Dengan Kaki Palsu, Mengukir Prestasi di Asian Para Games 2018

Dengan Kaki Palsu, Mengukir Prestasi di Asian Para Games 2018
info gambar utama

Anda masih terkagum-kagum dengan Asian Para Games yang telah berakhir pada tanggal 16 Oktober 2018? Perhelatan Internasional yang baru sekali diadakan di Indonesia ini, memang berhasil memancing minat banyak penonton dan menggugah semangat orang Indonesia. Walau awalnya sempat sepi untuk cabang olahraga tertentu, tapi animo masyarakat untuk memeriahkan acara ini semakin meningkat terbukti dari ludesnya tiket untuk beberapa cabang olahraga terutama tiket Upacara Penutupan.

Gelaran olahraga ini juga telah mengubah pandangan masyarakat tentang orang difabel. Mereka memang mempunyai kekurangan fisik, tapi disabilitas tidak membuat mereka lemah tidak berdaya dan minta dikasihani. Orang-orang dengan disabilitas mestinya diberikan kesempatan dan fasilitas agar tetap bisa berkarya. Panitia penyelenggara Asian Para Games berhasil menyampaikan pesan positif dengan baik. Pesan ini dikemas secara menarik dimulai dari ‘teaser’ pada iklan di sejumlah media sebelum acara ini dimulai. Pesan ini kemudian mencapai puncaknya saat Pesta Pembukaan Asian Para Games sehingga lebih tertancap ke benak penonton.

Saya tersentuh saat menonton adegan Bulan, anak perempuan kecil yang masuk ke arena dengan kursi roda memanggil Presiden. Bulan kemudian menunjukkan kotak berisi kata 'Ability'. Adegan acara pembukaan sangat dramatis dan berhasil membuat saya terharu. Rasanya bukan saya saja yang tersentuh sekaligus bangga, tapi para penonton di Istora Senayan pun bergemuruh. Presiden bersama atlet memanah dan Bulan mengarahkan anak panah ke tulisan ‘Disability’. Huruf d, i dan s pada awalan kata 'disability' hancur berkeping-keping saat ketiga anak panah berhasil mengenai sasaran.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Sumber gambar: Liputan.co.id

Ada beberapa orang hebat yang tidak menyerah dan tidak menjadikan ‘kekurangan’ badan/ panca indra sebagai halangan. Di Asian Para Games ini, ada beberapa atlet nasional yang tetap berlaga meskipun memakai kaki palsu, di antaranya Ninik Mardiani (atlet panahan) dan Muhammad Fadli (atlet paracycling) untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah olahraga internasional.

Kisah Fadli sangat menginspirasi tidak hanya bagi orang yang difabel tapi juga bagi kita yang tidak kekurangan apa pun. Sebagaimana diceritakan di situs Bola.Com, Sebelum memakai kaki palsu sebagai alat bantu jalan, Fadli adalah atlet balap motor. Berbagai gelar prestisius telah diraihnya selama berkiprah di lintasan, antara lain medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2004, hingga juara nasional kelas Supersport 600cc 2010, 2011, dan 2013. Kecelakaan yang terjadi di tahun 2015 telah mengubah hidupnya. Motor yang dikendarai Fadli ditabrak oleh pembalap Thailand saat mengikuti Kejuaraan tingkat Asia di Sentul. Fadli terpaksa harus diamputasi setahun setelah kecelakaan yang merenggut kaki kirinya.

Tentu saja Fadli terpuruk. Dia membutuhkan waktu cukup lama untuk bangkit. Fadli memilih tidak menyerah pada keadaaan.

Dibantu dengan kaki palsu yang membuatnya nyaman dan aman berolahraga, Fadli memberanikan diri bersepeda. Karena semangat yang tetap menyala dan rajin berlatih, Fadli akhirnya diajak bergabung menjadi atlet sepeda paralimpik dari Ketua Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI), Raja Sapta Oktohari. Fadli pun tidak pikir panjang menerima ajakan tersebut. Prestasi yang diraih Fadli antara lain adalah meraih emas untuk Indonesia ketika bertanding pada nomor individual putra C4 4.000 meter, di Jakarta International Velodrome.

"Saya mendapat hikmah dari semua peristiwa yang saya alami. Allah SWT. kasih cobaan untuk saya pada 2015, untuk mempersiapkan diri mengikuti balap sepeda Asian Para Games. Saya sangat bersyukur atas nikmat ini," ujar Fadli. Jika Fadli memutuskan tidak menyerah dengan keterbatasannya, bagaimana dengan Anda? Apakah saat ini Anda baru saja menggunakan kaki palsu dan masih bertanya-tanya mengapa Anda harus mengalami hal tersebut? Belajar dari Fadli, mari memulai kembali! Kesuksesan Anda melaluinya hanya dibatasi oleh seberapa besar tekad Anda untuk mencapainya!

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini