan terlihat seperti lambang-lambang kerajaan di Eropa, kemungkinan karena masih menggunakan gaya khas belanda. Berikut adalah beberapa lambang kota pada masa Hindia Belanda.

sumber : Arsip Perpusnas
sumber : Arsip Perpusnas

Lambang Batavia bisa dibilang lambang yang paling tua. Bentuk dasarnya sudah ada sejak masa JP Coen. Sebilah pedang menembus mahkota daun salam banyak diartikan sebuah lambang kemenangan. Namun, mengutip L. Blussé (1988), lambang ini juga kerap dibaca sebagai pertanda terjadinya pembantaian Tionghoa pada tahun 1740.

Lambang Semarang adalah sebuah hadiah dari Komjen LPJ Du Bus de Gisignies (1827) untuk menghormati pasukan dan sukarelawan kota yang gugur dalam Perang Jawa. Sosok maagd (perawan) berdiri memegang jangkar di kiri, kepala singa di kanan. Maagd adalah sebuah penggambaran Belanda serta koloninya, sedangkan singa adalah simbol raja.

Lambang Surabaya sepertinya sangat mudah dipahami, tidak jauh dari legenda pergelutan antara sura dan baya. Menurut J. Hageman Jcz dalam artikel di Indisch Archief, Vol I 1849 menuliskan: meski kebenarannya diragukan, namun hampir mustahil untuk mengubah lambang Surabaya, sebab sudah amat dikenali.

sumber : Arsip Perpusnas
sumber : Arsip Perpusnas

Makassar adalah kota kedua setelah Batavia yang miliki lambang kota. Konon Cornelis Speelman sendiri yang menciptakan begitu menaklukkan kota pada tahun 1667. Penguasaan Makassar dilambangkan lewat pohon kelapa yang tertusuk pedang perak. Dalam bahasa Belanda, pedang juga berarti satria.

Lambang kota Cirebon direpresentasikan dengan tiga udang. Hal ini melihat pada asal nama Cirebon sendiri, yaitu sungai yang kaya udang. Sementara bintang segilima melambangkan kemajuan. Lambang kota ini dipakai sejak tahun 1930.

Lambang kota Banyuwangi tidak jauh dari legenda yang menyelimuti kota tersebut. Dibuat berdasar asal mula kota, yakni seorang istri yang dibunuh karena tuduhan selingkuh, namun tubuhnya malah menyebar wangi saat dilempar ke sungai. Pedang dalam lambang tersebut maksudnya adalah keris, namun tidak pernah diperbaiki atau diubah.

--

Sumber : arsip perpustakaan nasional, @potretlawas (twitter)

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu