Desa Kopi Wonogiri, Seperti Apa?

Desa Kopi Wonogiri, Seperti Apa?

Seorang petani memeriksa kematangan buah kopi, yang juga disebut buah beri © Foto: Ganug Nugroho Adi / Jakarta Post

Ribuan orang mengantri di warung kopi Giri Krida Bakti Square di Wonogiri, Jawa Tengah, menjelang Hari Kopi Sedunia, yang jatuh pada 1 Oktober yang lalu. Mereka menghadiri acara "Wonogiri Nduwe Kopi" (Wonogiri Punya Kopi) untuk nikmati kopi gratis Wonogiri.

Dikutip dari Jakarta Post, Yosef Bagus Adi dari panitia penyelenggara acara mengatakan: “Antusiasme masyarakat luar biasa. Ternyata ada banyak pencinta kopi, meski tidak banyak kedai kopi di sini. ”

Apa yang dikatakan Yosef adalah kenyataan yang benar. Ironisnya, Wonogiri memiliki sangat sedikit kedai kopi, meskipun Wonogiri, yang terletak di sebelah selatan Surakarta, adalah produsen kopi terkemuka. Di antara varian terkenal yang tumbuh di daerah ini adalah Arabica Conto, Robusta Brenggolo, dan Robusta Semagar. Varian kopi ini sangat laris di banyak kedai kopi di Surakarta dan Yogyakarta.

 Warga Wonogiri menikmati kopi gratis di acara peresmian
Warga Wonogiri menikmati kopi gratis di acara peresmian "Wonogiri Nduwe Kopi" pada 30 September di Giri Krida Bakti Square di Wonogiri, Jawa Tengah | Foto: Ganug Nugroho Adi / Jakarta Post

“Industri kopi Wonogiri menjadi sangat populer dalam dua tahun terakhir. Kami lebih percaya diri sekarang, karena produk lokal mulai mendapatkan [popularitas] di kedai kopi lokal, ”kata Bagus.

Seribu cangkir kopi gratis dibagikan selama acara tersebut, yang diadakan untuk memperkenalkan kopi Wonogiri sebagai kebanggaan lokal, memamerkan produk kopi terbaik Wonogiri.

Selama lima tahun terakhir, Kabupaten Wonogiri telah mendorong para petani untuk mengembangkan tanaman kopi mereka. Petani lokal sebelumnya telah membudidayakan kopi sendiri, tanpa bimbingan atau pelatihan apa pun.

Sular, petani kopi dari desa Conto di Bulukerto, Wonogiri berkata, “Tidak hanya saya. Pada awalnya, petani membiarkan pohon kopi tumbuh tinggi. Dan kemudian mereka memanen dan menjual [bijinya] ke pasar. ”

Sular adalah salah satu orang pertama yang meninjau kembali bagaimana dia menanam, memanen dan memproses kopi.

 Komunitas Kopi Wonogiri mengadakan diskusi panel untuk memperingati Hari Kopi Sedunia pada 1 Oktober di Wonogiri, Jawa Tengah |
Komunitas Kopi Wonogiri mengadakan diskusi panel untuk memperingati Hari Kopi Sedunia pada 1 Oktober di Wonogiri, Jawa Tengah | Foto: Ganug Nugroho Adi / Jakarta Post

“Semuanya berawal ketika saya mencicipi secangkir kopi yang luar biasa. Itu kopi Bulukerto. Saya tidak percaya, dan saat itulah saya memutuskan untuk serius menanam kopi, ”tambahnya.

Sular telah menjadi petani kopi sejak tahun 1990, tetapi baru mulai menerapkan teknik budidaya dan pengolahan dalam tiga tahun terakhir. Saat ini ia menanam 200 tanaman kopi di perkebunan seluas 2 hektar.

“Saya masih menanam kopi saya menggunakan panen ganda, di antara sayuran dan tembakau. Saya belum punya [kebun] kopi saya sendiri, ”katanya.

Sular, petani kopi yang membantu menghidupkan kembali penanaman kopi di Kabupaten Bulukerto, Wonogiri, menyortir biji kopi kering di ladangnya di desa Conto, Bulukerto |
Sular, petani kopi yang membantu menghidupkan kembali penanaman kopi di Kabupaten Bulukerto, Wonogiri, menyortir biji kopi kering di ladangnya di desa Conto, Bulukerto | Foto: Ganug Nugroho Adi / Jakarta Post

Sular mengatakan bahwa satu tanaman kopi dapat menghasilkan sekitar 15 kilogram buah kopi per panen. Dia sangat selektif dalam memanennya, dan hanya mengambil biji kopi yang matang. Dia juga memproses kopinya sendiri, mengeluarkan kulit dan ampasnya, lalu mengeringkan dan memanggang kacang.

“Pada tahun 2017, harga jual hanya Rp 30.000 per kilogram. Hari ini Rp. 60.000, dan ini karena [kopi saya] diproses dengan benar mulai dari panen hingga ke tempat produksi untuk [kopi instan],” katanya.

Wakil Bupati Wonogiri Edy Santosa mengatakan bahwa kopi Wonogiri memiliki potensi untuk dipasarkan secara nasional. Petani kopi juga muncul di daerah lain di luar kabupaten Bulukerto, di Girimarto, dan Jatisrono. Para petani di kedua kabupaten tersebut telah datang dengan beberapa produk kopi seperti Kowi (Kopi Wonogiri, Wiji, Brenggolo dan Ndomblong.

“Ada 20 petani kopi di Bulukerto dan 15 di Girimarto yang menanam kopi Arabika dan Robusta,” kata Edy.

Kabupaten Wonogiri, menurut Edy, juga berencana untuk mengembangkan pariwisata kopi dengan mendirikan desa kopi di Bulukerto, Girimarto dan Jatistrono. Ribuan tanaman kopi tumbuh di daerah tersebut, semua ditanam dan dipelihara oleh sekitar 200 petani kopi.

“Kami akan menggabungkannya dengan ekowisata dan mengajak wisatawan untuk melihat bagaimana kopi diproses. Ini akan menjadi program yang menarik bagi wisatawan, ”tambahnya.

Sumber: Jakarta Post

Pilih BanggaBangga80%
Pilih SedihSedih13%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi7%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

12 Agenda Bali Fintech Sebelummnya

12 Agenda Bali Fintech

Walikota Risma Raih Penghargaan di Singapura Selanjutnya

Walikota Risma Raih Penghargaan di Singapura

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.