12 Penulis Indonesia Siap Berkumpul di London Book Fair 2019!

12 Penulis Indonesia Siap Berkumpul di London Book Fair 2019!
info gambar utama

Setelah sebelumnya sukses sebagai Guest of Honour di ajang Frankfurt Book Fair tahun 2015, kali ini Indonesia kembali menjadi sorotan dalam kegiatan perbukuan internasional. Tepatnya tahun depan, pada penyelenggaraan London Book Fair 12 – 14 Maret 2019 di London, Inggris, Indonesia terpilih menjadi Market Focus Country. Menariknya, Indonesia menjadi negara Asia Tenggara pertama yang mendapat kesempatan ini.

Dilansir melalui CNN Indonesia, diketahui bahwa Komite Nasional Pelaksana Persiapan Market Focus Country London Book Fair 2019 yang dibentuk oleh Badan Ekonomi Kreatif dengan dukungan Kemendikbud, telah menyiapkan sejumlah program yang merefleksikan tema yang diusung yakni 17.000 Island of Imaginations.

Bekerja sama dengan British Library, disampaikan bahwa panitia bersiap mendigitalisasi sekitar 75 manuskrip Jawa dari Keraton Jogjakarta. Tak hanya itu, sejumlah program turut disajikan layaknya pembacaan naskah teater Indonesia yang bekerja sama dengan Departement of Drama, Royal Holloway, University of London; pembuatan zine yang bekerja sama dengan UK-Indonesian Muslim Women Exchange Project, juga pameran buku-buku komik Indonesia.

Selain itu, salah satu hal yang paling ditunggu dari program ini ialah hadirnya 12 nama penulis Indonesia yang turut tampil di gelaran London Book Fair 2019. Semalam (25/10), setelah melalui proses seleksi yang panjang akhirnya diumumkan keduabelas nama penulis. Ialah Agustinus Wibowo, Clara Ng, Dewi Lestari, Faisal Oddang, Intan Paramaditha, Laksmi Pamuntjak, Leila S. Chudori, Nirwan Dewanto, Norman Erikson Pasaribu, Reda Gaudiamo, Seno Gumira Ajidarma, dan Sheila Rooswitha Putri.

Pengumuman Keduabelas Nama Penulis Disampaikan di Ubud Writers & Readers Festival | Sumber dok: CNN Indonesia
Pengumuman Keduabelas Nama Penulis Disampaikan di Ubud Writers & Readers Festival | Sumber dok: CNN Indonesia

Terpilihnya kedua belas nama tersebut tentunya melalui banyak faktor pertimbangan yakni melalui segi kualitas karya, produktivitas penulis, dan jumlah karya yang diterjemahkan sampai kefasihan penulis dalam berbicara bahasa Inggris. Tak hanya itu, keduabelas penulis ini juga dianggap mampu mewakili ide-ide keindonesiaan yang tidak melulu terjebak pada tema-tema lama.

Sumber: CNN Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini