Oleh: Ahmad Cholis Hamzah*

 

Tell me something boy

Are you happy in this modern world?

Or do you need more?

Is there something else you are searching for?

I’m falling

In all the good time I find myself longing for change

And in the bad times I fear my self

 

Itu adalah penggalan lagu Shallow yang lagi hit di Amerika Serikat dan di beberapa negara Eropa, dinyanyikan Bradley Cooper dan Lady Gaga di film nya A Star is Born. Lagi itu yang penuh filosofi bertanya pada kita apakah kita bahagia hidup di dunia yang modern ini, apa kita ingin lebih dari itu dan apa yang kita cari di dunia ini.

Memang kita hidup di dunia modern ini segala sesuatunya lebih mudah dengan adanya teknologi digital, artificial intelligent dsb. Pintu dirumah bisa dibuka dengan remote control, mengirim duit dengan android, semua orang bisa berbicara dan berpendapat lewat WA, lewat twitter, facebook. Mencari ilmu apapun dengan mudah lewat google, meng-upload foto-foto diri dan keluarga lewat sosmed, mengucapkan hari Raya dan ulang tahun lewat WA tidak perlu datang kepada orang yang diberi ucapan dsb.

Namun, seperti di lagu diatas, kita pada saat baik dan senang selalu rindu menginginkan perubahan, terutama perubahan positif, ingin melihat anak-anak berhasil, ingin ada kenaikan gaji, ingin hidup tenang saat pensiun, ingin punya rumah sendiri dsb atau bahkan kita ingin lebih (do you need more?). Tapi pada saat susah kita mengalami ketakutan, kekhawatiran dalam hidup ini, kekhawatiran setelah tidak bekerja, kekhawatiran anak sekolah dimana nanti, atau lulus tapi belum dapat pekerjaan, ketakutan tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup yang tidak pernah turun dan banyak lagi kekhawatiran hidup lainnya.

Di dunia modern ini dengan kemajuan teeknologi yang cepat memang kita dimudahkan berkomunikasi dengan orang lain, dengan keluarga dan kerabat; dan kita merasa gembira ketika followers kita di tweeter, facebook mencapai ribuan. Namun itu semua Virtual – yang berarti not physically existing as such but made by software to appear to do so atau dengan kata lain semu, tidak nyata; kita kenyataannya hanya di kamar atau di ruangan atau keramaian tapi sendiri…..hanya dengan HP; berhubungan dengan orang banyak tapi tidak nyata, jadinya hidup kita terasa hampa….pada saat seperti ini kita takut terhadap diri sendiri; karena tidak mempunyai hubungan sosial (social interaction) secara nyata.

Para ilmuwan Harvard University di Amerika Serikat sejak tahun 1938 melakukan penelitian tentang kesehatan dengan kebahagiaan hidup. Dan dewasa ini Professor Robert Waldinger dari Harvard Medical School yang juga melakukan penelitian yang sama menjelaskan bahwa hasil penelitian yang mengejutkan adalah bahwa kualitas hubungan sosial kita berpengaruh terhadap kesehatan dan kebahagiaan kita.

Penelitian itu menemukan bahwa seseorang pada umur 50 tahun yang mempunyai kepuasaan atau kebahagiaan dalam hubungan sosial  ternyata lebih sehat pada umur 80 tahun dibandingkan orang yang tidak memiliki hubungan sosial yang baik pada usia 50 tahun itu. Hubungan sosial itu bisa didalam keluarga, suami istri, dan anak, antar family, dengan kerabat atau dengan alumni sekolah atau perguruan tinggi dsb. Hubungan yang baik dengan sesama, itu melebihi uang dan ketenaran dan itu yang membuat orang itu bahagia sepanjang hidupnya.

Ilustrasi | unsplash.com
Ilustrasi | unsplash.com

Dalam perspektif agama Islam, hubungan sosial itu adalah silaturahim; dan diajarkan bahwa silaturahim itu bisa menambah rizki dan memperpanjang umur. Ajaran agama sejak 1.400 tahun lalu sebelum penelitian Harvard itu dilakukan telah menasihati kita bahwa silaturahim itu penting sebagai bagian dari ibadah; dan silaturahim itu membuat orang bergerak tidak statis (hanya di kamar tidur atau dirumah saja). Almarhumah ibu saya wafat dalam umur 93 tahun, tidak pikun, masih bisa membaca Quran dan Koran, melihat TV dan berrkomentar tentang apa yang dilihatnya, dan masih ingat ketika berbicara tentang sejarah perang dunia II, tetang kudeta di Mesir yang menggulingkan raja Farouk, tentang perang 10 November di Surabaya, tentang bintang film Casanova dsb.

Ternyata memang sejak mudanya rutin melakukan silaturahmi, naik becak atau delman atau anguktan umum kepelosok-pelosok desa dan kampung untuk mengenalkan si A itu sepupu saya, si B itu sahabat Almarhum Abah saya dsb. Karena itu hidup beliau bahagia dan panjang umur; membenarkan ajaran agama dan penelitian Harvard tadi. Saya yakin Dr. Mahathir Muhammad yang pada usia 92 mampu menjadi Perdana Menteri Malaysia juga melakukan hal yang sama.

Mahathir Muhammad | NYT
Mahathir Muhammad | NYT

Karena itu kita maklum kalau jutaan orang setiap tahun bila hari raya Idul Fitri rela berhari-hari antri tiket KA atau pesawat atau Kapal, bahkan bersedia naik motor dari ibukota Jakarta menuju kampung halamannya yang jauhnya ratusan km berpanas-panasan ditengah kemacetan yang lamanya kadang lebih dari 7 jam - hanya untuk melakukan silaturahim secara nyata – bukan silaturahim lewat WA yang semu dengan orang tua dan para kerabatnya.

Lagu Shallow itu benar bertanya pada kita “are you happy in this modern world”, didunia modern yang penuh dengan kemudahan berinteraksi dengan orang lain melalui kemajuan teknologi……tapi tidak nyata, hampa atau Shallow….

Kita sekarang harus sadar, bahwa dengan kemajuan teknologi tidak berarti kita harus memutuskan silaturahim (social relationship; interaction), nilai-nilai luhur agama dan budaya kita untuk bersilaturahim harus tetap dilestarikan kalau tidak ingin hidup kita hampa penuh kesedihan.

 *

Alumni Universitas Airlangga dan

University of London,

Staf Khusus Rektor Unair bidang

Internasional.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu