Mugejeg: Pameran Foto Unik yang Mengkampanyekan Anti Penebangan Liar

Mugejeg: Pameran Foto Unik yang Mengkampanyekan Anti Penebangan Liar
info gambar utama

Many photographers rely on printed photographs to display their works. For Aditya “Ditto” Birawa's debut solo exhibition, however, augmented reality technology is the medium of choice.

Kebanyakan fotografer mengandalkan foto yang dicetak untuk menampilkan karya mereka. Berbeda untuk pameran solo perdana Aditya "Ditto" Birawa, teknologi augmented reality adalah medium yang dipilih.

Salah satu foto yang diambil oleh Ditto di Mentawai | Foto: Ditto Birawa
info gambar

Pameran, Mugejeg (kata Mentawai untuk "bepergian"), berlangsung dari 14 hingga 27 Oktober di Galeri Foto Paramata di Tebet, Jakarta Selatan. Mugejeg menampilkan 22 karya Ditto yang berasal dari petualangannya di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, yang ia bolak-balik kunjungi dalam periode waktu 2013 hingga 2016.

“Saya menggunakan teknologi ini karena efektif, efisien, dan memiliki biaya mobilitas yang lebih rendah,” kata Ditto dikutip dari Jakarta Post.

Proses tradisional pembuatan tato di Mentawai | Foto: Ditto Birawa
info gambar

Untuk memasuki tempat pameran, pengunjung diminta untuk memiliki aplikasi seluler Picta untuk memindai kode QR yang disediakan. Setelah memindai, pengunjung dapat melihat foto dan keterangannya di smartphone mereka. Aplikasi Picta yang telah disesuaikan dikembangkan oleh empat orang, termasuk Ditto. Aplikasi ini tersedia di Google Play Store dan saat ini sedang menunggu persetujuan dari Apple AppStore.

Cara tidak biasa Ditto dalam menampilkan karya-karyanya dapat membuat yang mendengar mengernyitkan alis, terutama dari fotografer lain. “Fotografi [...] dapat disajikan menggunakan proyektor, selembar kertas atau ponsel pintar. Pada intinya, itu masih sebuah foto,” katanya, menambahkan bahwa memilih menggunakan tanpa kertas adalah bagian dari kampanyenya untuk memerangi penebangan liar, terutama di Mentawai.

Foto: Ditto Birawa
info gambar

Ketertarikan Ditto dengan Mentawai tumbuh setelah ia mempelajari bahwa suku Mentawai - yang merupakan salah satu suku yang tertua di negara ini- sangat berpegang pada cara hidup tradisional meskipun ditempa kehadiran era modern. "Mereka memakai pakaian, tetapi rumah mereka tidak memiliki listrik dan tidak ada sinyal ponsel," kata Ditto. “Mereka memelihara babi di bawah rumah mereka, makan sagu, dan mandi di sungai.”

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Untuk sampai di Mentawai tidaklah mudah. Pengunjung perlu melakukan perjalanan dari Sumatra Barat menggunakan feri atau speedboat. Dibutuhkan empat sampai 10 jam untuk mencapai pulau-pulau, tergantung pada cuaca. “Waktunya harus tepat. Sulit bagi kapal untuk berlayar di musim kemarau, tetapi juga tidak mungkin untuk berlayar selama musim hujan karena banjir,” jelas Ditto.

Setelah mendarat di Pulau Siberut, bagian dari Kepulauan Mentawai, Ditto harus berjalan kaki sejauh 60 kilometer untuk mencapai uma terdekat (rumah tradisional Mentawai), dimana satu keluarga tinggal. Ditto telah melakukan perjalanan ke Mentawai sebanyak empat kali, dengan durasi menginap yang tidak pernah lebih dari 14 hari.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Ditto mengatakan bahwa meskipun mudah untuk menjalin ikatan dengan anggota suku Mentawai, dia menyarankan agar para pengunjung menyewa seorang pemandu. “Mereka sangat hangat dan ramah terhadap wisatawan, tetapi mereka tidak dapat berbicara bahasa Indonesia,” kata Ditto. “Saya tinggal di bawah atap yang sama dengan mereka untuk memahami perasaan mereka. Saya juga bergabung dengan mereka dalam berburu untuk makan malam, berlayar dengan perahu dan memasuki hutan.”

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Ditto mengatakan dia ingin mempelajari lebih dalam mengenai tato Mentawai untuk proyek yang akan datang dan melakukan perjalanan ke kabupaten Merauke di Papua, Maluku, dan Timor di Nusa Tenggara Timur. Dia berencana untuk mendokumentasikan perjalanannya, termasuk saat ia di Mentawai, dalam sebuah buku berisi tentang Indonesia.

Sumber: Jakarta Post

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini