Malang Akan Punya Museum Al Quran 4 Dimensi

Malang Akan Punya Museum Al Quran 4 Dimensi
info gambar utama

Pemerintah Kota Malang akan membangun museum Al-Quran berbasis teknologi 4 dimensi atau 4D, yang akan diintegrasikan dengan Islamic Centre Kota Malang.

Berbicara museum, di museum ini tidak akan menyuguhkan berbagai Al-Quran berukuran kecil hingga besar namun akan dibuat 4 dimensi seperti yang ada di Dubai, seperti disebutkan oleh Sutiaji selaku Walikota Malang.

Museum Etihad, Dubai | Sumber: The National
Museum Etihad, Dubai | Sumber: The National

"Museum tidak akan [menampilkan] Quran dari ukuran kecil hingga besar; kami akan mendesainnya seperti yang ada di Dubai," ucap Sutiaji di Malang, Jawa Timur, pada 6 Oktober seperti dikutip dari Antara.

Museum ini akan menampilkan visualisasi dari konten Al-Quran. Sutiaji juga mengatakan bahwa kombinasi Museum Al Quran 4D dan Islamic Centre Kota Malang akan menawarkan konsep yang sangat unik dan menarik yang diharapkan dapat memikat wisatawan domestik maupun asing.

Dia menambahkan bahwa inisiatif tersebut bertujuan untuk mempopulerkan tujuan karena banyak Islamic Centre di daerah lain yang tidak terlalu populer di kalangan wisatawan. Selanjutnya, kota Malang sudah siap untuk menyatakan diri sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia.

Pintu masuk pameran mengenai Nabi Muhammad di Dubai | Sumber: The National
Pintu masuk pameran mengenai Nabi Muhammad di Dubai | Sumber: The National

Islamic Centre Kota Malang rencananya akan dibangun di Jl. Mayjen Sungkono di Kecamatan Arjowinangun, Kabupaten Kedungkandang. Bersama dengan pembangunan museum Al-Quran, kedua bangunan itu akan dibangun di atas lahan seluas 5,65 hektar dengan biaya pengembangan diperkirakan sekitar Rp 450 miliar.

Pembangunan Museum Al Quran tersebut dicantumkan dalam rancangan awal Rencana Jangka Menengah Daerah Kota Malang 2019-2023, yang merupakan penjabaran dari visi dan misi kepala daerah terpilih.

Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi jarwoko mengatakan konsep pembangunan yang ada di Kota Malang diarahkan dengan karakter titik destinasi. "Konsep pembangunan diarahkan pada konsep pembangunan yang berkarakter destination point. Jadi kalau membangun Islamic Center tanpa ada karakter destination point, akan mangkrak dan tidak banyak pengunjung," ujarnya.

Sumber: Tempo.co | Jakarta Post

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini